
"Seorang tamu sedang mencari uncle Emilio untuk berbisnis grandma." Wanita itu segera membetulkan duduknya dengan menurunkan kakinya, begitu mendengar perkataan gadis itu, membuat Deanda sedikit mengernyitkan dahinya tanpa diketahui oleh kedua pemilik rumah itu, karena merasa bahwa apa yang dikatakan oleh Alvero pasti benar. Bahwa ibu dari Emilio itu memang berpura-pura lumpuh untuk menipu banyak pihak asuransi, termasuk menipu Melva agar dapat mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.
Deanda semakin yakin, wanita yang sepertinya adalah ibu Emilio itu benar-benar sedang berpura-pura lumpuh. Karena Deanda bisa melihat bagaimana mudah dan lincahnya wanita itu memindahkan kakinya dari atas sofa untuk turun dari sana.
Aku harus segera menemukan bukti bahwa ibu dari Emilio tidak benar-benar lumpuh agar aku bisa pergi dari sini sebelum Emilio benar-benar datang, dan membuat rencanaku berantakan.
Deanda berkata dalam hati sambil mengambil posisi duduk di sebuah sofa empuk di ruang tamu rumah mewah itu.
"Tunggu dulu nona, aku akan menelpon uncle Emilio." Gadis itu berkata sambil memandang ke arah wanita yang merupakan ibu Emilo itu.
"Nyonya, apa nyonya ibu dari tuan Emilio?" Deanda berkata sambil mengipas-ngipaskan tangannya dengan keras untuk menunjukkan bahwa dia sedang merasa gerah, sehingga tanpa sengaja, salah satu gelang emasnya tanpa sengaja terlempar di dekat sofa tempat wanita setengah baya itu duduk.
"Upst... maaf nyonya..." Deanda yang sebelumnya sengaja mengendurkan kancingan gelang di tangannya itu, berkata sambil tersenyum melihat bagaimana gelang emasnya yang indah terlempar tepat di samping wanita itu.
"Tidak apa-apa, ini gelang Anda Nona." Dengan gerakan cepat, wanita itu mengambil gelang milik Deanda dan berdiri, lalu berjalan mendekat ke arah Deanda sambil menyodorkan gelang itu ke arah Deanda yang melebarkan senyum di wajahnya, merasa puas bahwa rencananya untuk membuktikan bahwa wanita itu memang tidak lumpuh dan hanya berpura-pura.
"Ah, terimakasih nyonya." Deanda berkata sambil meraih gelang itu dari tangan wanita tersebut.
Tidak berapa lama setelah kejadian itu, suara nada panggilan telepon segera berbunyi dari arah telepon Deanda, yang langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Hallo."
"Baik Kak, aku akan segera keluar." Deanda mengucapkan perkataannya sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh tatapan mata dari ibu Emilio yang terlihat heran melihat Deanda yang bersiap pergi.
"Maaf Nyonya, kakakku ternyata sudah menjemputku. Aku harus pergi sekarang." Deanda berkata kepada ibu Emililo tanpa menutup panggilan telepon dari Alvero.
"Tapi Nona, Emilio..." Wanita itu baru saja hendak mencegah Deanda untuk pergi, tapi Deanda buru-buru memotong perkataan wanita itu.
"Maaf Nyonya, lain kali aku akan kembali berkunjung untuk menemui tuan Emilio bersama kakakku. Tapi, aku harus segera pergi sekarang karena ada pertemuan dengan makelar barnag seni yang biasa menjadi penghubung kami. Selamat sore." Tanpa menunggu respon dari ibu Emilio yang sedikit mengejarnya, Deanda langsung bergegas pergi keluar dari pagar rumah mewah tersebut dan dengan sedikit berlari, bergerak ke arah mobil Ernest yang dikendarai oleh Erich, dengan Alvero duduk di kursi penumpang sedang menunggunya.
"Bagaimana sweety?" Begitu Deanda duduk di sampingnya setelah menutup pintu di sampingnya, Alvero langsung bertanya kepada Deanda.
Erich yang melihat Deanda sudah duduk di dalam mobil mulai melajukan mobil meninggalkan rumah Emilio.
Begitu melihat hasil dari video itu, Alvero menyungingkan senyum di bibirnya sambil mengecup puncak kepala Deanda beberapa kali.
"Istriku memang yang terbaik. Kamu benar-benar hebat hari ini." Alvero berkata dengan nada bangga sambil melirik ke arah Erich, berharap pengawalnya itu akan bisa melaksanakan tugasnya dengan baik seperti yang sudah dilakukan oleh Deanda barusan.
Lirikan mata Alvero ke arahnya, membuat Erich menarik nafas panjang. Karena Erich sendiri berharap dia juga bisa melakukan tugasnya sebaik Deanda, walaupun dalam hati Erich benar-benar merasa tidak nyaman mendapatkan tugas seperti itu. Kalau bisa memilih, Erich bahkan bersedia dihdapakan dengan puluhan preman dan diberi tugas untuk mengalahkan mereka daripada diberi tugas untuk menjebak Emilio seperti hari ini.
__ADS_1
# # # # # # #
"Bagaimana Erich? Apa kamu sudah siap?" Alvero berkata sambil melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Alvero sengaja bertanya seperti itu kepada Erich, karena mereka baru saja melihat ke arah pintu bar, dimana segerombolan laki-laki baru saja masuk ke sana. Dan dalam sekelompok pria yang baru memasuki bar itu terlihat sosok Emilio.
Mendengar pertanyaan Alvero, Erich yang berada di kursi pengemudi menoleh ke arah Alvero yang duduk di kuris belakang mobil Ernest dan menganggukkan kepalanya pelan.
Alvero menarik nafas panjang, mengingat kembali pertemuannya dengan earl robin tadi siang. Dari info yang diberikan earl Robin, Alvero mencoba mencari data lengkap untuk menyelidiki tempat-tempat yang biasa dikunjungi oleh Emilio dan teman-teman seperti apa yang biasa ditemuinya. Kebiasaan dan cara hidup Emilio bersama keluarga dan teman-temannya juga tidak luput dari penyelidikan Alvero, termasuk kebiasaannya untuk mengunjungi bar yang sedang mereka intai sekarang untuk bertemu dengan teman-temannya.
Dengan bantuan earl Robin, Alvero sengaja meminta agar earl Robin mencegah Melva untuk bertemu dengan kekasihnya sepanjang hari ini agar Alvero dan yang lainnya bisa menjalankan misi mereka dengan baik.
"Kalau begitu, kita tunggu sebentar lagi. 5 menit setelah itu, kamu masuk ke bar itu. Seperti yang sudah kita latih tadi siang. Temui pelayan bar, pura-pura menanyakan siapa yang bernama Emilio, seolah kamu adalah pendatang baru di kota Renhill dan tidak mengenalnya dengan baik. Setelah itu... lanjutkan aktingmu seperti yang sudah kamu pelajari tadi. Ingat! Senyum dan berwajah ramah dan sok akrab!" Alvero memberikan perintahnya sambil memandang ke arah bar yang akan mereka datangi, dimana tampak semakin malam, beberapa pengunjung mulai berdatangan, membuat bar itu semakin ramai.
"Baik Yang Mulia!" Erich menjawab perintah Alvero sambil mulai bersiap untuk keluar dari mobil, dengan melepaskan safety belt yang melilit di tubuhnya.
(Safety belt atau Sabuk pengaman adalah sebuah alat yang dirancang untuk menahan seorang penumpang mobil atau kendaraan lainnya agar tetap di tempat apabila terjadi tabrakan, atau, yang lebih lazim terjadi, bila kendaraan itu berhenti mendadak. Sabuk pengaman dirancang untuk mengurangi luka dengan menahan si pemakai dari benturan dengan bagian-bagian dalam kendaraan itu atau terlempar dari dalam kendaraannya. Di dalam mobil, sabuk pengaman juga mencegah penumpang yang duduk di kursi belakang membentur penumpang yang duduk di barisan depan).
“Jangan bertingkah seperti orang yang tidak familiar dengan bar. Ingat! Namamu hari ini adalah Ronald, seorang makelar yang biasa menjadi perantara para penjual barang antik atau barang seni ke para kolektor kaya.” Alvero kembali mengingatkan kepada Erich apa yang harus dilakukannya hari ini.
__ADS_1