
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, harap skip episode ini.
Begitu dada Deanda sudah kembali tenang, dengan gerakan cepat Deanda memiringkan tubuhnya, bermaksud turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri di dalam kamar mandi. Namun dengan gerakan lebih cepat, lengan Alvero langsung meraih pinggang Deanda, menahan tubuh polos itu sehingga kembali terbaring di sampingnya.
"Yang Mul... eh, aku mau membersihkan diri dulu." Deanda berkata dengan nada pelan, rasanya dadanya kembali berdegup kencang menyadari lengan berotot milik suaminya melingkar di tubuhnya yang masih polos, dan rasanya dia belum memiliki cukup keberanian untuk menoleh ke arah Alvero yang pastinya juga masih dalam keadaan polos sepertinya.
"Jangan pergi dulu... nanti saja...." Alvero berbisik pelan di telinga Deanda sambil mengecupi kembali leher jenjang istrinya itu.
"Ke...napa?" Deanda yang terbaring di atas tempat tidur dengan posisi dipeluk oleh Alvero dari arah belakangnya berkata dengan nada terdengar begitu gugup dan suara serak.
"Aku masih menginginkannya...." Mata Deanda langsung terbeliak mendengar perkataan dari Alvero, disusul oleh kesadaran Deanda akan sesuatu yang keras milik Alvero menempel pada bagian belakang tubuhnya yang masih polos tanpa kain, sehingga membuatnya begitu jelas terasa, sekaligus bisa merasakan hangatnya tubuh Alvero ke tubuhnya, membuat dada Deanda kembali berpacu dan ada suatu rasa aneh menggelitik perutnya, yang tanpa sadar membuatnya mengerti bahwa kata-kata Alvero cukup memberikan reaksi panas dan bergetar pada tubuhnya yang sepertinya juga masih menginginkan apa yang baru saja dimaksudkan oleh Alvero.
"Apa... kita tidak perlu membersihkan diri terlebih dahulu?" Deanda berkata dengan ragu karena dia yang belum pernah memilki pengalaman sama sekali terhadap hal yang baru saja terjadi, tidak mengerti bahwa mereka bisa melakukan hal seperti itu lebih dari sekali dalam waktu berdekatan seperti kondisinya sekarang ini, sehingga hanya kata-kata itu yang sempat terpikirkan olehnya.
"Setelah sekali lagi, kita bisa membersihkan diri bersama-sama.”
__ADS_1
"Tapi... apa kamu akan baik-baik saja?" Mendengar pertanyaan Deanda dengan nada ragunya, Alvero langsung mengeryitkan dahinya, lalu dengan gerakan cepat, dibalikkannya tubuh Deanda ke arahnya dan tanpa sempat membuat Deanda berpikir lebih jauh, apalagi mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba saja tubuh Deanda sudah kembali berada di bawah kungkungan tubuh Alvero.
"Kamu mau aku memanjakanmu berapa kali hari ini sweety? Apa kamu meragukan kemampuanku? Aku bahkan bisa membuatmu tidak keluar dari kamar ini hingga besok pagi. Mau aku buktikan?" Mendengar pertanyaan Alvero, wajah Deanda langsung merah padam karena malu dan tidak berani menjawab pertanyaan Alvero, apalagi menatap mata hazel milik suaminya yang sedang memandanginya dengan tatapan geli melihat betapa malu-malunya wajah istrinya saat ini.
"Wajahmu sungguh menggemaskan. Apa kamu juga menginginkannya tapi merasa malu untuk mengatakannya padaku?" Alvero bertanya sambil tangannya mulai bergerak kembali memberikan sentuhan lembut dan mesra untuk merangsang bangkitnya hasrat Deanda kembali.
Dan sekali lagi mereka mengulang apa yang baru saja mereka lakukan, melakukan penyatuan tubuh mereka sekali lagi dengan saling memanjakan, saling membahagiakan dan saling menatap pasangan mereka dengan tatapan penuh cinta.
# # # # # # #
"Terimakasih sweety...." Alvero yang tidak membiarkan tubuh Deanda lepas dari pelukannya setelah penyatuan mereka yang terakhir tadi, berbisik pelan di ceruk leher Deanda yang ada dipelukkannya dari arah belakang dalam posisi masih terbaring di tempat tidur.
"Ehmmmm.... memeluk tubuhmu dan bau harum tubuhmu benar-benar membuatku merasa nyaman sweety…. sekaligus membuatku mabuk..." Alvero kembali berbisik sambil menciumi leher Deanda yang sebenarnya sudah dipenuhi kissmark akibat perbuatannya sejak semalam, ditambah lagi yang baru saja dia tambahkan, sehingga membuat kulit mulus itu tidak lagi terlihat mulus karena banyaknya stempel kepemilikan yang telah diukir oleh Alvero di sana.
Tangan Alvero yang tadinya memeluk tubuh Deanda bergerak pelan ke arah leher Deanda, jari-jari tangannya bergerak mengelus beberapa tanda cinta yang berhasil dia tinggalkan di sana dengan tatapan mata lega sekaligus bangga.
My sweety.... wanita tercinta milikku.... hanya milikku seorang....
Alvero berguman dalam hati, lalu mengarahkan bibirnya kembali ke arah tanda-tanda itu dan menciuminya dengan lembut, membuat tubuh Deanda kembali bergelinjang, sampai akhirnya Deanda menjauhkan diri dari Alvero, mulai takut kepada dirinya sendiri jika dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terpancing lagi karena cumbuan mesra Alvero kepadanya.
__ADS_1
"Mau kemana lagi sweety?" Alvero bertanya sambil melihat ke arah Deanda yang walaupun tubuhnya masih terbaring dengan tertutup selimut kedua kakinya sudah turun dari tempat tidur, sudah menyentuh lantai kayu ruangan itu.
"Eh, lebih baik kita mandi sekarang.... aku ingin menikmati keindahan danau sebelum gelap." Alvero tersenyum mendengar perkataan Deanda yang bergerak menjauh darinya.
"Kenapa denganmu sweety? Apa kamu takut aku meminta lagi jatahku?" Alvero berkata sambil menarik selimut yang menutupi tubuh mereka, sehingga Deanda kembali tersentak kaget.
"Ah, eh... ti..."
"Jangan khawatir, kita harus makan dan mengumpulkan tenaga agar siap melakukannya lagi nanti malam.... Permaisuriku...." Alvero berkata sambil tanpa perduli dengan tubuh polosnya turun dari tempat tidur dan dengan cepat meraih tubuh Deanda dan menggendongnya, berjalan membawanya ke arah kamar mandi.
Sedang Deanda sendiri langsung mengalihkan pandangannya agar tidak terfokus pada tubuh atletis suaminya, apalagi di bagian di mana walaupun dia sudah merasakan kenikmatan yang dibawanya. Namun, sampai detik ini, satu kalipun dia belum berani untuk melihatnya secara langsung.
Begitu sampai di kamar mandi, Alvero mendudukkan tubuh Deanda di pinggiran bathtub yang terbuat dari batu besar yang dibelah dan dilubangi sehingga menjadi bathtub yang terlihat indah sekaligus unik. Setelah menyerahkan haircap kepada Deanda agar dikenakannya untuk menutupi rambutnya agar tidak basah saat berendam di bathtub nanti, Alvero sendiri langsung menyalakan kran air, mengatur suhu kran agar cukup hangat, setelah itu kembali mengangkat tubuh Deanda dan meletakkannya di dalam bathtub sebelum akhirnya dia menyusul Deanda masuk ke dalam bathtub, membuat wajah Deanda kembali mengeluarkan semburat berwarna merah.
"Di sini pelayan hanya bertugas menjaga kebersihan setiap harinya tanpa ada yang tinggal di sini. Karena itu... hari ini aku akan membantumu membersihkan dirimu, dan kamu harus membantuku." Alvero berkata sambil meraih botol berisi garam mandi menuangkannya ke dalam air, setelah itu juga mengambil bath foam dan minyak esensial menuangkan kedua bahan itu ke dalam bathtub.
(Garam mandi bukan sekadar untuk membuat air rendaman menjadi berwarna-warni. Kandungan dalam garam sudah dipercaya sejak zaman Yunani. Gunakan garam mandi untuk mengurangi nyeri pada sendi tulang belakang. Jika dipakai secara rutin, bisa menghindari risiko cedera dan membantu melemaskan otot-otot tubuh. Bath foam adalah sabun mandi yang berbentuk gel. Gunanya untuk dicampurkan pada air mandi di bathub untuk membuat buih-buih air. Cara menggunakan bath foam sangat mudah, cukup teteskan ke air, goyang-goyangkan airnya hingga tercipta buih sesuai yang diinginkan. Bath foam punya fungsi yang sama dengan sabun mandi, yaitu untuk membersihkan kulit dan memberikan aroma kesegaran setelah mandi. Minyak esensial selain memberikan wangi yang menenagkan juga membuat kulit lebih halus dan mengangkat sel kulit mati, juga menjaga agar kulit tidak kering walau berendam di air panas).
__ADS_1