
Bagi Erich, kehilangan Ernest seperti kehilangan sebagian besar dari dirinya. Sebuah pukulan yang cukup berat buat seorang Erich, yang memiliki ketergantungan kepada Ernest dalam kehidupan sosialnya.
"Tapi Yang Mulia, saya mohon, saya tidak akan tenang sebelum menemukan Ernest, walaupun itu hanya jasadnya." Erich berkata sambil menekan suaranya agar tidak terlihat bahwa suaranya begitu bergetar menahan tangis, saat mengatakan tentang jasad Ernest.
Deanda yang sebelumnya tertidur, perlahan membuka matanya dan bangun dari tidurnya, dan duduk di samping Alvero.
"Yang Mulia benar Erich. Dalam kondisi emosi, dan juga kurang istirahat, kamu memaksakan dirimu untuk ikut mencari Ernest, justru akan membahayakan dirimu karena kamu akan sulit untuk fokus. Apalagi medan tempat menghilangnya Ernest, aku dengar dari yang mulia cukup sulit untuk dilalui." Kata-kata Deanda membuat Erich menarik nafas panjang.
Di satu sisi Erich tahu perkataan Deanda ada benarnya, tapi di sisi lain, Erich begitu ingin ikut serta dalam pencarian Ernest, karena dia begitu ingin tahu kondisi Ernest.
Apakah Ernest selamat atau tidak tidak, Erich ingin menjadi orang yang tahu untuk pertama kalinya.
Namun melihat dua orang pemimpin tertingginya sudah sepakat untuk mencegahnya pergi, pada akhirnya Erich hanya bisa mengangguk dengan sikap hormat, namun juga pasrah walaupun dengan berat hati.
"Erich, sebentar lagi kami akan kembali ke istana. Kamu akan pergi bersama kami, atau akan tetap di sini?"
"Jika diijinkan, saya ingin tetap di sini untuk menunggu kabar dari tim pencarian kita." Erich langsung menjawab penawaran dari Alvero.
"Baiklah, kami akan kembali ke istana dengan yang lain. Segera hubungi aku begitu mendapat kabar tentang Ernest. Kami juga berdoa agar Ernest bisa segera ditemukan dan baik-baik saja." Alvero berkata sambil bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya ke arah Deanda yang langsung meraihnya dan ikut berdiri.
"Kalau begitu, kami pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik Erich." Alvero berkata sambil menepuk bahu Erich.
"Dan kamu Alea! Ikut kami untuk kembali ke istana! Kita selesaikan urusan kita di istana!" Alea yang sedari tadi bediri tidak jauh dari sana langsung menganggukkan kepalanya dengan sedikit gugup.
Sedang Alvero sendiri, setelah mengucapkan perintahnya kepada Alea segera berjalan menuju pintu keluar bunker.
__ADS_1
Hah, yang mulia Alvero pasti akan memarahiku habis-habisan karena kasus menyusulnya Deanda ke bunker.
Alea hanya bisa berkata dalam hati dengan sikap pasrah.
"Yang Mulia, ada rencana apa dengan Alea?" Deanda yang berjalan tepat di samping Alvero berbisik pelan dengan sedikit berjinjit.
"Alea harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, membiarkanmu pergi menyusulku ke bunker tanpa persetujuanku. Dan bukan hanya Alea, aku akan minta pertanggungjawaban nyonya Rose dan pengawal yang bertugas." Alvero berkata sambil mendengus kesal, membuat Deanda menelan ludahnya karena merasa bersalah.
Karena perbuatannya, semua orang yang membiarkan Deanda pergi kemarin malam pasti akan mendapatkan hukuman dari Alvero.
Untuk beberapa saat Deanda dan Alvero saling berdiam diri. Sampai di dalam mobil, karena Alvero memutuskan untuk menyetir sendiri karena tidak adanya Erich dan Ernest, mereka hanya tinggal berdua.
Deanda melihat ke arah belakang mobil dimana belasan mobil berisi pengawal kerajaan mengawal mobil yang sedang ditumpanginya bersama Alvero.
Setelah itu, Deanda melirik sekilas ke arah Alvero sebelum memutuskan untuk berbicara.
"Tidak bisa! Kalau kali ini aku membiarkan masalah ini menguap begitu saja. Di kesempatan lain, baik mereka atau kamu akan mengulangi lagi tindakan nekat seperti itu." Alvero menjawab dengan tegas.
"Tapi My Al...."
"Sweety, ini juga sebuah pelajaran buat kamu sebagai permaisuri, yang dalam keadaan mengandung. Jangan bertindak seenaknya. Apa kamu tidak tahu bagaimana kamu hampir membuatku terkena serangan jantung karena mendengar berita menyusulnya kamu ke bunker?" Deanda hanya bisa menarik nafas dalam-dalam mendengar omelan Alvero.
"Maaf...." Deanda menjawab pendek, membuat Alvero mendesah pelan.
Hah... permaisuriku ini benar-benar.... Dengan memasang wajah sedih dan merasa bersalah seperti itu, bagaimana bisa aku terus mengeraskan hatiku? Kamu benar-benar menjadi kelemahan terbesarku sweety.
__ADS_1
Alvero melenguh dalam hati. Hal yang paling membuatnya tidak bisa bertahan, tentu saja wajah sedih dan menyesal Deanda.
"Sweety, mereka dan juga kamu harus mendapatkan hukuman, sekecil apapun hukuman itu, agar kalian ingat, ke depannya tidak bertindak sembarangan dan melawan ucapanku sebagai seorang raja Gracetian." Alvero berkata sambil mengelus pelan puncak kepala Deanda.
"Aku... juga akan mendapatkan hukuman?" Deanda kemabli bertanya dengan sikap ragu, membuat Alvero menaikkan salah satu ujung bibirnya.
"Tentu saja! Harusnya kamu yang mendapatkan hukuman paling berat sebagai permaisuri yang membuat mereka melanggar perintahku." Deanda langsung terdiam sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, mendengar perkataan Alvero, membuat tanpa diketahui Deanda, Alvero memalingkan wajahnya ke samping agar Deanda tidak bisa melihat sebuah senyuman geli tersungging di bibir Alvero, karena melihat bagaimana wajah Deanda yang putus asa karena perkataan Alvero barusan.
"Dan juga...." Alvero menghentikan bicaranya karena sebuah panggilan telepon yang masuk.
Dengan cepat Alvero langsung memasang headset bluetooth dan memasangkan ke telinganya.
(Headset merupakan gabungan dari headphone dan mikrofon atau lebih jelasnya memiliki 2 device, yaitu input (untuk berkomunikasi) dan output (untuk mendengarkan). Perangkat jemala atau headset adalah perangkat elektronik gabungan antara penyuara telinga dan mikrofon. Alat ini biasanya digunakan untuk mendengarkan suara dan sekaligus berbicara dengan perangkat komunikasi atau komputer. Kelebihan terbaik dari adanya headset Bluetooth tentu adalah hands-free, tanpa kabel, sehingga tidak ribet).
"Hallo Ad, terimakasih untuk bantuan besarmu hari ini." Begitu menyalakan tombol menerima panggilan telepon, Alvero langsung mengucapkan terimakasihnya kepada Ornado.
"Con piacere Alvero. Spero che vada tutto bene." (Dengan senang hari Alvero. Aku harap semuanya baik-baik saja) Ornado langsung menanggapi perkataan Alvero.
"Berkat bantuanmu, semua berjalan dengan baik." Ornado langsung tersenyum mendengar perkataan Alvero.
"Aku dengar dari berita internasional pagi ini tentang pertempuran para pasukan Gracetian melawan sekelompok pemberontak. Tapi kondisi terkini belum dijelaskan dengan detail di media." Ornado berkata sambil melipat satu tangannya di depan perutnya.
"Hari ini aku akan memberikan pernyataan resmi terkait peristiwa itu. Sekarang aku dalam perjalanan kembali ke istana." Perkataan Alvero membuat Ornado menarik nafas lega.
"Bagaimana dengan para pimpinan kelompok pemberontak itu? Apa kamu berhasil menangkapnya? Termasuk ibu tirimu?" Pertanyaan Ornado membuat Alvero menarik nafas panjang sambil menelan ludahnya, karena pertanyaan itu juga mengingatkannya bahwa sampai sekarang keberadaan dan keselamatan Ernest belum bisa diketahui.
__ADS_1