BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEMBALINYA LARENA HILMAR


__ADS_3

Sikap kaget dari Eliana membuat semua orang yang hadir di tempat itu justru langsung ikut menolehkan kepala mereka, dan mengarahkan pandangan mata mereka ke arah mata Eliana sedang tertuju.


Dan seperti yang dialami oleh Eliana, kehadiran dua wanita cantik yang baru saja melangkah melewati pintu utama ruangan itu membuat semua orang yang ada membeliakkan matanya, dengan beberapa orang tanpa sengaja membiarkan mulut mereka terbuka lebar, menunjukkan betapa mereka yang hadir juga merasa begitu terkejut dengan kehadiran dua wanita itu.


Salah satu wanita cantik itu, jelas dikenal baik dengan oleh seluruh rakyat Gracetian, seorang wanita yang harusnya sedang berbaring di tempat tidur menunggu ajal karena sudah diracun oleh Avitus, permaisuri Gracetian, Deanda Federer.


Sedangkan wanita cantik yang sedang berjalan tepat di samping Deanda, adalah wanita yang seharusnya sudah meninggal belasan tahun yang lalu karena sebuah kebakaran hebat di tempat kediamannya. Dan beberapa orang yang pernah mengetahui keberadaan Larena ketika masih di Gracetian waktu itu, pasti bisa mengenalinya, karena setelah lewat belasa tahunpun, wajah cantik dari ibu kandung Alvero itu tidak banyak berubah.


Sedang beberapa orang awak media yang usianya masih muda hanya bisa menebak-nebak siapa sebenarnya wanita cantik yang sekarang sedang berjalan dengan langkah anggun di samping Deanda.


“Bukankah itu permaisuri Deanda?”


“Benar, itu permaisuri Deanda.”


“Bukannya kabar terbaru dari istana mengatakan bahwa permaisuri Deanda sedang terbaring sakit karena keracunan?”


“Syukurlah ternyata permaisuri Deanda baik-baik saja.”


“Sudah aku duga berita tentang perselingkuhan yang mulia Alvero dengan wanita tidak dikenal itu pasti hanya berita burung.”


“Siapa yang sudah berani memfitnah raja Gracetian seperti itu? Dia pantas dihukum penjara seumur hidup. Berani-beraninya memfitnah yang mulia Alvero.”


“Setuju sekali! Memfitnah yang mulia Alvero sama dengan mempermalukan seorang raja Gracetian. Yang artinya, juga mempermalukan rakyat Gracetian.”

__ADS_1


“Lalu…. Siapa wanita cantik yang ada di samping permaisuri Deanda itu?”


“Bukankah itu…. Permaisuri Larena Hilmar? Ah, maksudku, ibu suri Larena Hilmar?”


“Wah…. Apa ini artinya ibu suri Larena Hilmar ternyata masih hidup?”


“Hah… jika ibu suri Larena masih hidup… bukankah itu artinya ibu suri Eliana tidak akan lagi berhak menyandang gelar sebagai ibu suri Gracetian?”


“Benar. Aku dengar, sampai akhir yang mulia Vincent bersikeras tidak mau menceraikan permaisuri Larena saat itu.”


Berbagai perbincangan panas langsung terdengar begitu ramai, sedang Eliana yang ada di depan sana, kedua tangannya terkepal di atas meja dengan wajah begitu merah.


Juru bicara pribadi dari Eliana hanya bisa memegang mikrofon di tangannya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, sehingga ketika Ernest tiba-tiba saja meraih mikrofon dari tangannya, bahkan juru bicara itu tidak menyadarinya. Tetap dalam posisi dan ekspresi kagetnya.


Bukankah itu… De… Deanda dan La… Larena Hilmar? Bagaimana mungkin Deanda yang mengkonsumsi makanan mengandung arsenik itu bisa tampil dengan segar bugar di tempat ini? Dan juga… bersama dengan La… Larena Hilmar? Larena yang seharusnya sudah mati belasan tahun yang lalu? Kenapa…? Bagaimana….?


Eliana berkata dalam hati dengan tatapan matanya yang masih tidak percaya melihat kedua sosok wanita yang sungguh tidak dia harapkan kehadirannya di tempat ini.


Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana bisa? Wanita itu masih hidup dan hadir di tempat ini? Apa dia adalah artis yang sengaja disewa oleh Alvero? Tapi, rasanya itu tidak mungkin! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa semuanya jadi begini?


Eliana kembali berkata dalam hati dengan pandangan mata dan wajah terlihat begitu panik, keringat dingin mulai membasahi kening dan leher Eliana, tanpa bisa dia cegah lagi.


“Selamat datang Ibu Suri Larena.” Begitu Larena mendekat ke arah meja panjang tempat Alvero dan Alaya berdiri di depan, dengan Eliana yang juga berdiri dengan sikap begitu gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


Sedangkan Alvero langsung menyapa Larena dan mengulurkan salah satu tangannya ke bahu Larena.


Dengan lembut tangan Alvero meraih tubuh Larena, memeluknya dengan erat dan menciumi kedua pipinya secara bergantian, membuat Larena hampir saja tidak bisa mengendalikan emosinya dan membiarkan air matanya menerobos keluar membasahi pipinya.


“Aku sungguh merindukanmu Ma.” Sambil mengelus-elus punggung Larena, Alvero berbisik lembut ke telinga Larena yang dengan susah payah menelan air ludahnya, mendengar suara lembut putra sulungnya yang selama bertahun-tahun begitu dirindukannya, bahkan seringkali menghiasi mimpi-mimpinya di malam hari.


Setelah beberapa hari sampai di Gracetian, Larena memang belum bertemu dengan Alvero sama sekali. Begitu Larena datang ke Gracetian, Alaya dan Alvero baru saja hendak mengatur waktu untuk membiarkan Alvero menemui Larena.


Tapi apa yang dilakukan oleh Eliana membuat semua rencana Alvero dan Alaya berubah secara tiba-tiba, sehingga saat ini mereka harus bertemu dalam kondisi yang sedikit memaksa dan tidak membiarkan mereka untuk memiliki cukup banyak waktu berdua agar bisa saling melepas rindu dalam waktu yang cukup lama.


Untuk sementara, mereka berdua harus puas dengan saling berpelukan sekilas dan berharap bisa segera melepaskan kerinduan mereka lebih dalam setelah semua masalah yang ditimbulkan oleh Eliana dapat diselesaikan hari ini.


Tapi untuk saat ini, Larena tahu dia harus bisa mengendalikan diri dan emosinya, sekilas dia melirik ke arah Alaya yang langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Larena, memberikan dukungan moral agar Larena bisa melakukan dengan baik apa yang sudah mereka rencanakan.


Larena sengaja tidak mau mengarahkan pandangan matanya kepada Eliana barang sedetikpun, karena dia sendiri tahu batasan pada dirinya. Dia takut sosok Eliana akan mempengaruhi emosi dan keberaniannya untuk tampil dan memberikan penjelasan kepada publik tentang apa yang terjadi sebenarnya selama ini.


“Selamat siang semuanya, selanjutnya kita akan mendengarkan penjelasan dari ibu suri Larena Hilmar tentang semuanya, pertanyaan mengenai putri Alaya Adalvino dan juga hubungan antara yang mulia Alvero dengan putri Alaya Adalvino.” Ernest berkata sebelum akhirnya memberikan mikrofon yang dipegangnya kepada Larena sembari mempersilahkan Larena untuk duduk di kursi yang baru saja disiapkan oleh salah seorang anggota pengawal eksklusif kerajaan.


“Terimakasih Tuan Ernest.” Dengan suara yang terdengar lembut, Larena berkata sambil meraih mikrofonnya dan duduk di kursi yang disodorkan untuknya.


Larena tampak tidak memperdulikan Eliana yang tetap berdiri dengan sikap salah tingkah dan wajah begitu pucat, belum bisa menguasai dirinya sendiri karena begitu kaget atas kehadiran Deanda, terutama kehadiran Larena yang dipikirannya, harusnya sudah mati belasan tahun yang lalu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2