
"Baron Amos mengatakan dia ingin agar Eliana membayar semua kejahatannya, agar tidak adalagi yang tersakiti. Dia juga mengatakan sangat bahagia melihat bagaimana ternyata yang mulia Larena masih hidup, dan jika diijinkan baron Amos ingin bertemu dengan...."
"Tidak! Katakan ibu suri Larena tidak ingin bertemu dengannya. Tidak sekarang atau di masa depan. Tidak ada yang perlu dibicarakan antara mereka berdua sehingga harus mengadakan pertemuan. Apalagi tidak pantas seorang pria single bertemu dengan wanita yang sudah menikah." Dengan cepat Vincent memotong kata-kata Alexis, membuat kali ini Deanda, bahkan Alaya langsung memalingkan wajahnya, agar Vincent dan yang lain tidak melihat senyum geli mereka berdua.
Alexis cukup maklum dengan apa yang dikatakan oleh Vincent, karena sejak Larena dinyatakan meninggal pada waktu itu, Amos cukup terpukul dan juga dipenuhi dengan rasa penyesalan karena tidak bisa menyelamatkan Larena. Dan hingga sekarang Amos memutuskan untuk tetap menjadi laki-laki lajang yang memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya.
"Aku setuju! Buat apa menemui laki-laki yang dulunya pernah mengejar-ngejar istri orang lain dengan tidak tahu malu seperti itu!" Perkataan Vincent yang disambung oleh Alvero membuat Deanda kembali memalingkan wajahnya, langsung menatap ke arah Alvero yang wajahnya terlihat tegang dan begitu serius.
Ah, suamiku ini, benar-benar sebelas dua belas dengan papa Vincent. Tapi sungguh menggemaskan memiliki laki-laki yang begitu pencemburu seperti mereka.
Deanda berkata dalam hati sambil melirik ke arah Larena yang hanya bisa menyunggingkan senyum tipis di bibirnya. Karena sejak dulu, dia tahu betul sifat suaminya. Dan Alvero, anak laki-lakinya itu sejak kecil memang sudah menunjukkan karakter yang mirip dengan ayahnya.
"Lalu apa rencanamu ke depan untuk Eliana?" Vincent bertanya kepada Alvero yang sedang mengetuk-ketukkan ujung jari-jarinya di atas meja yang ada di depannya.
"Rencananya aku bersama tim kita lainnya akan melakukan penyusupan ke bunker Tavisha secara diam-diam dan mengukur kekuatan mereka. Karena jika kita langsung melakukan penyerangan terhadap mereka, aku khawatir pasukan kita belum cukup kuat. Tapi dengan perkembangan kondisi saat ini. Sepertinya mau tidak mau, kita harus sedikit memaksakan pasukan kita untuk menerobos masuk ke sana dan menangkap mereka. Aku berharap pasukan kita sudah siap untuk melakukan semua itu." Alvero berkata sambil matanya sedikit menerawang.
Kali ini Alvero sungguh berharap dia tidak salah langkah, yang bisa menyebabkan jatuhnya banyak korban dari pihak mereka.
"Untuk sekarang, sampai sejauh mana kesiapan pasukan khususmu itu? Aku melihat sepertinya kamu terlihat ragu. Jika kamu tidak yakin, itu akan sangat berbahaya. Keyakinan seorang pemimpin akan berpengaruh besar terhadap orang-orang di bawahnya." Vincent kembali bertanya, mencoba membantu Alvero memikirkan jalan keluar yang terbaik.
__ADS_1
Belum lagi Alvero menjawab pertanyaan dari Vincent, tiba-tiba suara nada panggilan telepon dari handphone Alexis berbunyi. Alexis langsung mengernyitkan dahinya begitu melihat nama Red di layar handphonenya.
"Maaf Yang Mulia, mohon ijin menerima panggilan telepon dari Red." Mendengar permintaan dari Alexis, Alvero langsung menggerakkan tangannnya untuk mempersilahkan sambil menganggukkan kepalanya.
Begitu mendapat ijin dari Alvero, Alexis segera bangkit dari duduknya, berjalan menjauh untuk menerima panggilan telepon dari Red.
Tidak butuh waktu lebih dari 5 menit, Alexis sudah kembali duduk di tempatnya semula dengan wajah terlihat begitu serius.
“Yang Mulia, Red dan Marcello baru saja mengabarkan, bahwa ada 100 orang-orang terlatih dari Italia yang dikirim ke kamp pelatihan kita oleh tuan Ornado Xanderson. Mereka juga datang bersama senjata serta amunisi lengkap, seperti orang yang siap turun ke medan perang. Apa Yang Mulia sudah mengetahui tentang hal itu?” Mata Alvero langsung terbeliak mendengar perkataan dari Alexis.
Memang sejak pertemuan mereka di istana waktu itu antara Alvero dan Ornado berencana untuk melakukan latihan bersama antara pasukan khususnya dan pasukan pengawal milik Ornado, yang dikenal mematikan.
Dan sekarang tiba-tiba Ornado mengirimkan 100 orang kepadanya. Bagi Alvero itu cukup mengejutkan baginya, membuat Ornado terlihat sengaja melakukan itu untuk membantunya agar bisa segera berperang melawan kelompok pemberontak dan Eliana secara terbuka dan secepat mungkin.
Mendengar perkataan Alexis, Alvero segera meraih handphonenya dan melakukan panggilan terhadap Ornado.
"Buon pomeriggio Alvero. non c'è bisogno di ringraziarmi. Ti piace il mio regalo?" (Selamat sore Alvero. Tidak perlu mengucapkan termakasih padaku. Apa kamu suka hadiah dariku?). Begitu Ornado mengangkat panggilan telepon dari Alvero, dengan suara yang terdengar santai, Ornado langsung mengucapkan kata-kata yang membuat Alvero langsung menyungingkan senyum lebar di bibirnya.
"Bagaimanapun, aku harus berterimakasih padamu. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu mengirimkan begitu banyak anggotamu kemari?" Alvero langsung bertanya tentang apa yang baru saja dilakukan oleh Ornado.
__ADS_1
"Begitu aku melihat berita menghebohkan dari Gracetian hari ini. Aku sengaja meminta Afro mengirimkan 100 pasukan terbaik milik grup Xanderson yang mungkin akan kamu butuhkan. Dengan kejadian hari ini, jangan menunda waktumu untuk menumpas semua anggota kelompok pemberontak itu. Jangan biarkan mereka memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri menyerangmu lebih dahulu." Ornado langsung mengatakan pemikirannya kepada Alvero.
"Aku setuju denganmu. Awalnya aku merasa sangsi dengan kemampuan pasukan khususku yang masih baru saja dibentuk. Tapi dengan bergabungnya orang-orangmu, aku bisa segera melakukan penyerbuan ke bunker Tavisha tanpa ragu lagi. Terimakasih untuk dukunganmu Ad." Ornado langsung tertawa mendengar perkataan Alvero yang penuh semangat.
"Jangan khawatir, aku akan selalu mendukungmu. Hanya saja... sebenarnya hadiahku kejutan dariku bukan hanya itu saja." Alvero langsung mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Ornado yang sepertinya sengaja digantungnya.
"Apa lagi yang sedang kamu rencanakan Ad?" Alvero langsung bertanya.
"Sudah aku bilang, kalau diceritakan sekarang itu namanya bukan kejutan. Silahkan tunggu saja kejutan selanjutnya. Yang pasti, aku ikut bahagia untukmu. Mamamu sudah kembali dan papamu sepertinya sudah jauh lebih sehat. Benar-benar sebuah kejutan melihat apa yang ditayangkan di televisi tentang apa yang terjadi pada kerajaanmu hari ini. Sudah seperti drama saja. Ha ha ha ha." Ornado mengakhiri kata-katanya dengan tertawa, membuat Alvero ikut tertawa.
"Hah! Semoga masalah di kerajaanmu segera selesai. Maaf, aku tidak bisa ikut datang ke sana karena aku sendiri baru saja kembali ke Indonesia. Dan juga ada banyak acara yang harus aku hadiri di sini." Alvero menarik nafas panjang mendengar perkataan Ornado.
"100 orang yang kamu kirimkan untuk membantuku sudah lebih dari cukup Ad. Kamu belum lama menancapkan cakarmu di sana sebagai grup Xanderson, pasti kamu cukup sibuk saat ini. Aku bisa mengerti tentang itu. Apalagi saat ini kamu membutuhkan banyak waktu untuk lebih dekat dengan istrimu." Perkataan Alvero sukses membuat Ornado melirik ke arah Cladia yang sedang berdiri diantara bunga mawar yang ada di taman rumah mereka.
Dengan tatapan penuh cinta, Ornado mengamati bagaimana tangan Cladia dengan jari-jari lentiknya sedang asyik menyentuh bunga-bunga mawar dengan aneka warnanya yang kebetulan sedang mekar di taman itu. Kebun bunga mawar yang khusus dibuat Ornado untuk wanita tercintanya yang begitu menyukai bunga mawar.
"Kalau begitu, selamat menikmati hari-hari bahagiamu. Senang sekali bisa membayangkan dalam satu meja makan dengan keluarga yang lengkap, seperti yang kamu miliki sekarang. Salam untuk semua anggota keluargamu di sana. Salam kenal juga untuk adikmu Alaya. Jika kamu ke Indonesia, ajaklah adikmu ke sini, mungkin saja dia bisa menemukan jodohnya di negara ini." Alvero langsung tersenyum geli sambil melirik ke arah Alaya begitu mendengar candaan dari Ornado.
"Me lo ricorderò. Buonasera Ad." (Aku akan ingat itu. Selamat malam Ad) Alvero mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ornado, diiringi senyum lega.
__ADS_1
Bagi Alvero, bantuan dari Ornado, 100 orang anggota terbaik dari tim pengawal milik Grup Xanderson dengan perlengkapan senjata lengkap yang dikirimkan kepadanya oleh Ornado, seperti mendapatkan bantuan ribuan pasukan terlatih.