
"Selamat sore Ibu Suri Larena Hilmar." Deanda langsung menyapa sosok Larena yang dengan cepat meletakkan buku yang dibacanya dan berjalan mendekat ke arah Deanda.
Ah, Deanda Federer, anak dari Alexis dan Tiana. Alvero sungguh beruntung bisa memilikinya sebagai istrinya.
Larena berkata dalam hati sambil berjalan mendekat ke arah Deanda.
"Permaisuri Deanda... bolehkah aku memelukmu?" Begitu berada di dekat Deanda, Larena berkata sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke samping tubuhnya.
Tanpa ragu, dengan sebuah senyum manis tersungging di wajahnya, tanpa menjawab pertanyaan Larena, Deanda langsung bergegas mendekati Larena, dan memeluk tubuh wanita yang jika masih hidup, akan sebaya dengan mamanya itu dengan erat.
Permaisuri yang cantik dan baik hati, beruntungnya Alvero sebagai suamimu. Aku bersyukur kamulah yang menjadi jodoh dari Alvero. Anak laki-lakiku itu, dengan sifat keras kepala dan arogannya, tidak semua orang bisa mengerti tentang sifatnya itu dan mengendalikannya. Dia sungguh beruntung menemukan berlian yang begitu berharga sepertimu.
Larena berkata dalam hati sambil menikmati suasana hangat antara dia dan Deanda.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu permaisuri Deanda. Bertemu denganmu, sungguh seperti aku diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan sahabat baikku, Tiana. Kamu begitu cantik seperti mamamu. Terimakasih atas segala yang sudah kamu lakukan selama ini. Aku sudah mendengar dari Alaya bahwa kamu sudah memaafkan Alexis untuk apa yang sudah dia lakukan bagi kami dan mengorbankan kebahagiaanmu sebagai putrinya sendiri. Kamu benar-benar berjiwa besar seperti kedua orangtuamu. Kami banyak berhutang budi padamu. Dan mungkin, kami tidak akan bisa membalasnya." Larena berkata sambil mengelus-elus punggung Deanda dengan penuh kasih sayang.
Sebuah elusan yang terasa begitu hangat bagi Deanda, seperti sentuhan seorang mama kandung baginya.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dimaafkan lagi, karena papa Alexis melakukan itu sebagai kewajiban dari seorang knight, dan aku adalah anak dari seorang knight yang harus tahu diri, bahwa itu adalah resiko dari status papa Alexis. Selain itu, tidak ada hutang diantara kita yang perlu dibayar, karena sekarang kita adalah sebuah keluarga. Tidak ada kata hutang piutang diantara anggota keluarga." Kata-kata balasan dari Deanda langsung membuat Larena tersenyum sambil mempererat pelukannya kepada Deanda.
"Kamu begitu murah hati permaisuri Deanda." Sebuah senyum malu-malu langsung terlihat di wajah Deanda begitu mendenga pujian dari Larena untuknya.
"Jangan memanggilku seperti itu Ma, panggil saja Deanda. Bolehkan aku memanggilmu Mama?" Deanda berkata dengan lembut, membuat ujung-ujung mata Larena tampak menggenang cairan bening yang bersiap meluncur turun.
"Tentu... tentu saja sayang. Senang sekali mendengarmu memanggilku mama. Aku harap Alvero juga masih mau mengakuiku sebagai seorang mama baginya. Setelah apa yang sudah aku lakukan padanya. Meninggalkannya seorang diri bersama dengan ibu tiri yang begitu kejam padanya." Larena berkata sambil melepaskan pelukannya kepada Deanda.
"Yang mulia Alvero adalah anak yang berbakti, dia pasti sudah memaafkan dan berusaha melupakan semua yang sudah terjadi diantara kalian berdua." Dengan nada suara optimis Deanda menanggapi perkataan Larena yang langsung tertawa kecil.
Larena berkata dalam hati dengan tawa kecil masih menghias bibirnya.
"Kamu dan papamu sudah melakukan begitu banyak hal pada keluarga kami. Rasanya apapun yang kami lakukan, tidak akan bisa membuat hutang budi kami terbayar. Akan tetapi, jika saja mungkin, ada sesuatu yang kamu inginkan dariku, aku akan berusaha untuk memberikannya selagi aku bisa." Mendengar perkataan Larena, Deanda langsung melirik ke arah Alaya sambil tersenyum.
"Kalau begitu bolehkan aku meminta sesuatu kepada Mama sekarang?" Tanpa berpikir panjang Larena langsung menganggukkan kepalanya di depan Deanda.
"Emmm.... Mama Larena tahu kalau sekarang... aku sedang hamil. Dan aku memiliki sebuah impian terhadap bayi dalam kandunganku...." Deanda berkata lirih, lalu menghentikan bicaranya sejenak, membuat Larena langsung meraih kedua tangan Deanda dan merangkumnya dengan erat menggunakan kedua tangannya.
__ADS_1
"Katakan! Katakan padaku apa yang kamu inginkan untuk bayimu? Apa mungkin aku bisa memenuhi keinginanmu? Aku pasti akan melakukan apa saja untuk calon cucuku." Dengan tatapan mata penuh binar bahagia, Larena berkata kepada Deanda.
"Kalau begitu Ma.... Bisakah.... Mama Larena memaafkan Papa Vincent? Aku ingin bayiku lahir dengan kondisi keluarga Adalvino kita yang sudah bersatu kembali." Perkataan Deanda membuat Larena hampir saja melepaskan tangan Deanda yang yang ada dalam genggamannya, namun dengan cepat, kali ini Deanda yang menggenggam erat tangan Larena.
"Maaf sayang, aku... aku.... Ah, bisakah kamu meminta hal lain padaku?"
"Tidak Ma, hanya itu yang aku inginkan saat ini. Kalau Mama merasa masih begitu sulit untuk memaafkan papa, bagaimana jika Mama memberikan kesempatan untuk Mama menemui papa Vincent? Jika setelah bertemu papa, Mama merasa papa adalah laki-laki yang tidak layak untuk mendapatkan maaf dari Mama, aku tidak akan memaksa Mama lagi."
"Aku...." Larena terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi.
"Ma, aku akan menemani Mama." Mendengar perkataan Deanda, Larena terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Baik... aku juga tidak ingin selamanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Kalaupun harus diselesaikan sekarang, kami berdua memang harus menyelesaikannya. Tapi aku punya satu syarat.... Kalian boleh mengatur pertemuan itu, tapi jangan bilang kepada yang mulia Vincent bahwa aku ingin bertemu dengannya. Dan kalian tidak boleh memaksaku untuk menemuinya jika setelah melihat keberadaannya, aku merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk tidak lagi menemuinya. Aku akan segera menyelesaikan masalah kami tanpa harus bertatap muka dengannya." Akhirnya Larena memilih mengalah, mencoba untuk menghadapi Vincent.
__ADS_1