
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Deanda kembali menikmati suguhan salad buah hasil karya suami tercintanya.
Alvero hanya bisa tersenyum geli melihat bagaimana cara Deanda menikmati salad buah yang dibuatnya barusan. Dari wajahnya, terlihat jelas bahwa Deanda begitu menyukai salad buah buatan Alvero itu.
Bagi Deanda sendiri, entah kenapa, begitu dia menikmati salad buah itu, rasanya ada satu perasaan puas dan begitu senangnya dalam hatinya karena bisa menikmati salad buah malam ini juga tanpa harus menundanya sampai besok pagi, padahal boleh dibilang sebelumnya dia juga sudah sering menikmati salad buah.
Entah bagaimana awalnya, begitu terbangun dari tidurnya tadi, tiba-tiba Deanda merasa begitu menginginkan salad buah, seolah-olah tidak ada hari esok untuk dia bisa menikmati salad buah. Dan setelah mendapatkannya, dadanya terasa begitu bergejolak, antara bahagia, terharu, senang, puas, bercampur aduk menjadi satu.
Sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan dan tidak bisa dia jelaskan kenapa dia bisa bersikap seaneh itu hari ini.
"Mmmmm.... enak sekali salad buahnya." Deanda mengunyah saladnya sambil memejamkan matanya dengan wajah menunjukkan bahwa dia begitu menyukai salad buah itu, membuat Alvero tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.
Tindakan Deanda malam ini sungguh membuat Alvero merasa bertambah gemas melihat istrinya yang bagi Alvero semakin hari semakin membuatnya terpesona dan jatuh cinta.
My sweety... sepertinya semakin hari kamu terlihat semakin cantik dan begitu menggoda di setiap saat.
Alvero berkata dalam hati sambil berdehem, untuk mengalihkan pikiran liarnya saat melihat sosok Deanda yang baginya terlihat begitu menggoda, apalagi karena beberapa kali Deanda membungkukkan tubuhnya saat menikmati saladnya, membuat Alvero yang duduk tepat berada di hadapan Deanda bisa melihat dengan jelas belahan dada istrinya yang memakai nightie (nightgown) dengan potongan leher rendah dan dipenuhi renda, membuat Deanda tampak feminim, sekaligus begitu menggoda bagi Alvero.
Walaupun Deanda memakai jubah tidur saat keluar dari kamar untuk menutupi nightienya yang dikenakannya, akan tetapi karena Alvero duduk tepat di hadapannya, bisa melihat jelas bagian dada Deanda saat wanita cantik itu melipat kedua tangannya di depan dan menopangkan kedua gunung kembarnya di atas legannya yang terlipat di atas meja, membuat kedua benda itu menyembul ke atas.
__ADS_1
Belum lagi saat Deanda membungkukkan tubuhnya untuk mengambil salad dari mangkuk di depannya, membuat bagian leher dari nightienya sedikit terbuka. Dan yang bisa dilakukan oleh Alvero saat ini hanya memaksakan diri agar bisa mengendalikan diri dan berusaha menelan ludahnya dengan susah payah.
Kalau kamu selalu tampil menggoda seperti ini, bagaimana bisa aku mengendalikan diriku. Ist... istriku ini benar-benar membuatku seperti orang sakau kalau tidak menyentuhnya. Dan lain kali, aku harus memastikan tidak ada orang lain di dekatnya, terutama para pria saat dia keluar dari kamar dengan hanya menggunakan nighhtienya.
Alvero berkata dalam hati sambil meminum air mineral dalam gelas yang ada di hadapannya, lalu memainkan gelas itu dengan cara memutar-mutarnya di atas meja untuk mengalihkan fokusnya pada tubuh Deanda yang begitu menggodanya, bahkan membuatnya tidak ingat lagi bahwa sebenarnya beberapa jam sebelumnya mereka bahkan baru saja menghabiskan waktu berdua untuk bercinta.
"Yakin kamu tidak ingin mencicipi salad ini?" Deanda berkata sambil menyodorkan sesendok salad ke arah Alvero yang langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, untukmu saja. Aku sedang tidak ingin menikmati salad buah." Mendengar jawaban Alvero, Deanda bukannya menarik kembali tangannya yang terulur ke arah Alvero, tapi justru menyodorkannya untuk lebih mendekat ke arah bibir Alvero.
"Ayolah my Al, ciciplah sedikit." Deanda berkata dengan aura wajah dan tatapan memohonnya, membuat akhirnya Alvero mendekatkan bibirnya ke arah sendok yang terulur di depannya dan melahap salad buah yang disodorkan oleh Deanda kepadanya.
Ist, aku baru tahu kalau permaisuriku begitu menyukai rasa asam seperti ini. Apa selama ini, aku yang kurang memperhatikan hal itu?
"Bagaimana? Enak kan? Ah, bukan hanya sekedar enak, tapi terasa begitu menyegarkan." Deanda bertanya sambil dia sendiri kembali menyendok salad itu untuk dirinya sendiri, mengunyah dan begitu menikmatinya.
"Enak, tapi jauh terasa lebih enak saat aku menikmati bibirmu." Perkataan Alvero membuat Deanda membeliakkan matanya sambil menatap ke arah Alvero yang langsung tertawa, dan dengan cepat Alvero meraih kedua tangan Deanda dan merangkumnya dalam genggaman tangannya, membawanya mendekat ke arah bibirnya, dan mulai menciuminya.
Sampai berapa kali dan berapa lamapun, aku tidak pernah bosan menikmati keberadaanmu yang selalu menggetarkan hatiku. Aku benar-benar tergila-gila padamu. Wanita tercintaku, aku akan selalu ada untukmu dan selalu mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku.
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati sambil bibirnya sibuk menciumi kedua tangan Deanda yang berada dalam genggaman tangannya dengan penuh perasaan cinta dan kedua matanya terpejam.
Melihat bagaimana sikap Alvero kepadanya membuat Deanda tersenyum, dan tanpa disadari oleh Alvero yang masih asyik menciumi tangan Deanda, Deanda menggerakkan bagian atas tubuhnya agar bibirnya bisa mendekat ke wajah Alvero. Lalu dengan lembut Deanda mencium pipi Alvero yang langsung menghentikan ciumannya di tangan Deanda karena merasa sedikit kaget mendapatkan hadiah sebuah kecupan manis di pipinya.
Mendapatkan ciuman dari bibir Deanda di pipinya, Alvero langsung mendongakkan kepalanya dan menoleh ke samping, yang justru membuat Deanda langsung menyambut bibir Alvero dengan bibirnya.
"I love you my Al." Deanda berbisik pelan diantara gerakan bibirnya yang sedang mencium bibir Alvero, membuat Alvero yang masih merangkum kedua tangan Deanda dalam genggaman tangannya menurunkan tangannya ke atas meja dengan tetap menggenggam kedua tangan Deanda dengan erat.
Setelah itu Alvero langsung melompat turun dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Deanda, membalas ciuman Deanda dengan tidak kalah mesranya, bahkan beberapa saat kemudian dia harus menghentikan ciumannya saat Deanda mulai terlihat kehabisan nafasnya.
# # # # # # #
"Kami akan langsung ke kantor R&D." Ernest yang pagi ini bertugas mengantarkan Alvero dan Deanda untuk datang ke kantor langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan dari Alvero.
Dua orang pengawal segera membukakan pintu mobil untuk Deanda dan Alvero dengan sikap sigap. Begitu turun dari mobilnya, Alvero langsung berjalan memasuki gedung perkantoran Adalvino dengan langkah-langkah elegan, diikuti oleh Deanda yang berjalan di sampingnya, dan Ernest di belakang mereka berdua.
Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka langsung menyapa dan memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda.
"Kamu setuju kita kan langsung saja ke ruang devisi R&D sweety?" Alvero mencondongkan tubuhnya ke samping agar dapat berbisik pelan kepada Deanda tentang rencananya untuk bisa segera menemui Alaya dan membawanya ke Renhill untuk menemui Vincent.
__ADS_1