BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEBERADAANMU ADALAH OBAT TERBAIK UNTUKKU


__ADS_3

Aku sangat-sangat mencintaimu ... Deanda Federer


Alvero berbisik di dalam hatinya dengan matanya menatap wajah Deanda yang berada tepat di depan wajahnya dengan jarak yang cukup dekat, dan tanpa sadar, Alvero justru bergerak mendekatkan wajahnya ke wajah Deanda, membuat dia semakin mengikis jarak di antara bibir mereka.


Bibir Alvero hampir saja mendarat di bibir sensual Deanda yang tanpa sadar menutup matanya seolah memang mengharapkan Alvero mencium bibirnya, saat terdengar suara langkah kaki yang terdengar begitu tergesa-gesa mendekati mereka. Tak pelak, Alvero menjauhkan wajahnya dari wajah Deanda, yang langsung membuka matanya karena terkejut dan menyadari kalau mereka hampir saja berciuman bibir di tempat umum. Dan kesadaran yang tiba-tiba datang itu berhasil membuat wajah Deanda langsung menyemburatkan warna merah dengan postur tubuh Deanda langsung terlihat canggung, seperti anak sekolah yang hampir ketahuan sedang berusaha menyontek.


“Ehem…” Mau tidak mau, Alvero menghela nafas pelan sambil menelan kembali sesuatu yang baru saja tersangkut di tenggorokannya, karena pada saat itu juga ia harus menahan hasratnya yang baru saja bangkit dan hampir menguasai tubuhnya yang memang begitu sulit dikendalikan saat berada di dekat Deanda.


"Yang Mulia ... Permaisuri ..." Ernest yang baru saja kembali ke tempat itu segera bergegas mendekati Deanda dan Alvero, lalu berlutut dengan satu kaki di samping Deanda.


Ernest melakukannya setelah memanggil Alvero dan Deanda, tanpa sadar ia hampir saja melihat kedua tuannya berciuman jika saja langkahnya yang tergesa-gesa tidak didengar oleh kedua tuannya itu.


Menyadari kondisi tersebut, tanpa sepengetahuan Ernest, Deanda dan Alvero saling bertukar pandang dengan mata saling melirik, sembari menahan senyuman di bibir. Mereka saling memandang dengan mata yang menunjukkan bahwa mereka berdua adalah pasangan yang saat ini sedang begitu dimabuk cinta satu sama lain.


"Yang Mulia, apa Yang Mulia ingin meminum sedikit obat penawar?" Ernest bertanya sambil berusaha mengambil obat penawar alergi Alvero yang selalu dia bawa di kantong jasnya.


Mendengar penawaran dari Ernest yang selalu membawa penawar alergi Alvero, membuat Alvero langsung melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri ke arah Ernest sebagai tanda penolakan dari Alvero.


"Tidak perlu ... kondisiku sudah membaik sekarang." Alvero langsung dengan tegas menolak tawaran Ernest sambil melirik ke arah Deanda yang wajahnya masih terlihat menunjukkan sisa-sisa kekhawatiran terhadap dirinya.

__ADS_1


"Yang Mulia ... apakah Yang Mulia membutuhkan bantuan saya untuk beristirahat di kamar Anda?"Mendengar perkataan Ernest, Alvero langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingin ada yang melihat kondisiku saat ini. Sebaiknya kita menunggu sedikit lebih lama sampai aku pulih. Setelah itu aku akan beristirahat di kamarku."Ucap Alvero sambil melirik ke arah kursi yang cukup jauh dari tempatnya duduk bersandar di lantai dan sorot mata Alvero dengan jelas tertangkap oleh Ernest.


Dengan sigap Ernest segera bangkit dari lututnya, berjalan ke arah kursi yang dilihat oleh Alvero, mengangkat kursi dan meletakkannya di dekat Alvero.


“Sebaiknya Yang Mulia duduk di kursi agar jika ada yang melihat Yang Mulia, tidak curiga dengan kondisi Yang Mulia. Seperti yang telah dilihat oleh Nona Alaya sebelumnya. Saya sudah mengingatkan nona Alaya untuk melupakan apa yang dilihat Nona Alaya tentang Yang Mulia hari ini. Semoga Nona Alaya bisa dipercaya. ”Mendengar kata-kata Ernest, Alvero sedikit mengernyit.


"Ernest, masalah Alaya ... Aku ingin penyelidikan tentang dia diselesaikan secepatnya. Jika dia di pihak Eliana, segera singkirkan dia dari perusahaan Adalvino." Alvero memberi perintah kepada Ernest sambil dia menggerakkan tangannya, memegang pegangan kursi yang sudah disiapkan Ernest untuknya.


Melihat apa yang dilakukan Alvero, Deanda segera menggerakkan tangannya untuk membantu Alvero.


“Permaisuri, izinkan saya membantu memindahkan tubuh Yang Mulia agar dapat duduk dengan nyaman di kursinya." Kata Ernest sambil mendekati Alvero, mencoba membantunya bangkit dari kursinya, memindahkannya ke kursi yang telah dia persiapkan.


Begitu Alvero sudah dalam posisi duduk di kursi, Ernest segera mengambil kursi lain dan meletakkannya di samping kursi yang digunakan Alvero, agar Deanda bisa duduk di sana mendampingi Alvero.


"Terima kasih Ernest." Deanda berkata sambil mengambil posisi duduk di sebelah Alvero.


"Ya, Permaisuri." Ernest segera menanggapi kata-kata Deanda dengan cepat sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ernest. Ambil kursi lain untukmu, jadi kita bisa mengobrol bersama." Deanda langsung memerintahkan Ernest duduk bersama mereka berdua sembari menunggu kondisi Alvero pulih.


Tanpa menunggu diperintahkan untuk kedua kalinya, Ernest langsung melaksanakan perintah dari Deanda yang perhatiannya masih tertuju pada sosok Alvero.


Deanda begitu telaten menunggu dan mengamati kondisi Alvero hingga sembuh total dari alerginya.Saat berbicara dengan Ernest dan Alvero, Deanda sesekali melirik ke arah Alvero, sedangkan tangan kiri Deanda masih dipegang erat oleh Alvero tanpa terlepas sedetik pun.


"Alangkah baiknya jika Yang Mulia selalu memakai sarung tangan saat menghadiri acara di luar istana yang melibatkan banyak orang seperti hari ini. Agar kejadian seperti hari ini tidak terulang kembali." Ernest berkata dengan hati-hati, berusaha memberi saran agar Alvero lebih berhati-hati dengan memakai sarung tangan ke depannya, mengingat kondisi alergi Alvero belum membaik meski untuk saat ini Alvero mungkin sudah tidak membutuhkan penawar lagi karena Deanda ada di sampingnya.


"Tidak perlu. Selama kamu bisa menjaga wanita lain agar tidak mendekatiku, apalagi menyentuhku, kamu tahu itu tidak akan pernah menjadi masalah. Lagipula, yang terjadi hari ini sebagian besar adalah kesalahanmu! Bagaimana kamu sebagai pengawal pribadiku, bisa meninggalkan aku begitu lama dan menjauh dariku! "Alvero berkata dengan nada yang terdengar agak tinggi dan terlihat kesal.


"Ah ... ya ... maaf Yang Mulia."Ernest langsung tergagap saat mendengar kata-kata Alvero yang terdengar menyudutkan dan menyalahkannya atas apa yang terjadi padanya.


Deanda sendiri mendengar perkataan Alvero yang cukup menusuk, langsung menahan senyum geli, dan di saat yang sama menghela nafas lega. Melihat Alvero sudah mulai mengucapkan kata-kata pedasnya, berarti kondisi Alvero sudah hampir pulih total.


"Yang Mulia ... Ernest tidak melakukan itu dengan sengaja. Dia tadi sedang minum soda untuk mengatasi mabuknya. Maafkan Ernest." Deanda berkata lembut sambil melirik ke arah Ernest yang wajahnya tampak gelisah karena rasa bersalah setelah menerima teguran dari Alvero akibat peristiwa barusan.


"Cih .... untungnya permaisuri selalu membelamu! Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan untuk permaisuri jadi dia selalu meminta maaf untuk kesalahanmu!" Tawa geli hampir tidak bisa lagi ditahan oleh Deanda yang mendengar kata-kata Alvero dengan nada tinggi, yang sepertinya sibuk menyalahkan Ernest.


"Saya juga ikut bersalah atas peristiwa yang menimpa Yang Mulia. Karena membantu anak kecil yang hampir jatuh, saya butuh waktu lama untuk kembali, sehingga meninggalkan Yang Mulia sendirian." Mendengar kata-kata maaf Deanda, sukses membuat Alvero menarik napas dalam-dalam dan membatalkan niatnya untuk kembali mengomel pada Ernest.

__ADS_1


"Tidak masalah sweety. Yang penting sekarang kamu sudah kembali di sisiku." Nada suara Alvero yang tiba-tiba berubah menjadi lembut dengan tatapan yang juga menatap dengan penuh kasih pada Deanda nyaris membuat bibir Ernest terbuka lebar karena melihat peristiwa di depannya.


Bagaimana kata-kata dari Deanda langsung menyebabkan perubahan sikap dan tindakan Alvero dengan begitu drastis. Dari wajah dan kata-kata sinis berubah menjadi begitu lembut dan penuh kasih sayang saat menatap ke arah Deanda, membuat Ernest betul-betul terheran-heran.


__ADS_2