
"Apa yang sedang kamu pikirkan sweety?" Alvero bertanya sambil meletakkan dagunya di antara ceruk leher Deanda dan bahunya, dengan kedua tangan masih melingkar di perut Deanda dengan erat.
Suara lembut dan hembusan nafas yang hangat dari hidung Alvero membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam. harus diakuinya, keberadaan Alvero selalu saja bisa menenangkan pikirannya yang sedang keamna-mana membayangkan apa yang akan mereka lakukan subuh nanti, menyelinap keluar dari sitana tanpa diketahui oleh orang lain.
"Apa rencana kita di kota Renhill akan berhasil my Al? Aku belum pernah melakukan hal seperti itu. Semoga aku tidak menjadi beban, dan bisa benar-benar membantumu." Deanda menjawab pertanyaan Alvero dengan suara yang terdengar ragu.
Selama ini walaupun Deanda cukup mumpuni dalam hal beladiri, tapi dia belum penah sekalipun melakukan hal seperti yang akan dilakukannya bersama Alvero.
"Keberadaanmu saja sudah cukup membantuku. Membuatku merasa lebih tenang dan percaya diri." Alvero berkata sambil mengecup mesra leher jenjang Deanda, diikuti dengan tarikan nafas dalam-dalam yang dilakukan oleh Alvero untuk menghirup bau harum tubuh istrinya.
"Jangan terlalu memandang remeh kemampuanmu sweety. Kamu wanita yang hebat dan luar biasa. Kita berdua pasti bisa melakukan semuanya dengan baik. Percayalah padaku, karena aku juga percaya sepenuhnya kepadamu." Alvero kembali mengucapkan kata-kata untuk menenangkan Deanda, yang akhirnya tersenyum dengan wajah terlihat lega karena kata-kata Alvero sungguh seperti obat penenang baginya.
Untuk beberapa saat mereka dalam posisi seperti itu sambil menikmati langit malam yang terlihat cerah, dengan bintang-bintang yang tampak bersinar terang, seolah malam ini cerahnya langit malam menunjukkan dukungan mereka terhadap rencana Alvero dan Deanda.
Walaupun untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri, berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Namun, tanpa mereka sadari, baik Alvero dan Deanda sama-sama sedang memikirkan perjalanan mereka ke Renhill besok pagi, dan sama-sama berdoa dan berharap bahwa rencana mereka di Renhill dapat berjalan dengan lancar. Baik rencana untuk membantu hubungan Melva dan Enzo, ataupun rencana untuk menemui Vincent, mencari jawaban atas peristiwa yang menimpa Alexis belasan tahun yang lalu.
Berharap Vincent mau mengatakan kebenaran yang tejadi di balik peristiwa itu. Dan bagi Deanda, harapan terbesarnya adalah mendengar kenyataan bahwa papanya. Alexis Federer, yang dikenalnya sebagai seorang ayah yang begitu baik dan penuh penganyoman, bukanlah orang jahat yang bisa melakukan tindakan serendah yang sudah dituduhkan kepadanya saat itu.
__ADS_1
# # # # # # #
"Apa kamu sudah siap?" Alvero bertanya kepada Deanda yang sudah mengenakan celana jeans berwarna hitam dan kaos tanpa kerah berwarna biru gelap, dengan jaket jeans berwarna hitam juga.
Dan pakaian yang hampir sama, juga dikenakan oleh Alvero yang baru saja melirik ke arah jam di dinding yang menunjukkan bahwa sekarang masih pukul 3 dini hari. Alvero mengenakan celana jeans warna biru gelap, dengan kaos lengan panjang tanpa kerah berwarna hitam.
“Sudah. Aku sudah siap. Kita pergi sekarang?” Deanda bertanya sambil meraih tas ransel yang ada di atas meja, berisi semua keperluannya selama di kota Renhill.
Belum lagi Deanda berhasil meraih tas ranselnya, tangan Alvero bergerak dengan cepat meraih tas ransel Deanda, lalu mengalungkan tali tas ransel itu ke bahunya.
“Aist… tas ransel seringan ini, biar aku yang membawa kedua-duanya.” Alvero berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, berusaha menghindari gerakan tangan Deanda yang hendak mengambil tas ransel miliknya dari punggung Alvero.
Melihat Alvero yang dengan gesit menghindar darinya, Deanda langsung menghentikan gerakannya yang dia tahu akan sia-sia jika diteruskan.
"Berikan padaku atau aku akan menganggap keikutsertaanku kali ini menjadi beban untukmu." Deanda berkata dengan nada santai, tapi Alvero tahu bahwa kata-kata Deanda menunjukkan keseriusannya untuk tidak mau Alvero membawakan tas ransel miliknya.
"Baiklah, asal jangan lagi memasang wajah cemberut seperti itu." Akhirnya Alvero memilih untuk mengalah dengan melepaskan tali tas ransel milik Deanda dari punggungnya.
__ADS_1
Dan dengan gerakan secepat kilat, tanpa Deanda sempat menghindar, Alvero mengecup cepat bibir istrinya, yang membuat wajah Deanda memerah.
Yang mulia... sempat-sempatnya mencuri ciuman di saat seperti ini.
Deanda berkata dalam hati sambil sedikit menggigit bibir bawahnya, merasakan jantungnya ikut bereaksi atas tindakan mesra Alvero barusan walaupun hanya sekilas, bahkan tidak lebih dari sedetik. Sebuah kecupan ringan yang mampu memberikan semangat buat Alvero, dan memberikan getaran di hati Deanda, yang selalu merasakan perlakuan mesra Alvero menjadikannya wanita yang begitu dimanjakan dan disayang oleh suami tercintanya.
"Terimakasih untuk kecupan yang penuh dengan aliran semangat dari hatimu." Alvero berkata sambil jari telunjuknya menyentuh dada Deanda yang hanya tersenyum geli mendengar kata-kata Alvero.
Deanda baru saja mengulurkan tangannya, berniat untuk meraih tas ranselnya dari tangan Alvero, tapi dengan gerakan cepat, Alvero berjalan mendekat ke arah Deanda, menggerakkan tangannya yang memegang tas ransel Deanda ke arah punggung Deanda, lalu memakaikan tas itu ke Deanda.
Begitu tas ransel milik Deanda sudah terpasang di punggungnya, Alvero memeluk tubuh Deanda pelan dengan lengannya, sebelum meraih tas ransel miliknya sendiri.
"Kita akan segera berangkat, semoga kita berhasil dalam misi kita kali ini." Alvero berbisik pelan di telinga Deanda, sambil menepuk-nepuk tas ransel yang menutupi punggung Deanda sebelum akhirnya melepaskan pelukannya, meraih tas ransel miliknya sendiri dan mengenakannya di punggung.
"Ayo kita berangkat sekarang." Alvero berkata sambil meraih pergelangan tangan Deanda, memegangnya dengan erat, dan menariknya, mengajaknya mendekat ke arah jendela kamar mereka yang tertutup rapat oleh tirai, setelah sebelumnya dengan sengaja Alvero mematikan lampu yang menerangi bagian luar jendela kamarnya. Membuat suasana di sekitar kamar mereka, terutama bagian luar menjadi gelap. Untuk membantu mereka berdua menyelinap dengan lebih mudah tanpa diketahui orang lain.
Note : Up satu eps lagi untuk memuaskan para pembaca, terutama yang merindukan crazy up yang sudah lama belum bisa dikabulkan oleh author. Jangan lupa vote, like, dan komennya ya (untuk memberi semangat author yang lagi manja, karena beberapa hari ini like dan jumlah pembaca turun terus untuk novel ini 😁😁😁😁). Terimakasih untuk dukungannya terhadap novel ini. Semoga bisa terus berlanjut dengan lancar dan selalu bisa memuaskan para pembaca tercinta.
__ADS_1