
"Cepat!" Ernest langsung berteriak keras sambil menunggang kuda yang dibawa oleh salah satu pengawal yang mendampingi Alvero dan Deanda sambil, memintanya untuk turun agar Ernest bisa menggantikannya menunggang kuda itu supaya bisa ikut mengejar white angel bersama Alvero.
Sambil berteriak keras, Ernest memberikan tanda kepada para pengawal yang lain untuk segera menyusul ke Alvero yang sedang mengejar white angel, setelah itu Ernest memberikan kode kepada Aaron agar memberikan peringatan kepada para pangeran dan putri yang lain agar sementara waktu menghentikan kegiatan berkuda mereka sampai kondisi aman kembali. Setelah itu dengan cepat Ernest mencambuk bagian belakang kuda yang ditungganginya agar berlari dengan cepat menyusul Alvero dan Deanda.
Dion yang awalnya berkuda berdampingan dengan Desya langsung menarik tali kekang kudanya kuat-kuat begitu melihat ada sesuatu yang tidak beres saat dia melihat ke arah kuda jenis Appaloosa berwarna putih berbintik yang sedang ditumpangi oleh Deanda. Kuda itu terlihat berlari dengan kencang dengan gerakan tidak lurus dan sesekali meringkik sambil berdiri dengan kedua kakinya dengan sikap memberontak, seolah sengaja berbuat seperti itu agar orang yang sedang duduk di punggungnya terlempar dari punggungnya.
Haist! Apa yang sedang terjadi dengan kuda Deanda? Apa dia tidak tahu itu sangat berbahaya? Kenapa tiba-tiba white angel hilang kendali seperti kuda gila seperti itu? Seingatku white angel kuda yang sangat jinak.
Dion berkata dalam hati sambil mengehntakkan kaki dan tali kekang kudanya, membuat kudanya berbelok arah kiri dan berlari ke arah white angel dan Deanda.
Sial! Dasar kak Alvero! Bagaimana caramu menjaga istrimu? Bagaimana bisa kamu membiarkan kejadian berbahaya seperti ini menimpa istrimu? Harusnya dari awal kamu menemani Deanda menunggang white angel! Bukan justru membiarkan Deanda sendirian seperti itu! Suami macam apa kamu ini!
Dion memaki Alvero dalam hati tanpa tahu kejadian sebenarnya. Tanpa sadar apa yang dilihatnya saat ini, membuat Dion ikut khawatir terhadap keselamatan Deanda, bahkan boleh dibilang sangat khawatir, sehingga tanpa sadar Dion berusaha mengejar white angel tanpa memperdulikan bahwa Alvero juga sedang melarikan kudanya ke arah white angel.
__ADS_1
Dengan dada berdegup kencang Alvero memaksa black thunder untuk berlari secepat mungkin agar bisa segera mengejar white angel. Setelah beberapa lama Alvero memacu black thunder seperti orang gila, pada akhirnya Alvero bisa berada di samping posisi white angel yang masih berlari kencang sambil menggerak-gerakkan dan menghentak-hentakkan kaki dan tubuhnya dengan gerakan tidak beraturan sambil kadang melompat-lompat dan berdiri dengan kedua kaki belakangnya, bahkan kadang menungging dengan kedua kaki depannya dan kedua kaki belakangnya menendang-nendang ke belakang dan beberapa kali meringkik dengan suara sangat keras.
"Sweety... jangan panik... tenangkan dirimu... Aku akan segera menolongmu. Semua akan baik-baik saja." Begitu black thunder dan dirinya berada di samping white angel dan Deanda, Alvero berkata untuk menenangkan Deanda walaupun dia sendiri dalam kondisi tidak tenang karena begitu mengkhawatirkan Deanda.
Alvero berusaha menjaga kecepatan lari black thunder agar sesuai dengan kecepatan white angel, sambil mata hazelnya mengamati wajah white angel yang menunjukkan tanda tidak nyaman, bahkan terlihat kesakitan.
Ketika mata Alvero bergerak ke arah tubuh white angel, Alvero langsung menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Dan setelah Alvero yakin dengan apa yang dilihatnya, mata Alvero langsung terbeliak melihat ada bercak-bercak berwarna merah yang mengotori bulu white angel di balik pelananya.
Alvero menahan nafasnya ketika melihat wajah istrinya yang walaupun wajahnya tampak tenang tapi Alvero bisa melihat dalam tatapan mata Deanda terlihat adanya kecemasan, karena bagaimanapun juga, Deanda tidak memiliki pengalaman sedikitpun dengan kuda.
"Aku akan membuat black thunder berlari tepat di sebelah white angel, sejajar dengannya, dengan kecepatan stabil. Jika kamu mendengar aba-abaku, kamu harus melompat ke arahku. Aku akan menarikmu menjauh dari white angel!" Alvero berkata sambil melirik kembali ke arah bercak-bercak merah di tubuh white angel yang terlihat semakin banyak.
Walaupun dengan penuh percaya diri Alvero mengatakan rencananya kepada Deanda, saat ini dadanya benar-benar berdegup dengan kencang karena begitu takut Deanda akan terluka jika apa yang akan mereka lakukan bersama nanti gagal. Membayangkan resiko besar yang terjadi jika rencananya gagal cukup membuat Alvero bahkan saat ini ingin berteriak sekencang-kencangnya untuk melepaskan tekanan dalam dadanya. Jika sampai Deanda jatuh saat melompat, bisa dipastikan kaki dari black thunder ataupun white angel akan menginjak-injak tubuh istrinya tanpa bisa dia hentikan.
__ADS_1
Sedangkan Deanda yang merasa tidak dapat berbuat apa-apa hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menanggapi perkataan Alvero, karena dia sendiri tidak tahu lagi apa yang bisa diperbuatnya saat ini.
"Sweety! Dalam hitungan ketiga, kamu harus segera berdiri dan menjauhkan tubuhmu dari pelana white angel, tumpukan kekuatan pijakan kakimu pada kaki kirimu di sanggurdi sebelah kiri! Setelah itu kamu harus segera melompat ke kiri! Lompat ke arahku! Aku akan menangkap tubuhmu!" Deanda kembali mengangguk mendengar perintah dari Alvero.
"Tolong fokus padaku sweety! Percayalah padaku! Tidak boleh ada kesalahan! Kita hanya memiliki satu kesempatan! Jangan sampai gagal atau akan fatal akibatnya! Lihat aku baik-baik! Fokus padaku!" Alvero berteriak sambil melirik ke arah Deanda yang sedang mengatur nafasnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan Alvero.
"Persiapkan dirimu sweety! Kamu pasti bisa!" Alvero berteriak sambil melepaskan tangan kanannya melepaskan tali kekang pada black thunder, membiarkan tangan kirinya yang memegang kendali atas kekang black thunder, sedang tangan kanannya bersiap meraih tubuh Deanda, yang tampak sudah bersiap melakukan perintah dari Alvero.
"Satu! Dua! Tiga! Lompat!" Alvero berteriak keras.
Bersamaan dengan teriakan Alvero, Deanda melakukan tepat seperti perintah Alvero, menumpukan berat tubuhnya pada kaki kirinya yang memijak sanggurdi atau strirrup sambil mengangkat tubuhnya dari pelana sehingga posisi tubuhnya berdiri dan dengan cepat mengangkat kaki kanannya dan melompat ke arah Alvero yang dengan cepat lengan kanannya menyambar pinggang ramping istrinya dan langsung menarik tubuh itu ke arahnya, lalu mendudukkannya dalam posisi miring di depannya, di atas punggung black thunder dan langsung memeluk tubuh itu dengan begitu erat sambil menarik nafas dalam-dalam, menghujani bahu Deanda dengan ciuman yang bertubi-tubi, menghirup bau khas tubuh Deanda untuk meyakinkan dirinya bahwa Deanda sudah berada dalam pelukannya, dan kondisinya baik-baik saja.
Begitu Alvero berhasil menempatkan tubuh istrinya di atas punggung black thunder dengan aman dalam posisi duduk miring di depannya dengan cepat Alvero menarik tali kekang black thunder agar kuda itu menghentikan larinya dan berjalan normal. Setelah itu tangan Alvero langsung bergerak memberikan tanda agar setiap orang dan pengawal yang mengikutinya membalikkan tubuh mereka darinya dan Deanda, agar para pengawal itu tidak melihat apa yang akan dilakukannya terhadap Deanda sebagai ungkapan rasa lega sekaligus bersyukurnya karena mereka berdua bisa melewati dengan baik kejadian buruk yang baru saja terjadi.
__ADS_1