
Untuk para pembaca tercinta.... Seperti janji author, begitu ada waktu, akan ada ekstra part untuk novel ini. Terimakasih untuk dukungan setianya kepada author dan novel ini. Semoga suka.....
"Alvero, please... jangan menertawakanku. Aku serius ini." Enzo berkata dengan nada protesnya, matanya manandang tajam ke arah Alvero yang sedang menertawakannya.
"Bagaimana kalau nantinya terjadi sesuatu? Bagaimana kalau aku tidak bisa membahagiakan Melva? Bagaimana kalau dia kecewa? Bagaimana kalau...."
"Bagaimana kalau sekarang kamu kembali ke kamar pengantinmu dan melakukan kewajiban pertamamu sebagai suami?" Alvero berkata dengan tawanya yang terdengar semakin keras.
Hari ini adalah hari pernikahan Enzo dan Melva. Sebuah acara perayaan mewah dan megah yang disaksikan oleh seluruh rakyat Gracetian, juga jutaaan orang di luar negeri yang menyaksikan langsung baik lewat televisi atau situs resmi channel youtube milik kerajaan Gracetian.
Begitu acara selesai, yang pertama-tama dilakukan oleh Enzo bukannya menemani Melva menuju kamar pengantinnya, tapi justru sibuk mencari Alvero yang baru saja mengajak mengobrol Vincent dan Larena, setelah dia ke kamarnya untuk mengganti pakaian kebesarannya sebagai Raja Gracetian yang juga harus mengikuti acara pernikahan Enzo dari awal sampai selesai.
Di acara resmi pernikahan para pangeran dan putri Gracetian, Raja Gracetian harus selalu hadir, untuk memberikan berkat dan restunya kepada kedua mempelai.
Menunjukkan bahwa sebagai penguasa tertinggi negara itu memberikan ijin, mendukung, dan juga mensahkan pernikahan tersebut, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu gugat pernikahan itu.
Awalnya, Alvero sengaja ingin menemui Ornado, Dave dan James yang sedang bersantai di taman istana setelah acara pernikahan Enzo. Namun baru saja Alvero memasuki wilayah taman istana, tangannya sudah dicekal oleh Enzo yang wajahnya tampak kebingungan.
“Ada apa denganmu Enzo? Bukankah Melva adalah gadis yang begitu kamu inginkan untuk menjadi istrimu? Hari ini kalian sudah menikah, apalagi yang membuatmu gelisah seperti itu?” Alvero berkata sambil menyungingkan senyum geli.
Bagaimana tidak? Masalah wanita, harusnya Enzo jauh lebih berpengalaman dari Alvero, tapi hari ini Enzo justru terlihat seperti laki-laki polos yang terlihat gelisah menghadapi hari besar yang sudah ditunggu-tunggunya.
“Apa yang sedang kalian ributkan?” Ornado yang sedang berjalan Enzo dan Alvero langsung bertanya dengan Dave dan James yang mengekor di belakang Ornado.
__ADS_1
“Tanya saja pada Enzo. Sepertinya dia terlihat begitu gelisah menjelang malam pertamanya.” Baik Ornado, James maupun Dave langsung tertawa mendengar perkataan dari Alvero.
“Memang kenapa denganmu Bung? Apa kamu ada masalah dengan senjata milikmu?” Enzo langsung melotot mendengar ejekan dari James.
“Jangan meragukan kejantananku….” James langsung menutup bibir Enzo yang mengucapkan kata-katanya dengan suara keras, dengan telapak tangannya begitu melihat Larena yang sedang berjalan dengan Alaya, melewati tempat para lelaki tampan itu berkumpul.
“Hist! Jaga kata-katamu Enzo, jangan mempermalukan kita di depan ibu suri dan Alaya yang masih lajang…” Alvero berbisik pelan setelah Larena dan Alaya berjalan menjauh dari posisi mereka.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu? Tingkahmu aneh-aneh saja di hari pernikahanmu.” Ornado berkata sambil memandang serius ke arah Enzo.
“Eh, begini… Melva mengatakan padaku bahwa dia tidak ingin hamil sebelum acara pameran akbar lukisan yang dilakukannya 6 bulan lagi selesai dilaksanakan. Tapi, dokter mengatakan kalau kondisi kandungan Melva tidak memungkinkan untuk dia memakai alat kontrasepsi, atau ke depannya kami justru akan susah memiliki anak.” Enzo menjelaskan dengan wajah terlihat bingung.
“Lalu apa masalahnya? Kamu pakai pengaman saja kan selesai masalahnya.” Dave berkata pelan, menyampaikan idenya pada Enzo yang justru melotot karena perkataan Dave.
“Tidak mau, ini malam pertamaku. Aku tidak bisa melakukan itu. Melva juga tidak akan setuju….”
Ornado sendiri langsung menghela nafasnya mendengar perkataan dari James.
“Haist, memang ada-ada saja kalian berdua ini. Anak adalah rejeki yang paling berharga dalam sebuah pernikahan. Kalau kalian sudah menikah, berarti sudah siap untuk memiliki anak. Dan kalau kalian tanya padaku bagaimana cara menunda kehamilan, aku tidak bisa menjawabnya karena aku tidak bisa melakukannya. Cladia langsung hamil setelah malam pertama kami.” Alvero langsung tertawa tergelak mendengar perkataan Ornado.
“Sudahlah Enzo, jalani saja. Benar kata Ad, anak adalah hadiah besar dalam sebuah pernikahan. Atau kalau tidak, tunda malam pertamamu sampai 6 bulan ke depan.” James berkata kepada Enzo sambil menepuk-nepuk lengan Enzo dengan wajah yang sengaj dia buat seperti orang yang sedang berduka.
Perkataan James membuat Ornado meringis, karena tahu saat menikah dengan Elenora, James harus menahan dirinya untuk menikmati indahnya malam pertama mereka lebih dari sebulan karena kesalahpahaman yang saat itu belum dibereskan antara mereka berdua.
__ADS_1
Ornado tahu, itu pasti bukanlah hal yang mudah untuk menahan hasrat seorang laki-laki kepada wanita yang dicintainya, apalagi sudah menjadi istrinya secara sah, karena meskipun dia tidak menunda malam pertamanya, dia tahu dengan jelas bagaimana rasanya, karena dia juga harus menunggu Cladia cukup lama untuk siap dan merelakan dirinya menjadi istri yang sebenarnya bagi Ornado.
Dan Ornado tersenyum geli ketika menyadari bahwa diantara mereka, Dave dan James mengalami nasib yang sama dengannya, meskipun kasus yang terjadi pada mereka berbeda-beda.
“Kalau begitu, que sera sera. (Apa yang terjadi, terjadilah). Aku akan mengikuti apa kata Ornado saja.” Enzo berkata sambil meringis, apalagi melihat yang lain sedang menertawakannya.
“Yang Mulia Alvero….” Suara panggilan dari nyonya Rose membuat Alvero langsung menoleh ke arahnya.
“Kenapa Nyonya Rose? Apa ada sesuatu yang penting?”
“Maaf Yang Mulia, permaisuri Deanda sedang mencari Yang Mulia. Sepertinya permaisuri sedang menginginkan sesuatu untuk makan malamnya.” Alvero yang mendengar penjelasan dari nyonya Rose langsung tersenyum.
Di usia kehamilannya yang sudah tidak lagi muda, entah kenapa Deanda yang dulunya tidak rewel dalam hal makanan, justru sekarang menjadi rewel.
Dan rata-rata, makanan yang diinginkan oleh Deanda adalah makanan yang berasal dari daerah Asia. Itu terjadi beberapa bulan setelah Alvero dan Deanda menghabiskan waktu berlibur di Indonesia untuk menikmati baby moon mereka.
“Ah, hanya masalah itu. Turuti saja permintaan permaisuri apapun itu. Kenapa harus bingung untuk masalah kecil seperti itu Nyonya Rose?” Pertanyaan Alvero membuat nyonya Rose memandang Alvero dengan sikap ragu.
“Karena… yang diinginkan permaisuri kali ini, sedikit… berbeda… Yang Mulia. Saya tidak yakin Yang Mulia bisa memenuhinya.” Alvero dan yang lain terlihat mengernyitkan dahinya mendengar perkataan dari nyonya Rose.
“Memang apa yang sedang diinginkan permaisuriku?”
“Anu… Yang Mulia… durian… pemaisuri ingin menikmati jus durian bersama Yang Mulia….” Nyonya Rose akhirnya mengatakan keinginan Deanda dengan suara pelan, sambil memandang ke arah Alvero yang matanya melotot dengan sempurna.
__ADS_1
Dari awal yang membuat nyonya Rose ragu mengatakan keinginan Deanda, karena dia tahu kalau Alvero begitu tidak sukanya dengan durian, yang baginya merupakan buah berbau aneh dan membuatnya ingin muntah setiap kali membau buah yang baunya sungguh menyengat, dan bagi Alvero bukan harum, tapi berbau busuk.
“Ha… ha… ha… nikmati malam ini bersama permaisurimu dengan buah duriannya, dan aku akan menikmati malam indahku dengan Melva.” Enzo berkata sambil tertawa puas melihat bagaimana wajah Alvero yang menunjukkan tanda-tanda ingin muntah hanya dengan mendengar kata durian.