BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEDIKIT BANTUAN DARI ORNADO


__ADS_3

"Dalam hal ini, saya hanya mengungkapkan apa yang saya inginkan, karena sebenarnya itu juga adalah hak saya. Saya sudah berhasil melakukan apa yang diperintahkan oleh ibu suri untuk meracuni pemaisuri Deanda. Jika Ibu suri merasa keberatan.... Kalau begitu, Ibu Suri bisa memikirkannya terlebih dahulu. Tapi saya tidak bisa memberi Ibu Suri lebih banyak waktu. Saya akan menunggu secepatnya kabar dari Ibu Suri. Kurang dari 24 jam dari sekarang, saya harap Ibu Suri segera memberikan saya jawaban atau saya akan langsung menemui Yang Mulia Alvero dan menceritakan semuanya kepada Yang Mulia Alvero apa saja yang sudah aku lakukan selama ini." Tanpa menunggu jawaban dari Eliana, dengan sengaja Erich langsung memutus panggilan telepon Avitus dengan Eliana, diikuti senyum sinis dari Alvero, meninggalkan kemarahan sekaligus rasa cemas bagi Eliana.


Bagaimanapun, Eliana tahu, sedikit banyak Avitus memegang beberapa rahasia yang dimilikinya bersama kelompok pemberontak yang selama ini dilatihnya. Bahkan Avitus sedikit banyak mengetahui tentang hubungan gelapnya dengan Rolland.


Jika Avitus menyeberang ke pihak Alvero, tentu saja hal itu akan menjadi suatu kerugian yang besar bagi Eliana. Dan bukan hanya kerugian, tapi sebuah bahaya besar bagi Eliana.


"Kita lihat saja Avitus! Seperti apa wanita yang selama ini kamu layani, sampai kamu dengan bodohnya dan rela mempertaruhkan nyawa dan keselamatan dirimu sendiri dan keluargamu." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Avitus kembali.


Avitus hanya bisa menarik nafas panjang dan terduduk lemas, sambil melihat sosok Alvero yang keluar dari pintu ruangannya. Rasanya saat ini dada Avitus dipenuhi dengan penyesalan tiada akhir, memikirkan bagaimana dia sudah mengkhianati Raja Gracetian itu. Sebuah keputusan salah dan juga fatal, dan sepertinya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.


Dengan langkah pasti dan tanpa menoleh lagi, Alvero berjalan keluar dari ruangan temapt Avitus ditahan, dan langsung masuk ke dalam mobilnya, dengan Erich dan Ernest yang segera duduk di bagian depan mobil. Erich di bagian pengemudi, dan Ernest duduk di sebelahnya.


"Buonasera Ornado. Ah, voglio dire a messanotte li. Ti sto distubando? " (Selamat malam Ornado. Ah, maksudku tengah malam di sana. Apa aku mengganggumu?) Begitu Alvero duduk di dlaam mobilnya, Alvero langsung meraih handphonenya dan menghubungi Ornado, yang langsung mengangkat teleponnya begitu melihat siapa yang sedang menghubunginya.


Sebenarnya Alvero sendiri lupa jika selisih waktu di Indonesia lebih cepat sekitar 5 jam dari Gracetian. Jadi, saat ini di sana pasti sudah tengah malam. Tapi karena Ornado terlanjur mengangkat panggilan teleponnya, akhirnya mau tidak mau Alvero meneruskan pembicaraan mereka.

__ADS_1


"Come Alvero? è andato tutto liscio?" (Bagaimana Alvero? Apa semuanya berjalan dengan lancar?) Ornado berkata sambil melirik ke arah istrinya Cladia sudah tertidur dengan nyenyak, sambil tersenyum dengan wajah bahagia, karena malam ini adalah malam pertama dimana Cladia memutuskan untuk mau berada dalam satu kamar dengan Ornado.


Dan wanita cantik itu tadi sore mengatakan padanya tentang sebuah janji dari bibirnya, untuk mulai belajar mencintainya.


Sebuah hal yang membuat Ornado merasa begitu bahagia, setelah selama 15 tahun dia selalu menjaga cintanya untuk Cladia, dan sekarang Cladia bersedia menerima dan membalas cintanya.


Melihat bagaimana pulasnya tidur istrinya, membuat Ornado memutuskan untuk segera berjalan menjauh dan masuk ke kamar sebelah yang dihubungkan oleh sebuah pintu, agar pembicaraannya dengan Alvero tidak mengganggu tidur Cladia.


Beberapa jam sebelumnya, Alvero sengaja menghubungi Ornado untuk meminta bantuan tim IT milik Ornado yang dikenal hebat, yang ada di Italia. Alvero meminta agar Ornado bisa membuat orang lain tidak bisa melakukan pelacakan terhadap lokasi Avitus saat Avitus melakukan panggilan kepada Eliana.


Alvero sengaja meminta Avitus berpura-pura di depan Eliana dan mengakui bahwa orang-orang yang sudah menyelamatkan anak dan istrinya adalah orang-orang yang sudah dibayar oleh Avitus sendiri.


"Aku lupa bahwa di sana sudah tengah malam. Berkat bantuanmu, sepertinya semua berjalan dengan lancar. Terimakasih untuk hari ini Ad." Alvero berkata sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Dengan senang hati Yang Mulia." Mendengar candaan Ornado dengan cara memanggilnya yang mulia, Alvero langsung tertawa.

__ADS_1


"Ah, ada satu hal lagi yang pasti akan membuatmu senang Alvero. Aku sudah menemukan info tentang waktu dan tempat dimana tepatnya transaksi pembelian senjata ilegal antara orang-orang ibu tirimu dan salah satu kelompok mafia di Italia. Bahkan aku sudah berhasil menangkap residivis yang menjadi perantara mereka. Sebelum aku menyerahkan residivis itu kepada pihak berwenang Italia. Apa ada yang inginkan untuk aku lakukan Alvero?" Mendengar perkataan Ornado, Alvero langsung tersenyum dengan wajah terlihat lega.


Ah, sedari dulu, dalam hal yang berkaitan dengan dunia bawah tanah, kamu memang selalu menjadi orang bisa diandalkan Ad.


Alvero berkata dalam hati sambil mengalihkan padangan matanya keluar jendela mobilnya, dimana langit terlihat begitu gelap karena mendung.


"Terimakasih untuk bantuanmu Ad. Eh, kalau begitu, bisakah transaksi senjata itu dibatalkan Ad? Bisakah kamu membantuku untuk hal itu?" Mendengar permintaan Alvero, Ornado langsung tertawa kecil.


"Kenapa denganmu hari ini Alvero? Kenapa kamu telihat begitu sungkan untuk menyampaikan permintaanmu padaku?" Perkataan Ornado membuat Alvero tersenyum.


Sejak masa kuliah, Ornado selalu saja dengan ringan tangan membantunya, dan selalu ada di sisinya saat dia membutuhkan bantuan, seperti ketika Eliana sibuk mengejar-ngejar dan berusaha membunuhnya dulu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2