BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
KEMESRAAN YANG MEMBUAT IRI


__ADS_3

Ck ck ck... dasar Alvero! bisa-bisanya selalu memamerkan kemesraan di hadapan orang lain. Apa dia tidak memiliki simpati sedikitpun terhadap aku yang masih harus berjuang keras untuk mendapatkan hati Melva. Belum lagi uncle Vincent yang sudah lama kehilangan aunt Larena. Dasar Alvero tidak berperasaan!


Enzo mengomel dalam hati namun akhirnya menyungingkan senyum di bibirnya, ikut senang mendengar cerita yang begitu manis antara Alvero dan Deanda, yang ternyata sudah berjodoh sejak mereka masih kanak-kanak.


Semua orang punya kisah cintanya sendiri-sendiri. Dan untuk saat ini, aku harus berjuang untuk membuat kisah cintaku sendiri yang indah bersama orang yang aku cintai dan berjodoh denganku. Dan aku harap Melva adalah benar jodohku, seperti Alvero dan Deanda yang menemukan jodohnya dengan cara yang begitu indah, yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka berdua, seperti sebuah cerita dongeng Cinderella dan pangerannya.


Enzo kembali berkata dalam hati, lalu menikmati potongan steak dagingnya yang merupakan potongan terakhir yang ada di piringnya. Melihat kemesraan Alvero dan Deanda, membuat Enzo tiba-tiba saja merasa begitu merindukan suara lembut Melva, yang beberapa hari ini sengaja ditemani oleh Enzo dalam menyelesaikan sebuah lukisan.


Sejak Emilio dijebloskan ke penjara malam itu, Melva memilih untuk lebih berkonsetrasi kepada kegiatan melukisnya, dan mencoba untuk emmbatasi hubungannya dengan orang lain, terutama para pria. Sampai detik ini ketidakberanian Enzo menyatakan perasaannya selalu membuat Alvero mengejeknya habis-habisan.


Jika saja boleh jujur, Enzo ingin sekali untuk segera menyatakan perasaannya kepada Melva. Namun melihat bagaimana luka di hati Melva akibat perbuatan Emilo masih belum sepenuhnya pulih, Enzo harus menahan dirinya. Paling tidak, untuk saat ini satu-satunya pria yang diijinkan untuk tetap dekat dengan Melva adalah dirinya. Menyadari itu, untuk saat ini Enzo sudah merasa cukup puas.


Setelah ini aku akan segera menghubungi Melva, daripada mataku sakit karena harus melihat pasangan yang sedang dimabuk cinta di depanku ini. Memang saudara sepupuku yang satu itu... tidak pernah mengenal wanita. Tapi begitu mengenal Deanda, dia sudah seperti singa yang takut kehilangan anaknya. Selalu bersikap over protektif sekaligus posesif terhadap Deanda.


Lagi-lagi Enzo hanya bisa mengatai-ngatai Alvero dalam hati tanpa berani mengucapkannya, atau dia akan menerima akibat yang menakutkan, sebuah pembalasan yang lebih parah jika yang melakukan pembalasan itu adalah seorang Alvero.


# # # # # #

__ADS_1


Deanda yang sedang berdiri di atas balkon kamarnya, tepat di belakang pagar pembatas di balkon, tersenyum manis begitu Alvero yang baru saja mendekat ke arahnya langsung memeluk tubuhnya dari belakang, dan mengecupi rambut di kepalanya dengan mesra. Aura bahagia terlihat memenuhi wajah Deanda yang mendapatkan perlakuan mesra dari Alvero yang sedang memeluknya dengan erat.


"Apa papa Vincent sudah tidur?" Deanda bertanya dengan suara pelan kepada Alvero yang baru saja datang ke kamar yang ditempati mereka di villa milik keluarga Enzo, setelah beberapa waktu sebelumnya, Alvero menghabiskan waktu berdua dengan Vincent untuk mengobrol.


Sedang Deanda memilih untuk kembali ke kamarnya sendiri untuk memberikan waktu berdua kepada Alvero dan Vincent, berharap agar hubungan antara ayah dan anak itu semakin hari bsia semakin membaik.


Deanda sendiri sedang ingin menghabiskan waktu mengobrol dengan Abella melalui panggilan video call. Sejak Deanda berpindah kerja dari departemen R&D menjadi asisten pribadi Alvero, begitu banyak hal yang harus dia kerjakan sehingga membuatnya jarang bertemu dan berhubungan dengan Abella walaupun mereka bekerja dalam satu gedung.


Saat Alvero datang menyusulnya ke balkon, Deanda baru saja memutuskan panggilan video callnya dengan Abella yang merasa senang dengan rencana makan siang bersama mereka besok di cafe perusahaan Adalvino.


"Kamu baru berbicara dengan siapa di telpon?" Tanpa menjawab pertanyaan Deanda, Alvero justru bertanya balik.


"Benarkah? Bukan dengan yang lain?" Pertanyaa Alvero sukses membuat Deanda sedikit menggerakkan tubuh ke samping dan menolehkan kepalanya ke arah wajah Alvero yang sedang tersenyum dengan wajah menggoda ke arahnya.


"Memangnya siapa yang sedang kamu curigai?" Deanda sengaja tidak menjawab pertanyaan suaminya, namun justru memancing Alvero, karena dalam hatinya, Deanda merasa begitu penasaran, sebenarnya siapa laki-laki yang paling membuat Alvero cemburu, walaupun sebenarnya hampir kepada semua laki-laki yang berani menatap kagum istrinya akan membuat Alvero cemburu.


"Ehm... du... Ah, tidak tahulah." Secara tidak sadar Alvero hampir saja menyebutkan nama duke Evan di depan Deanda, namun kesadaran dirinya segera mencegahnya untuk menyebutkan nama laki-laki hebat yang Alvero tahu begitu mengagumi sosok Deanda.

__ADS_1


"Kamu ini... benar-benar pencemburu..." Deanda kembali mengarahkan tubuhnya ke depan kembali sambil tersenyum.


"Aku tidak perduli orang mau bilang apa tentang aku. Yang pasti, aku tidak mau mata para pria memandangmu dengan tatapan menginginkanmu. Aku membencinya. Karena kamu hanyalah milikku seorang." Alvero berkata sambil mulai mencium tengkuk Deanda dengan mesra setelah Alvero menyingkirkan helaian rambut Deanda yang tergerai dan awalnya menutupi lehernya.


"Memang siapa di Gracetian ini yang tidak tahu kalau aku adalah milikmu? Bahkan mungkin dunia juga tahu." Deanda bertanya dengan nada geli, membuat Alvero menghentikan ciumannya di leher Deanda dengan bibir mengerucut, dan wajahnya terlihat sebal.


"Kalau begitu harusnya mereka tidak membiarkan mata mereka menatapmu." Kali ini tawa Deanda langsung meledak mendengar perkataan Alvero yang diucapkan dengan nada suara merajuk seperti anak kecil sedang meminta permen kepada orangtuanya.


"My Al, kamu ini ada-ada saja. Apakah aku juga harus tidak mengijinkan wanita lain menatapmu?" Mendengar pertanyaan balik dari Deanda, Alvero yang sedang memeluk tubuh Deanda dari arah belakang tidak menjawab dan justru menarik tubuh istrinya untuk menjauh dari pagar pengaman balkon.


"Eh...." Deanda langsung terpekik pelan begitu Alvero menarik tubuhnya mendekat ke arah kursi untuk bersantai yang ada di atas balkon.


Bukan karena Alvero mengajaknya duduk berdampingan di sana, tapi bibir Deanda sedikit terpekik dengan wajah memerah karena Alvero yang mengambil posisi duduk, langsung menahan tubuh Deanda agar tidak menjauh darinya dan menariknya sehingga jatuh terduduk di pangkuan Alvero dengan posisi menyamping.


"Aku sungguh-sungguh sangat mencintaimu sweety. Kalau kamu merasa keberatan kamu bisa memberikan perintah bahwa tidak boleh ada wanita di Gracetian yang memandang ke arahku." Deanda langsung tersenyum mendengar perkataan Alvero yang diucapkannya sambil menciumi lengan bagian atas Deanda yang duduk di pangkuannya, membuat wajah Deanda semakin memerah dan gugup.


"Mana bisa begitu. Sebagai permaisurimu, aku harus memberikan contoh yang baik kepada rakyat. Tidak boleh memberikan keputusan yang semena-mena. Apalagi, aku tidak perduli berapa banyak wanita memandangimu, karena aku tahu kamu tetap akan memilihku dan menjadi milikku seorang." Mendengar perkataan Deanda, membuat Alvero tersenyum.

__ADS_1


 


 


__ADS_2