
Sesampainya di kamar mandi, begitu duduk di toilet duduk tiba-tiba Tubuh Eliana kehilangan keseimbangan dan ambruk ke depan, membuat perawat itu dengan kaget berusaha menopang tubuh Eliana, sehingga tidak sadar ketika tangan Eliana dengan cepat merogoh kantong pakaiannya dan mengambil handphonenya.
"Suster... sepertinya saya tidak kuat, lebih baik suster antar saya kembali ke kamar...." Eliana berkata sambil melorotkan tubuhnya ke bawah, sehingga membuat perawat itu kewalahan.
"Eh...." Suster itu berusaha keras menahan tubuh Eliana agar tidak terjatuh, sehingga tidak menyadari ketika Eliana meraih vas bunga yang ada di dekat wastafel dan dengan cepat menggerakkan tubuhnya ke samping, mendorong tubuh perawat itu dan memukul kepala perawat itu dengan cepat menggunakan vas bunga sehingga jatuh pingsan.
Setelah itu dengan paksa, Eliana mencabut kateter yang menancap pada bagian bawah tubuhnya sambil meringis menahan sakit. Dan tidak berhenti di situ saja, dengan gerakan cepat dan kuat, Eliana menarik jarum infus yang menancap di punggung telapak tangannya, membuat dia harus kembali menahan sakit dan segera membersihkan darah yang keluar dari bekas jarum infus itu dengan tissue yang ada di kamar mandi itu.
"Haist! Benar-benar merepotkan!" Eliana mengomel sambil dengan cepat meraih jari tangan perawat itu dan membuka layar handphone menggunakan sidik jari dari perawat itu.
Begitu layar handphone perawat tersebut berhasil dibuka, Eliana segera melakukan panggilan kepada Rolland.
# # # # # # #
"My Al, tidak bolehkah? Aku ikut denganmu?" Alvero yang sedang mengecek pistol yang ada di tangannya, langsung menoleh begitu mendengar permintaan dari Deanda yang sedang menatapnya dengan wajah penuh harap.
"Kita sudah sepakat dari awal bahwa kamu tidak akan ikut denganku kali ini. Dan aku akan membiarkan Alea menemanimu. Jika ada sesuatu yang mendesak, terutama kamu dalam bahaya, aku sudah meninggalkan pasukan esklusif kerajaan milik raja untuk menjagamu dengan baik." Alvero berkata sambil menyelipkan pistol yang sudah diperiksanya ke balik pakaiannya, di bagian pinggangnya.
__ADS_1
"Tapi, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tahu pasti kemampuanku untuk menjaga diri. Selain itu, di sana akan ada papa Alexis, Red dan uncle Marcello. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Deanda berjalan mendekat ke arah Alvero, dikuti oleh tatapan mata Alaya yang hanya bisa menarik nafas dalam-dalam melihat Deanda yang sejak tadi berusaha meminta kepada Alvero agar diijinkan ikut dalam proses penggerebekan bunker Tavisha yang akan dilakukan hari ini.
"Sweety, kamu sedang mengandung sekarang, lebih baik kamu tetap di istana." Alvero berkata dengan suara lembut, dan nada memohon ke arah Deanda yang baru saja mengatakan lagi, keinginannya untuk ikut berangkat ke bunker Tavisha.
"Ada baiknya Kak Deanda mendengarkan perkataan kak Alvero. Kali ini yang sedang kita hadapi bukan sembarangan orang. Bukannya kami meremehkan kemampuan Kak Deanda, tapi Kakak sedang hamil. Akan berbahaya untuk keamanan bayi dalam kandungan Kakak." Mendengar perkataan Alaya, akhirnya Deanda hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.
"Maaf Kak, uncle Alexis memintaku untuk segera bertemu sebelum kita berangkat ke bunker. Aku akan pergi lebih dahulu." Alaya segera meninggalkan kamar Alvero begitu Alvero menganggukkan kepalanya.
"My Al...." Begitu Alaya pergi, Deanda segera mendekat ke arah Alvero yang sudah mengenakan pakaian militer kebesarannya, yang menandakan dia sebagai panglima perang tertinggi dari kerajaan Gracetian, orang yang paling berhak untuk menyatakan atau menghentikan perang di Gracetian.
Deanda tidak bisa menyembunyikan tatapan mata kagumnya melihat bagaimana tampan dan gagahnya Alvero dengan pakaian militernya itu. Tapi, menyadari bahwa sebagai seorang raja, jika Alvero mengenakan pakaian itu, merupakan tanda bahwa dia sedang bersiap untuk memimpin perang, membuat dada Deanda bergetar hebat.
Walaupun Alvero terlihat begitu optimis akan memenangkan pertempuran kali ini, tapi tetap saja sebagai seorang istri Deanda sulit untuk mengendalikan perasaan khawatir dalam hatinya.
Belum lagi kondisi kehamilannya cukup memberikan pengaruh besar pada emosinya. Membuat Deanda sedikit lebih sensitif, dan mudah terbawa emosi.
Apalagi Alvero tidak mengijinkannya untuk ikut. Mungkin, jika Alvero membiarkannya untuk ikut, Deanda akan merasa lebih tenang. Tapi dengan kondisi kehamilannya, Deanda tahu akan menjadi hal yang sangat mustahil bagi Alvero mengijinkannya untuk ikut.
__ADS_1
Meskipun dengan kemampuan beladiri dan beberapa latihan menembak yang diajarkan Alvero kepadanya Deanda yakin bisa melindungi dirinya sendiri, tapi tentu saja Alvero tetap tidak akan menerima alasannya itu demi keamanan calon bayi mereka yang ada di perut Deanda saat ini.
"Kalaupun aku tidak boleh ikut berjuang denganmu kali ini. Berjanjilah untuk pulang dengan selamat dan membawa kemenangan." Pada akhirnya Deanda menyerah, dia berkata sambil melingkarkan kedua lengannya pada leher Alvero dan memeluk Alvero dengan begitu erat.
"Jangan khawatir. Aku pasti kembali dengan membawa berita baik." Alvero berkata sambil membalas pelukan Deanda yang menyandarkan kepalanya di dada Alvero, dengan kedua lengannya melingkar semakin erat di leher Alvero.
Tanpa terasa, membayangkan sebentar lagi Alvero akan pergi ke bunker Tavisha, melakukan penyergapan terhadap kelompok pemberontak itu, membuat Deanda tidak bisa mencegah airmatanya turun membasahi pipinya.
Alvero yang mendengar suara sesenggukan dari Deanda segera menjauhkan tubuhnya dari Deanda dan memandangi wajah Deanda.
"Jangan menangis sweety... jangan membuat langkahku menjadi berat. Aku adalah raja Gracetian. Karena itu akulah yang harusnya berdiri paling depan pergi berperang saat kerajaan berada dalam bahaya." Alvero berkata sambil mengelus lembut bagian belakang kepala Deanda.
"Sebagai permaisuri Gracetian, kamu harus kuat, dan melepasku dengan doa. Keberadaanmu sungguh diperlukan di istana sebagai penggantiku. Jika ada sesuatu yang terjadi, masih ada kamu sebagai seorang permaisuri untuk memberikan perintah. Kita tidak bisa membiarkan rakyat kita seperti anak ayam kehilangan induknya." Mendengar kata-kata Alvero, membuat Deanda memaksakan senyum di wajahnya dan menghapus airmatanya dengan punggung telapak tangannya agar tidak membuat Alvero khawatir.
"Aku harus segera menyelesaikan misi ini agar ke depannya kerajaan kita bisa hidup dengan damai. Apa yang akan aku lakukan juga demi masa depan kita." Alvero berkata sambil merangkum wajah cantik Deanda dengan kedua tangannya.
"Aku akan segera kembali ke sisimu. Jaga dirimu dan bayi kita baik-baik. I love you sweety." Alvero berkata sambil mencium bibir Deanda dengan mesra untuk beberapa saat.
__ADS_1
Deanda sendiri akhirnya membiarkan dirinya terlarut dalam kemesraan yang dibawa Alvero melalui ciuman hangat dari bibirnya. Rasanya Deanda begitu tidak rela melepaskan kepergian Alvero tanpanya kali ini.
Tapi dia tahu, dia harus menguatkan hatinya untuk melepaskan Alvero, yang akan segera bergabung dengan Evan dan yang lain untuk melakukan penyerbuan ke bunker Tavisha tempat para anggota kelompok pemberontak itu bersembunyi selama ini.