BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
AKU MENGINGATNYA


__ADS_3

"Mama, kenapa melepaskan kalung itu?" Alvero memandang ke arah Larena yang dengan wajah sedih dan tatapan mata sayunya melepas kalung yang selama ini selalu dikenakannya, sebuah kalung indah yang merupakan hadiah pernikahannya dari Vincent.


"Mama harus mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya. Untuk saat ini, mama tidak lagi berhak mengenakan kalung ini." Larena berkata sambil meletakkan kalung yang sudah terlepas dari lehernya itu ke atas meja rias yang ada di kamarnya.


Dengan gerakan pelan dan terkesan ragu-ragu, Larena membuka laci meja riasnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dengan sabuk berupa emas murni mengeliling kotak itu. Dan dengan gerakan pelan, Larena membukanya. Di dalam sana tampak sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval dan di tengahnya terdapat tulisan huruf A yang merupakan simbol dari keluarga Adalvino.


Pada akhirnya aku akan mengenakan kalung dengan liontin ini lagi. Sejak kamu melamarku hari itu, kalung dan liontin ini selalu menemaniku sampai kamu menggantinya dengan kalung hadiah pernikahan kita. Sepertinya, saat ini kalung dan liontin ini saja yang akan menjadi kenang-kenangan bagiku. Liontin ini akan membuatku selalu teringat, paling tidak dulu kamu pernah begitu mencintaiku. Dan mengingatkan pada diriku sendiri, sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu dan tidak akan pernah menggantikan posisimu dengan orang lain. Walaupun mungkin hari ini adalah hari terakhir aku menginjakkan kakiku di istana Gracetian, dan pagi tadi adalah pertemuan terakhir kita sebagai pasangan suami istri yang sebenarnya. Semoga kamu selalu bahagia selama sisa hidupmu.


Larena berkata dalam hati sambil mengenakan kalung dengan liontin berbentuk oval itu ke lehernya, diikuti dengan tatapan keheranan dari sepasang mata milik Alvero kecil.


Aku baru ingat... ternyata hari terakhir dimana mama pergi dari istana meninggalkan aku, mama mengenakan kalung dan liontin itu di lehernya untuk menggantikan kalung yang sebelumnya selalu dikenakan oleh mama.


Alvero berkata dalam hati sambil menahan nafasnya. Ada rasa sesak yang saat ini memenuhi dadanya mengingat kenangan buruk saat itu, dimana hari-hari di masa kecilnya harus dia lalui seperti di neraka setelah perginya Larena Hilmar dari istana. Yang juga pergi dari kehidupannya sebagai seorang anak, yang sebenarnya masih begitu membutuhkan kehadiran Larena sebagai ibu kandungnya, untuk menyayangi dan mendidiknya.

__ADS_1


"My Al...." Suara panggilan pelan dari Deanda membuat Alvero yang tadinya sedang melamun, mengingat momen dimana dia pernah melihat liontin itu tersentak kaget.


"Ah, ya sweety?" Dengan cepat Alvero menoleh ke arah Deanda yang sedang mengamati wajahnya yang baru saja dilihat oleh Deanda sedang melamun.


"My Al... apa itu artinya... Alaya adalah..." Deanda menghentikan kata-katanya sambil menatap ke arah Alvero yang tampak sedang berusaha mengendalikan gejolak di hatinya, yang sedang terjadi saat ini.


"Kamu pernah mengatakan ada gosip bahwa mama Larena, pergi meninggalkan istana dalam kondisi mengandung. Jika gosip itu benar, kita bisa melakukan pengecekan terhadap tanggal kelahiran Alaya dan membuat perkiraan tentang hal itu. Dan jika memungkinkan melakukan tes DNA padanya." Deanda mencoba menyatakan analisanya siapa sebenarnya Alaya.


"Dalam waktu satu bulan sebelum meninggal, tidak mungkin mama melahirkan Alaya, sedangkan saat meninggalkan istana, perut mama belum terlihat membesar. Entah berapa usia kandungan mama saat itu jika mama benar hamil. Yang pasti tidak mungkin berusia lebih dari delapan bulan, karena saat itu berlum terlihat sama sekali. Bahkan sampai saat inipun, aku tidak yakin papa Vincent tahu tentang gosip mama yang pergi meninggalkan istana dalam kondisi hamil." Mendengar lanjutan kata-kata Alvero, Deanda mengernyitkan dahinya.


"Semuanya menjadi mungkin, jika ternyata… mama Larena... masih hidup... jika mama Larena selamat, setelah peristiwa kebakaran itu." Deanda berkata dengan suara lirih.


Walaupun itu hal yang mungkin terjadi, tapi Deanda tahu, dia tidak boleh membuat Alvero berharap lebih terhadap apa yang baru saja dikatakannya, karena saat ini, pemikiran bahwa Larena masih hidup itu, hanya sekedar angan-angan Deanda saja. Tidak ada bukti atau saksi yang bisa memperkuat Analisa Deanda.

__ADS_1


Sedangkan Alvero sendiri, sebenarnya sedang memikirkan hal yang sama dengan Deanda, tapi perkataan Deanda cukup membuatnya tersentak. Membayangkan bahwa Larena masih hidup... Alvero tidak tahu bagaimana dia harus bersyukur dengan cara bagaimana dan sebesar apa rasa bahagia yang dia rasakan, jika hal itu benar terjadi.


Di sisi lain, Alvero tidak tahu, apakah dirinya akan cukup bisa menahan amarah dan kekecewaan yang meledak dalam hatinya, mengetahui bagaimana selama ini Larena yang ternyata masih hidup sengaja bersembunyi dan meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan apapun. Membiarkan dirinya mengalami begitu banyak penderitaan dan rasa kesepian yang begitu menakutkan, yang disebabkan oleh Eliana di masa kecilnya, sejak Larena pergi meninggalkannya.


"Sebaiknya sekarang kita menghadiri afternoon tea. Aku tidak ingin ada timbul kecurigaan Eliana terhadap kita karena terlambat atau tidak menghadiri afternoon tea. Dan untuk makan malam kita akan melakukannya dengan cepat. Setelah itu, sesuai rencana awal, kita akan melakukan video call dengan papa Vincent. Kalau pemikiran kita benar bahwa liontin itu milik mama Larena yang diberikan kepada Alaya. Pasti ada alasan khusus kenapa itu bisa terjadi. Dan kita harus segera memastikan tentang hubungan antara mama Larena dan Alaya." Alvero berkata dengan berusaha mengeluarkan suaranya setenang mungkin, walaupun saat ini rasanya dia ingin berteriak sekeras maungkin untuk melepaskan gejolak emosi di dadanya.


"Ah, ya, aku hampir saja melupakan hal itu. Ayo kita segera kesana untuk menghadiri afternoon tea. Tapi my Al..." Deanda menghentikan kata-katanya sambil menatap dalam-dalam ke arah Alvero yang terlihat masih menatap ke arah foto itu dengan tatapan mata yang bagi Deanda begitu sulit untuk diartikan.


Apakah itu tatapan syukur atau kemarahan, tatapan sedih atau bahagia, atau bahkan tatapan sayang atau dendam. Deanda tidak dapat mengartikannya. Yang Deanda tahu pasti, saat ini suaminya sedang membutuhkan dukungannya.


"Apa kamu baik-baik saja my Al?" Deanda berkata dengan nada suara pelan, dengan tangannya mengelus lembut lengan Alvero.


Bagaimanapun Deanda tahu saat ini Alvero sedang berusaha berpikir logis terhadap apa yang baru saja mereka temukan. Dan jika apa yang sedang mereka pikirkan tentang Alaya dan Larena benar terjadi, Deanda bisa memastikan akan ada banyak hal baru yang terjadi dan itu tidak akan mudah untuk dihadapi. Baik oleh Alvero, Vincent, Alaya, maupun Larena sendiri jika memang benar wanita cantik itu masih hidup dan sudah melahirkan Alaya sebagai anaknya.

__ADS_1


__ADS_2