BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERTEMUAN PENTING


__ADS_3

“Aku berharap kamu tetap berpikiran jernih dan tidak berbuat sesuatu yagn berbahaya.” Enzo kembali mengingatkan Melva agar bertindak bijaksana dan hati-hati.


“Tenang saja Kak, aku tidak akan berbuat sesuatu yang bsia membahayakan diriku sendiri.” Melva berkata dengan menyungingkan senyum di wajahnya, berharap Enzo tidak perlu khawatir tentang dirinya.


"Kalau begitu, Kakak bisa melanjutkan pertemuan Kakak dengan yang lain. Aku akan kembali ke kamarku dahulu sekarang." Melva berkata sambil berjalan menjauh dan berjalan kembali ke arah kamarnya yang ada di lantai 2 rumahnya.


Untuk beberapa saat Enzo menatap sosok Melva yang menjauh, sampai sosok gadis itu menghilang di balik pintu kamarnya.


# # # # # # #


"Selamat pagi Yang Mulia Alvero, Permaisuri Deanda." Saat earl Robin datang kembali bersama Evan ke ruang tamu, Evan segera memberikan salam hormat kepada Alvero dan Deanda.


Begitu mendengar sapaan dari Evan dengan gerakan tubuhnya memberikan salam hormat, Alvero langsung menggerakkan tangannya, menerima salam pernghormatan dari Evan. Dan satu tangannya yang lain bergerak cepat menggenggam tangan Deanda dengan erat untuk beberapa detik.


Alvero sengaja melakukan itu karena sejak awal kedatangan Evan, saat laki-laki tampan, bermata hijau dan berambut pirang itu dari jauh berjalan mendekat ke arah ruang tamu... Alvero bisa melihat dengan jelas tatapan mata Evan yang terpaku pada sosok cantik Deanda yang duduk di sampingnya. Dan Deanda sendiri terlihat tenang tanpa menyadari ada sepasang mata hijau yang indah sedang menikmati dan mengagumi sosoknya dari jauh.

__ADS_1


Pemandangan bagaimana Alvero menggenggam tangan Deanda yang ada di pangkuannya beberapa saat, membuat Evan sedikit menahan nafasnya. Rasanya ingin sekali dia berada pada posisi Alvero, menggantikan sosok laki-laki itu. Duduk di samping Deanda dengan jarak sedemikian dekat, bisa mencium bau harum dari parfumnya yang terasa membawa kedamaian dalam pikirannya, dan bahkan berharap bisa menyentuh tangan wanita cantik itu dan membawanya dalam genggaman tangannya.


"Selamat datang Duke Evan. Aku harus memindahkan tempat pertemuan kita dengan mendadak dengan alasan keamanan dan menghindari kecurigaan banyak orang. Di markas militer, terlalu banyak orang yang mungkin mengenali kami dengna baik." Perkataan Alvero sukses membuat lamunan Evan buyar, dan membuatnya tersenyum sambil mengambil posisi duduk di hadapan Alvero, setelah sekilas melirik ke arah Deanda dan melempar senyum kepada wanita yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak dengan keras itu.


"Terimakasih Yang Mulia. Iya, saya mengerti dengan alasan Yang Mulia. Dan saya rasa itu adalah tindakan yang tepat mengingat saat ini dalam pengamatan saya pergerakan kelompok-kelompok itu mulai terlihat semakin jelas." Evan langsung menanggapi perkataan Alvero.


Hari ini Evan sengaja datang tanpa mengenakan pakaian kebesarannya sebagai duke kerajaan Gracetian agar orang lain tidak curiga, bahwa saat ini dia sedang melakukan pertemuan rahasia dengan raja Gracetian. Namun, dengan penampilannya saat ini, yang mengenakan setelan jas berwarna navy blue dengan kemeja putih di bagian dalamnya justru membuat ketampanan sekaligus aura wibawa dan kepemimpinannya terlihat jelas.


(Warna navy atau navy blue adalah sebutan bahasa Inggris dari biru dongker. Salah satu warna yang sering sekali digunakan untuk pakaian. Navy blue atau biru dongker adalah sebuah warna yang merupakan turunan dari warna biru yang sangat gelap. Warna ini sangat kontras dengan putih. Warna biru dongker digunakan oleh angkatan laut Inggris sejak tahun 1748. Kemudian, angkatan laut di seluruh dunia mengadopsi warna ini untuk digunakan pada seragam mereka. Tidak ada perbedaan antara navy blue dan biru dongker, karena keduanya adalah warna yang sama, cuma beda penyebutannya saja. Warna navy biasanya disebut dengan navy blue. Kalau diterjemahkan secara arti kata, navy blue itu artinya biru laut. Warna ini dapat nama itu karena memang begitulah warna laut.


Ada yang mengatakan kalau biru dongker merupakan warna hitam yang baru. Kalau kita lihat, memang warna birunya itu mendekati hitam. Biru navy ini juga ternyata punya efek seperti hitam ketika digunakan untuk warna pakaian. Punya slimming effect yang akan membuat badan kelihatan lebih ramping jika menggunakan baju biru dongker. Navy blue juga cocok dengan semua skin tone, entah itu sawo matang, kuning langsat, hitam manis, putih gading, dan warna kulit lainnya).


Disamping itu, potongan jas yang sedang dikenakan Evan seakrang merupakan potongan slim fit, yang terlihat begitu pas di tubuh Evan, membuat sisi atletis dari tubuh Evan terlihat semakin menonjol. Tubuh atletis yang terlihat sempurna sebagai seorang pria, wajah tampan, rambut pirang dan mata hijaunya yang indah, dengan senyumnya yang menawan, membuat Evan tampil sebagai sosok yang membuat banyak wanita terkagum-kagum pada pesonanya. Sayangnya, satu-satunya wanita yang diinginkannya saat ini adalah milik laki-laki lain. Ditambah lagi, laki-laki itu adalah orang yang menjadi pemimpinnya, orang yang harus dihormati dan ditaati perintahnya.


"Maaf, jika aku membuat kalian yang ada di sini menunggu." Tiba-tiba saja Enzo kembali muncul di tengah-tengah mereka dan langsung menyapa mereka, setelah membiarkan Melva kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Apa kabar Duke Evan." Enzo langsung mengulurkan tangannya ke arah Evan yang langsung menyambut dan menjabatnya dengan erat.


"Baik Pangeran Enzo, terimakasih." Evan langsung membalas sapaan ramah dari Enzo.


"Baiklah, karena semua sudah berkumpul di sini, Earl Robin, adakah satu ruangan yang bisa kita pakai untuk membicarakan rencana kita tanpa bisa didengar oleh yang lain?" Begitu Enzo kembali, Alvero segera meminta earl Robin untuk menyediakan tempat yang privasinya lebih terjamin.


Selain Alvero ingin segera menyelesaikan pembicaraan penting kali ini untuk menyusun rencana ke depannya bagi Gracetian, jujur saja Alvero tidak ingin memberi lebih banyak dan lebih lama kesempatan bagi Evan untuk menikmati keberadaan Deanda di dekatnya. Karena hanya dengan memikirkan ada laki-laki lain yang begitu mengagumi istrinya sudah membuat dada Alvero terasa panas dan begitu tidak nyaman.


Dengan membiarkan Evan duduk tepat di depannya dengan Deanda, Alvero merasa dia terlalu memberikan kesempatan bagi Evan untuk memandangi Deanda. Karena itu dia ingin mencari tempat lain dimana mereka tidak harus duduk dalam posisi saling berhadapan dengan jarak sedemikian dekat.


"Tentu Yang Mulia. Kita bisa ke ruang kerja saya sekarang. Di sana kita bisa bebas berbicara satu sama lain tanpa khawatir ada yang mendengar." Earl Robin langsung menanggapi permintaan dari Alvero sambil bangun dari duduknya, dan mengajak mereka semua yang ada di sana untuk pindah ke ruang kerjanya yang sengaja dipasang pengedap suara.


 


 

__ADS_1


__ADS_2