
"Baik Yang Mulia. Akan kami kerjakan dengan sebaik mungkin. Semoga perjalanan Yang Mulia dan Permaisuri ke kota Renhill berjalan dengan lancar dan aman. Juga, rencana Yang Mulia di kota Renhill berjalan dengan baik, sesuai dengan harapan." Nyonya Rose berkata sambil tersenyum, berharap apa yang baru saja dikatakannya menjadi kenyataan.
"Kalau begitu, Nyonya Rose dan Alea silahkan meninggalkan tempat ini secara bergantian, agar tidak menimbulkan kecurigaan. Aku dan permaisuri akan berada di sini sebentar lagi." Mendengar perintah Alvero, tanpa menunggu lebih lama lagi, Alea menggerakkan kakinya, mundur ke belakang, untuk meninggalkan tempat itu.
Beberapa menit kemudian, nyonya Rose bangkit dari duduknya, ikut pergi meninggalkan Alvero dan Deanda yang masih duduk di kursinya dengan mata mereka menatap ke arah kolam di istana yang ada di depan mereka. Untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri sampai akhirnya Deanda memandang ke arah Alvero yang wajahnya tampak serius, terlihat jelas banyak hal yang sedang dipikirkan oleh raja muda tersebut.
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu my Al?" Deanda berkata lirih sambil tangannya merapikan beberapa helai rambut yang menutupi matanya karena tiupan angin yang baru saja menerpa wajahnya.
"Ah, aku sedang memikirkan tentang semua kejadian yang terjadi di sekitarku. Sepertinya, sejak kehadiranmu semakin banyak kejahatan terbuka sedikit demi sedikit. Bahkan beberapa hal yang selama ini belum pernah aku pikirkan, tiba-tiba saja terbuka lebar di depanku." Mendengar perkataan Alvero, Deanda tersenyum tipis.
"Apa itu artinya kehadiranku di sisimu membuatmu terganggu karena sekarang semakin banyak hal yang harus kamu selesaikan?" Mendengar pertanyaan dari Deanda, Alvero langsung membeliakkan matanya dan dengan gerakan cepat, jari tangan Alvero menjitak kening Deanda yang langsung tertawa kecil.
"Jangan sembarangan bicara! Justru dengan kamu berada di dekatku, sepertinya para pembuat kejahatan itu mau tidak mau harus muncul karena tidak adalagi tempat untuk mereka bersembunyi dari kita." Alvero berkata sambil meraih tangan Deanda, menggenggamnya dan menggerak-gerakkan ke depan dan ke belakang, diantara kursi yang mereka duduki.
"Aku benar-benar seorang raja yang begitu beruntung memiliki permaisuri yang hebat dan kuat sepertimu. Jika saja wanita lain yang menjadi permaisuriku, aku pasti akan…."
__ADS_1
"Yang Mulia Alvero Adalvino, apa maksud kata-katamu barusan? Apa barusan kamu mau mengatakan ada wantia lain yang pernah kamu inginkan untuk menjadi permaisurimu?" Mendengar perkataan Deanda yang memotong perkataannya dengan nada protes Alvero langsung tergelak.
"Mana mungkin... Jika itu bukan kamu.... kamu tahu, bahkan untuk melihatnya saja saja aku akan merasa jijik, apalagi menyentuh wanita lain. Tidak pernah sekalipun aku memikirkan hal menjijikkan seperti itu. Bahkan aku tidak pernah merasakan jatuh cinta selain kepadamu. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku." Setelah menyelesaikan perkataannya, Alvero meraih tangan Deanda dan menciumi punggung telapak tangan Deanda beberapa kali dengan mesra.
"Kenapa dengan wajahmu? Apa yang membuatmu meragukan kata-kataku?" Alvero berkata dengan mata hazelnya menatap dalam-dalam ke arah wajah Deanda yang tampak terdiam tanpa membalas perkataannya, membuat Alvero berpikir bahwa Deanda meragukan kata-katanya barusan.
"Apa karena Alaya? Buat apa kamu mengkhawatirkan keberadaan wanita yang tidak menimbulkan alergi padaku, tapi tidak pernah bisa menggerakkan hatiku, seperti yang sudah dilakukan olehmu? Apa kamu sadar? Jika bukan kamu, sejak awal pertemuan kita... aku sudah memutuskan untuk tidak akan pernah menikah. Jika bukan kamu... lebih baik, aku membiarkan usiaku mencapai 27 tahun tanpa seorang istri di sampingku, dan gelar putra mahkotaku akan aku serahkan kepada Enzo." Mendengar perkataan Alvero, Deanda merasakan sesuatu yang sedikit menyesakkan keluar dari dadanya.
Bukan karena emosi atau karena sakit hati, tapi rasa haru dan bahagia yang begitu memenuhi dadanya, sehingga membuat dada Deanda terasa begitu penuh dan tubuhnya sedikit bergetar.
Deanda berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alvero dengan penuh perasaan cinta yang begitu memenuhi hatinya. Rasa cinta yang belum pernah sekalipun dia rasakan saat bersama dengan pria manapun.
"Terimakasih my Al... I love you..." Deanda berkata lirih sambil mengarahkan punggung tangan Alvero yang sedang menggenggamnya ke pipinya, menempelkannya di sana sampai tubuh Alvero tersentak karena dirasakannya ada sesuatu yang mengalir, membasahi punggung telapak tangannya.
Dengan gerakan cepat Alvero berdiri dan menyeret kursinya agar mendekat ke arah kursi Deanda, baru kembali duduk di sana.
__ADS_1
"Sweety... kenapa denganmu? Apa yang terjadi?" Alvero terlihat sedikit panik begitu menyadari Deanda yang selama ini dikenalnya sebagai sosok wanita tangguh, tiba-tiba menangis di hadapannya tanpa dia tahu apa penyebab dari permaisurinya menangis saat ini.
"Sweety... lihat kemari, tatap mataku... Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menangis? Apa kata-kataku ada yang sudah membuatmu sedih?" Alvero berkata sambil memiringkan kepalanya ke arah wajah Deanda, berusaha melihat wajah Deanda yang sedang menangis dan sengaja menundukkan kepalanya agar Alvero tidak melihat wajah menangisnya saat ini, yang bagi Deanda pasti akan terlihat jelek bagi Alvero.
Dengan gerakan memaksa, Alvero meraih dagu Deanda dan mengarahkan wajah Deanda ke arahnya.
"Please... jangan membuatku khawatir. Apa yang terjadi denganmu sweety? Kenapa menangis?" Begitu mendengar pertanyaan Alvero yang semakin terdengar khawatir, Deanda yang awalnya menutup kedua matanya, membiarkan Alvero mengusap lembut pipinya, untuk menghapus airmatanya, membuka matanya perlahan sambil mengangkat kepalanya.
Setelah membuka matanya dan memandang wajah suaminya untuk waktu yang tidak sebentar, tiba-tiba saja Deanda menggerakkan kedua tangannya ke leher Alvero, lalu dengan erat dipeluknya tubuh Alvero sambil meletakkan dagunya di atas bahu Alvero. Melihat tindakan Deanda, Alvero langsung menepuk-nepuk lembut punggung Deanda.
Deanda sedikit menarik nafas panjang untuk menghentikan tangisannya. Entah kenapa, tiba-tiba pernyataan cinta Alvero tadi dan kata-kata pernyataan dari Alvero yang menunjukkan bahwa keberadaannya benar-benar berharga bagi Alvero membuatnya begitu terharu. Bahkan karena dia, Alvero rela jika harus menyerahkan gelar putra mahkota yang dimilikinya, membuat dada Deanda terasa sesak dan penuh.
Rasa haru bercampur bahagia membuat Deanda tidak tahan untuk tidak menangis di hadapan Alvero. Rasanya dadanya bedetak dengan kencang karena rasa syukur memiliki suami seperti Alvero yang sejak awal pertemuan mereka, matanya hanya memandangnya seorang, tanpa pernah melihat kepada gadis lain.
"My Al.... Aku mencintaimu... sangat mencintaimu.... Maaf aku sudah menjadi wanita yang cengeng hari ini. Aku benar-benar merasa beruntung dan sangat bahagia bisa menjadi wanitamu. Bisa mendapatkan cintamu yang begitu besar untukku." Deanda berkata sambil hidungnya mencium pipi Alvero, dengan dagu tetap bersandar pada bahu Alvero membuat Alvero menyunggingkan senyum bahagia.
__ADS_1
"Ah, jangan berkata seperti itu sweety. Jika menyangkut masakah keberuntungan, aku adalah orang yang lebih beruntung karena dipertemukan denganmu dan bisa memilikimu sebagai istriku." Alvero berkata dengan lembut dan membalas ungkapan rasa sayang Deanda dengan mengelus-elus lembut punggung Deanda dengan penuh kasih sayang.