
Hah! Sepertinya yang mulia Alvero benar-benar mengenal sifat keras kepala dan jiwa petualang Deanda. Yang mulia Alvero pasti sudah memikirkan kemungkinan Deanda akan menyusulnya ke bunker Tavisha jika tidak diawasi dengan baik. Karena itu yang mulia Alvero meminta kami mengawasi Deanda selama 24 jam tanpa lengah sedikitpun.
Alea berkata dalam hati sambil mengingat tentang bagaimana Alvero memerintahkan padanya untuk bergantian dengan nyonya Rose, menjaga Deanda selama 24 jam dan tidak membiarkannya pergi meninggalkan istana dengan alasan apapun.
“Alea, aku tahu kamu pasti sudah mendapatkan perintah dari yang mulia Alvero untuk tidak membiarkanku keluar dari istana. Tapi kamu tahu ini juga bukan perkara kecil. Baroness Eliana berhasil melarikan diri, dan dia pasti memiliki rencana terhadap pasukannya yang ada di bunker Tavisha. Aku tidak mau yang mulia sampai kalah langkah dari baroness Eliana.” Alea sedikit tertegun mendengar kata-kata Deanda yang ada benarnya itu.
“Tapi Deanda, yang mulia Alvero melakukan itu bukan sekedar untuk melindungimu, tapi juga bayi dalam kandunganmu. Jangan sampai terjadi….”
“Tenanglah Alea, yang mulia pasti mengerti dengan kondisi kritis ini. Yang mengharuskan aku pergi menyusulnya.” Deanda berkata sambil melepaskan cekalan tangan Alea pada tangannya.
“Kamu bisa ikut bersamaku, juga beberapa pengawal eklusif kerajaan akan aku ajak, sehingga kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin, seorang Alea yang aku kenal, tidak akan membiarkanku terluka sedikitpun. Benarkan?” Kali ini Alea hanya bisa terdiam, kehabisan kata-kata, tidak bisa menjawab perkataan Deanda.
“Jangan takut Alea, aku berjanji tidak akan ikut masuk ke dalam lokasi, aku hanya perlu menemui seseorang di garis belakang agar memberitahukan tentang kedatanganku kepada yang mulia Alvero, agar dia bisa menemuiku. Sehingga aku bisa menyampaikan berita tentang larinya baroness Eliana. Dengan kecerdasan dan kemampuan memimpin yang mulia, dia pasti bisa memikirkan dengan cepat untuk mengatasi masalah ini.” Deanda tersenyum sambil mendorong tubuh Alea agar keluar dari walk in closet, sehingga dia bisa berganti pakaian.
__ADS_1
Ah, bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan kepada yang mulia jika yang mulia Alvero marah karena aku membiarkan Deanda pergi menyusulnya? Tapi jika tidak aku turuti, bisa-bisa Deanda mencari cara lain untuk pergi secara diam-diam kesana. Dan itu pasti akan lebih berbahaya. Hah! Deanda, kamu benar-benar membuatku dalam masalah sekarang.
Alea mengomel dalam hati sambil berjalan mondar-mandir dengan menggigit bagian bibir bawahnya, di depan pintu walk in closet yang tertutup.
# # # # # # #
“Mereka sepertinya benar-benar sudah bersiap, sehingga mengubah sistem keamanan mereka di bunker itu, begitu mengetahui bahwa Avitus menghilang. Mereka pasti sudah curiga adanya kemungkinan Avitus sudah berbalik ke pihak kita.” Alvero berkata sambil mengamati lokasi bunker melalui teropong bersama Alexis, yang juga sedang mengamati pergerakan orang-orang yang sedang berjaga di sekitar bunker tersebut.
“Yang Mulia…. Yang Mulia ingin sebisa mungkin kita tidak melukai atau membunuh mereka, tapi sepertinya akan sulit bagi kita untuk melakukan itu jika mereka meningkatkan keamanan seketat itu.” Alexis berkata dengan matanya masih sibuk mengamati melalui teropong.
“Yang Mulia, mereka memasang pagar listrik dan ranjau di sekeliling bunker.” Duke Evan langsung memberikan Alvero info begitu mendekat ke arah Alvero.
Mendengar informasi dari Evan, Alvero tersenyum dengan wajah terlihat sinis.
__ADS_1
“Mereka sudah bersiap. Dan sepertinya mereka sudah menduga kita akan menyergap mereka.” Alvero berkata sambil menyerahkan teropong yang dipegangnya kepada Ernest.
“Kita tetap akan bergerak menyerang mereka malam ini. Kita tidak perlu menundanya. Pasukan kita cukup kuat untuk melawan mereka. Asal kita bisa menerobos masuk dengan aman, mereka pasti akan bisa kita ringkus dengan mudah. Duke Evan… bagaimana dengan pagar listrik dan ranjau yang terpasang?” Alvero berkata sambil memandang ke arah Evan yang berdiri tegak di depannya dengan sikap sigap.
“Untuk pagar listrik, mereka mengendalikannya secara otomatis, dan Tuan Rock sedang berusaha untuk meretas sistem keamanan mereka, termasuk kamera cctv yang terpasang hampir di seluruh titik, agar mereka tidak bisa melihat pergerakan kita. Sedang untuk ranjau, penjinak ranjau sudah bersiap di belakang pasukan kita yang bertugas menyisir ranjau.” Mendengar perkataan Evan, Alvero menarik nafas dalam-dalam, lalu menyungingkan senyum lega.
“Kerja bagus untuk tim kita. Kalau begitu, sebaiknya kita segera bersiap. Tuan Alexis, formasikan pasukan kita seperti yang sudah diatur oleh duke Evan. Kita menunggu aba-aba dari Rock. Begitu dia sudah berhasil meretas sistem keamanan mereka, tim yang bertugas untuk memotong pagar listrik bersiap beraksi. Setelah itu, tim penyisir ranjau, dan kita berjaga di belakang tim penjinak ranjau. Aku harap tidak akan ada korban dari pihak kita. Tapi….” Alvero menghentikan perkataannya sebentar.
“Jika mereka terus melawan, dan tim kita dalam kondisi terdesak, kalian diijinkan untuk menembak mati mereka di tempat.” Perkataan penutup dari Alvero langsung disambut sebuah anggukan kepala tegas dari semua yang ada di situ.
“Kalau begitu, kita bergerak sekarang!” Alvero berkata sambil meraih senapan serbu miliknya yang sebelumnya dipegang oleh Erich.
(Senapan serbu atau assault rifle adalah senjata api yang mengisi niche antara submachine gun dan senapan regular, merupakan senjata api otomatis yang merupakan senapan laras panjang atau karabin, yang memiliki pilihan tembakan (Slective fire), dan memakai amunisi kaliber menengah. Senapan serbu menggunakan peluru dengan kaliber lebih besar dari S# # # # # # #“Rolland! Mereka semua sudah mulai memasuki halaman bunker. Hanya tersisa ranjau yang bisa menahan mereka. Begitu mereka bisa melewati ladang ranjau, secara otomatis mereka dengan mudah akan masuk ke dalam bunker. Semua kamera cctv kita tidak berfungsi lagi, kita tidak bisa mengawasi pergerakan mereka sama sekali. Kita dibuat buta oleh mereka!” Eliana berkata dengan nada keras, juga sikap gugup dan tidak tenang sambil menggigit ujung-ujung kuku jarinya.
__ADS_1
# # # # # # #
“Rolland! Mereka semua sudah mulai memasuki halaman bunker. Hanya tersisa ranjau yang bisa menahan mereka. Begitu mereka bisa melewati ladang ranjau, secara otomatis mereka dengan mudah akan masuk ke dalam bunker. Semua kamera cctv kita tidak berfungsi lagi, kita tidak bisa mengawasi pergerakan mereka sama sekali. Kita dibuat buta oleh mereka!” Eliana berkata dengan nada keras, juga sikap gugup dan tidak tenang sambil menggigit ujung-ujung kuku jarinya.