BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BERPISAH UNTUK SEMENTARA WAKTU


__ADS_3

"Kalau begitu, saya mohon pamit Yang Mulia. Saya harus segera kembali ke kamp pelatihan pasukan khusus malam ini. Agar besok pagi-pagi sekali saya siap mengikuti latihan bersama duke Evan." Setelah melihat Deanda kembali tersenyum, Alexis segera berpamitan kepada Alvero yang langsung mengalihkan pandangan matanya dari wajah Deanda ke arah Alexis kembali.


"Baiklah Pa. Hati-hati di jalan. Terimakasih sudah mau membantu melatih pasukan khusus dengan baik. Hanya saja... ada satu hal lagi yang perlu Papa ingat dengan baik mulai sekarang. Sepertinya mulai hari ini Papa harus ingat, bahwa sekarang aku adalah seorang menantu bagi Papa. Jadi, untuk selanjutnya, Papa tidak perlu menggunakan bahasa formal padaku dan bisa memanggilku dengan namaku saja." Sebuah senyum yang masih terlihat canggung terlihat di wajah Alexis, begitu mendengar permintaan dari Alvero.


Yang bagi Alexis, bukan hanya sekedar permintaan Alvero sebagai seorang menantu, tapi juga sebagai seorang raja. Dan itu adalah perintah mutlak bagi seorang Alexis.


"Saya... aku... akan berusaha Yang.... eh, Alv…. Ah, rasanya sulit sekali." Alexis berkata dengan suara terputus-putus, bahkan disertai dengan wajahnya yang tampak sedikit memerah, membuat yang lain langsung tertawa geli, melihat bagaimana gugup dan salah tingkahnya sosok Alexis yang biasanya selalu tampil dengan begitu berani, tegas dan gagah itu.


"Apa Papa lupa dengan namaku? Kenapa sulit sekali menyebutkan namaku yang seharusnya seluruh rakyat Gracetian bahkan dari anak TK nya juga tahu namaku?" Kata-kata Alvero membuat Deanda semakin merasa geli, membuatnya tanpa sadar tersenyum lebar, menunjukkan malam ini dia merasa begitu bahagia sekaligus lega.


Rasanya baru saja tubuhnya terlepas dari beban yang begitu berat, membuat hatinya terasa begitu ringan.


"Ah, tentu saja tidak Yang... Aduh, maksud sa... ku... ya... tentu saja a... ku tahu dengan jelas nama... mu... Alvero." Seperti seorang anak kecil yang baru saja belajar membaca, begitu bisa menyebutkan nama Alvero dengan benar, Alexis tampak menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya melalui sela-sela bibirnya dengan sikap terlihat lega, membuat tanpa sadar, Deanda ikut tersenyum lega melihat itu.


Melepaskan maaf memang benar-benar membuat orang merasa damai dan tenang. Aku sungguh lega bisa melakukan itu tanpa menunda-nundanya lebih lama lagi. Aku sungguh beruntung dan harus bersyukur, papa yang aku kira sudah lama pergi, kembali padaku.

__ADS_1


Deanda berkata dalam hati dengan tetap memandang dengan tatapan geli ke arah Alexis yang masih merasa begitu canggung untuk menyebutkan langsung nama Alvero tanpa embel-embel yang mulia di depannya.


"Aku mohon, jangan menggoda papa lagi, dia orang yang tidak terbiasa digoda seperti itu." Deanda menjinjitkan kakinya, dan berbisik dengan suara terdengar begitu pelan ke telinga Alvero yang langsung tersenyum dan mencondongkan kepalanya ke arah Deanda.


"Kata-katamu tentang papa Alexis mengingatkanku pada seseorang yang dulunya juga selalu terlihat begitu serius saat di depanku, sehingga membuatku tidak tahan jika tidak menggodanya saat berada di dekatnya." Alvero membalas bisikan Deanda dengan sepelan mungkin sebelum akhirnya dia kembali menegakkan tubuhnya kembali, meninggalkan sebuah senyum dan wajah yang kembali memerah karena malu pada Deanda.


"Baiklah Pa, sudah malam, sebaiknya Papa segera kembali dan beristirahat. Jika membutuhkan sesuatu di sana, Papa bisa langsung menghubungiku atau Enzo.” Alvero kembali mengingatkan Alexis tentang posisinya sebagai menantu yang akan dengan senang hati membantu jika diperlukan.


"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik Deanda, juga bayi dalam perutmu, supaya dia bisa tumbuh sehat dan kuat. Tumbuh dengan sempurna. Menjadi kebanggaan semua rakyat kerajaan Gracetian." Alexis berkata sambil matanya menatap ke arah perut Deanda, yang tiba-tiba saja melepaskan dirinya dari rengkuhan lengan Alvero, berjalan mendekat ke arah Alexis.


"Dia pasti senang jika kakeknya mengatakan itu sendiri padanya nanti saat dia sudah mulai bisa mendengar suara dari luar." Mendengar perkataan Deanda, sungguh membuat Alexis hampir saja kembali meneteskan airmata.


Dan kali ini adalah airmata bahagia bagi Alexis. Dadanya terasa begitu penuh dengan rasa haru dan bahagia karena tindakan dan kata-kata Deanda padanya barusan.


"Aku akan sering-sering menghubungimu. Dan aku akan mengunjungimu jika ada kesempatan waktu luang di tengah-tengah padatnya jadwal pelatihan." Alexis berkata sambil menarik tangannya dengan enggan dari perut Deanda yang sekarang sedang membawa calon cucunya.

__ADS_1


"Aku akan selalu menantikan itu Pa. Jaga dirimu baik-baik Pa." Deanda berkata pelan sambil mencium kedua pipi Alexis sebelum membiarkannya membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi menjauh keluar dari villa.


"Ok, sekarang bisakah kita menghabiskan malam ini dengan mengobrol sampai subuh?" Enzo langsung berkata dengan suara terdengar begitu bersemangat, begitu sosok Alexis sudah tidak terlihat.


"Ck ck ck... sembarangan saja. Memangnya kami ini pengangguran sepertimu yang bisa seenak perutnya mau datang ke hotelmu untuk bekerja atau tidak? Di bawah perusahaan Adalvino ada puluhan perusahan besar dengan ratusan ribu karyawan, bahkan jutaan, mana bisa kami hidup sesantai kamu?" Alvero langsung menyahuti ajakan Enzo dengan bibir mengerucut ke depan.


"Ah, benar juga, itulah kenapa aku bersyukur tidak pernah terlahir sebagai putra mahkota Gracetian. Kalau tidak, bisa-bisa aku mati muda dengan kondisi kepala botak dan dengan riwayat penyakit jantung." Enzo berkata disusul dengan tawa kerasnya, membuat dengan cepat Alvero menjitak kening Enzo, sedang Alaya dan Deanda hanya bisa tersenyum melihat bagaimana kedua keturunan Adalvino itu saling mengolok satu sama lain.


"Aduh... lihat tuh Alaya. Hati-hati jika di dekat kakakmu. Di depan orang lain, dia terlihat sebagai seorang raja yang begitu berwibawa dan bijaksana, padahal dia suka menyiksa orang lemah sepertiku." Enzo berkata sambil menggerakkan tubuhnya menjauhi Alvero, dan mendekat ke arah Alaya, seolah sengaja melakukan itu untuk mencari sekutu.


"Haist... dasar Enzo! Kalau kamu terus menganggap dirimu lemah, aku benar-benar akan menemui earl Robin." Mendengar perkataan Alvero, Enzo langsung berjalan mendekat kembali ke arah Alvero.


"Eits... jangan marah dulu Alvero. Urusan Melva, biar aku sendiri yang menyelesaikannya. Ayo Alaya, lebih baik kamu saja yang menemaniku mengobrol malam ini. Sepertinya kakak dan kakak iparmu masih mau merayakan kehadiran calon penerus tahta malam ini." Alvero langsung melotot tajam mendengar godaan dari Enzo.


"Alaya, jangan dengarkan kakak sepupumu yang satu itu. Bukankah besok kamu juga harus kembali bekerja? Sebaiknya kamu beristirahat sekarang. Besok aku akan meminta Ernest mengantarmu kembali ke Tavisha, jangan mengendarai kendaraan umum seperti pada waktu kamu datang ke Renhill." Alvero berkata sambil memandang ke arah Alaya yang langsung menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang dikatakan oleh Alvero barusan.

__ADS_1


Bagaimanapun sekarang, setelah status sebagai adik kandung dari Alvero terbuka, Alaya harus mulai membiasakan dirinya untuk mendengarkan nasehat Alvero sebagai seorang kakak, sekaligus raja Gracetian.


__ADS_2