BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SEMAKIN BANYAK INFO


__ADS_3

"Tenanglah Pa. Aku tidak akan membiarkan Papa dipermalukan karena tindakan bodoh orang lain. Apalagi, sampai Papa mengambil alih sesuatu yang bukan tanggung ajwab Papa. Kenapa papa harus menanggung kesalahan dari Eliana? Yang sudah menjadi perusak di dalam keluarga kita? Membuat kita menderita? Dengan seluruh kemampuanku, aku akan melindungi kerajaan Gracetian dan keluarga Adalvino dari orang-ornag yang tidak bertanggung jawab seperti dia, yang hatinya hanya dipenuhi oleh ambisi kepada harta dan kekuasaan." Alvero berkata sambil memegang paha Vincent, lalu mengelusnya dengan lembut.


Dengan tatapan haru, Vincent menatap dalam-dalam ke arah mata hazel dan belah dagu milik Alvero yang diturunkan darinya, bulu mata lentik dan rambut hitam legam yang diturunkan dari Larena Hilmar.


"Aku percaya padamu nak. Lakukan apa yang menurutmu terbaik untuk kerajaan dan keluarga kita." Akhirnya Vincent berkata sambil menepuk-nepuk lembut punggung telapak tangan Alvero yang sedang berada di pahanya.


"Tapi Pa, sejak kapan Papa mulai curiga Eliana bukanlah wanita baik-baik?" Alvero bertanya dengan nada terdengar hati-hati, karena bagaimanapun Alvero tidak tahu sebenarnya apa perasaan yang dimiliki Vincent terhadap ibu tirinya itu.


Apakah itu perasaan kagum, kasihan, sayang, atau bahkan perasaan cinta. Setelah sekian lama Vincent tetap membiarkan Eliana ada di sampingnya, Alvero berpikir, bahwa Vincent sedikit banyak akan memiliki perasaaan sayang terhadap Eliana.

__ADS_1


"Setelah kehadiran Deanda di istana pagi itu. Saat dia terlihat begitu marah karena kamu meminta pertemuan resmi keluarga dan memperkenalkan Deanda sebagai calon tunanganmu. Kemarahannya saat itu membuatku dengan diam-diam menyuruh orang untuk mulai mengawasi apa yang dilakukan Eliana supaya dia tidak melakukan hal yang bisa menyakiti Deanda. Agar tidak terulang kejadian yang sama seperti di masa lalu. Kejadian buruk yang menimpa mamamu. Saat itu, aku takut Eliana berusaha memisahkanmu dengan Deanda. Walaupun aku tidak bisa membuktikannya, beberapa orang dekatku mencurigai Eliana sebagai pelaku di balik terbakarnya tempat kediaman Larena malam itu." Vincent berkata sambil menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi rodanya.


“Aku tahu kemarahan Eliana terjadi karena ketakutannya untuk menjadikan Dion raja Gracetian selanjutnya akan gagal karena Deanda. Tahun ini usiamu akan mencapai 27 tahun, dan setelah sekian lama, akhirnya kamu membawa seorang gadis ke istana. Hal itu pasti membuatnya kecewa dan takut kehilangan kesempatan untuk merebut tahta bagi Dion. Dan aku tidak ingin dia melakukan sesuatu untuk mencegah pertunangan kalian.” Perkataan Vincent membuat Alvero sedikit menganggukkan kepalanya.


"Saat orang-orangku mulai mengamati Eliana, mereka mulai menemukan banyak hal aneh yang terjadi di sekitarnya. Bahkan berakhir dengan kecurigaanku dengan obat yang selama ini disiapkan olehnya untuk aku konsumsi selama beberapa tahun terakhir. Karena ada waktunya dimana orang suruhanku melihat dia bertemu dengan dokter pribadiku di luar istana. Dan itu terjadi tidak hanya sekali. Dan setiap kali Eliana bertemu dengan dokter itu, Eliana akan menerima sesuatu yang lebih tepat disebut sebagai obat-obatan. Sedangkan selama ini, aku tahu dia tidak memiliki masalah dengan kesehatannya." Kata-kata Vincent membuat Alvero dan Deanda sama-sama mengernyitkan dahinya.


"Belum lagi, beberapa kali tanpa sepengetahuanku, Eliana melakukan pertemuan dengan orang-orang yang bukan anggota keluarganya, ataupun keluarga bangsawan. Entah perkumpulan apa yang dia kunjungi, yang pasti, acara dari perkumpulan itu bukan sebuah acara pertemuan resmi yang biasa dihadiri oleh keluarga kerajaan. Dan dia menghadiri pertemuan itu sendiri tanpa adanya anggota keluarga kerajaan yang lain. Sehingga benar-benar mencurigakan. Info tentang tempat-tempat yang pernah dia kunjungi untuk pertemuan itu, akan aku serahkan padamu. Aku tahu kamu lebih dari pada mampu untuk menyelesaikan masalah Eliana daripada aku." Vincent berkata sambil menggerakkan kursi rodanya ke nakas dekat tempat tidurnya.


Dengan gerakan pelan, Vincent membuka laci dari nakas itu, dan mengambil sebuah flash disk berwarna merah. Lalu, Vincent menggerakkan kembali kursi rodanya, kembali mendekat ke arah Alvero dan Deanda yang mengamati apa yang sedang dilakukan oleh Vincent.

__ADS_1


"Di dalam flash disk ini, ada beberapa informasi tentang apa yang dilakukan oleh Eliana akhir-akhir ini. Pergunakan dengan baik, dan cari bukti-bukti bahwa Eliana memang pelaku pembakaran rumah tempat Larena tinggal sebelum meninggal. Hukum dia dengan hukuman yang setimpal atas setiap kejahatan yang pernah dilakukannya. Aku tidak akan tenang sampai dia membayar atas apa yang sudah dilakukannya kepada keluarga kita." Kata-kata Vincent diucapkan dengan nada berapi-api setelah menyerahkan flash disk itu kepada Alvero.


Melihat bagaimana perkataan Vincent dipenuhi dengan aura kemarahan, kekecewaan, sekaligus kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam, Alvero menarik nafas panjang. Rasanya saat ini dia begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya dirasakan oleh Vincent terhadap Eliana selama ini.


"Aku ingin agar kamu segera menyingkirkan Eliana dari istana, atau aku tidak pernah kembali ke istana. Aku tidak ingin berada di tempat dimana wanita itu ada. Hanya satu hal yang aku minta padamu Alvero, jika mungkin, tetaplah menjaga dan mendidik Dion, karena bagaimanapun dia tetap seorang Adalvino. Sejelek apapun sifat Dion, kehadirannya murni karena kesalahanku, bukan Dion yang bersalah. Selama ini aku bertahan dengan Eliana juga karena demi dia, agar dia tidak menjadi anak haram, dan dia bisa mendapatkan Pendidikan dan kehidupan yang layak sebagai pangeran Adalvino seperti pangeran Adalvino yang lain. Jika saja bukan karena adanya Dion, aku tidak akan sudi berada di dekat wanita itu." Kata-kata berikutnya dari Vincent yang menunjukkan bahwa Vincent tidak nyaman berada di dekat Eliana, membuat Alvero tanpa berpikir panjang menanyakan hal yang selama ini selalu membuatnya penasaran.


"Lalu, sebenarnya, seperti apa hubungan antara papa dan Eliana?" Alvero langsung bertanya dengan matanya menatap ke arah wajah Vincent yang terlihat sedih.


"Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, sudah saatnya kalian tahu tentang perasaan papa yang sebenarnya. Sampai detik ini, rasa cinta yang papa miliki, hanya untuk Larena Hilmar, tidak ada wanita lain. Sejak aku dan Eliana menikah karena keberadaan Dion, tidak pernah sekalipun aku menyentuh wanita itu, kecuali di malam terkutuk dimana dengan bodohnya aku mengkhianati Larena hanya karena alkohol. Walaupun setelah itu Larena keluar dari istana, tidak pernah sedetikpun aku membiarkan dia kesulitan dan sendirian. Alexis dan Tiana selalu ada bersamanya, untuk memastikan dia baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apapun. Beruntung pada malam itu Tiana tidak mengajak Deanda yang saat kejadian sedang dititipkan di rumah neneknya." Setelah mengatakan itu, Vincent menarik nafas dalam-dalam, menunjukkan kesedihan mendalam saat dia teringat kembali tentang kisah antara Larena, Alexis dan Tiana dan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2