BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PROTES KERAS ELIANA


__ADS_3

"Yang Mulia!" Suara Eliana yang memanggilnya dengan nada cukup tinggi membuat senyum sinis di bibir Alvero semakin melebar.


Bahkan tanpa sadar suara Eliana yang memperlihatkan kemarahannya membuat Alvero merasa bahagia.


Akhirnya! Saat ini hatimu pasti sedang panas karena duke Evan sudah mengobrak-abrik istana dan menyingkirkan para pendukung setiamu! Aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan setelah ini!


Alvero berkata dalam hati dengan perasaan puas karena mendengar dari cara Eliana memanggilnya menunjukkan kalo wanita itu sedang dalam posisi terpojok, marah, sekaligus bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sehingga nekat menghubungi Alvero.


"Selamat siang ibu suri, apa ada yang bisa aku bantu?" Dengan santainya Alvero menjawab panggilan dari Eliana yang harus berusaha keras mengatur nafasnya agar bisa melanjutkan bicaranya dengan Alvero tanpa menunjukkan bahwa dia sedang begitu marah kepada Alvero saat ini.


Beberapa menit yang lalu, Evan baru saja meninggalkan istana dengan membawa belasan orang yang bekerja di istana, yang setelah dilakukan penyelidikan dan penggeledahan, ternyata memang memiliki tato bergambar matahari setengah lingkaran dan kepala singa yang mengaum.


Evan tidak perduli, mulai dari pelayan, pengawal, tukang kebun, para staff istana, semua tidak luput dari pengecekan oleh Evan, sehingga siapapun diantara mereka yang terbukti memiliki tato tersebut di tubuhnya, langsung diamankan.

__ADS_1


Dan begitu selesai melakukan pengeledahan dan penyelidikan, tanpa meminta ijin dan mengatakan apapun pada Eliana, Evan langsung membawa mereka yang berhasil ditangkap dengan pengawalan penuh meninggalkan istana.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepada para pelayan dan pegawai istana Yang Mulia? Beberapa diantara mereka adalah orang-orang yang sudah lama bekerja untuk kita di istana. Kenapa Yang Mulia meminta duke Evan mengusir mereka dari istana, sekaligus menahan mereka? Bukankah itu sebuah tindakan yang semena-mena dan tidak adil bagi mereka?" Perkataan Eliana sukses membuat Alvero meringis, karena merasa geli bagaimana seorang Eliana tiba-tiba bersikap seperti seorang pembela keadilan di hadapannya.


Semena-mena? Tidak adil? Wah, sepertinya wanita ular ini sedang tidak sadar diri dan justru sedang membicarakan tentang dirinya sendiri.


Alvero berkata dalam hati sambil tertawa kecil, membuat hati Eliana bertambah dongkol, karena merasa disepelekan.


"Ibu Suri yang adil dan tidak semena-mena. Apa Ibu Suri sudah bertanya kepada duke Evan, siapa saja dari mereka yang ditahan oleh duke Evan. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tato di tubuh mereka." Alvero menghentikan bicaranya sejenak.


Alvero berhasil membuat Eliana tidak bisa berkata-kata lagi untuk menyatakan protes dan keberatannya atas tindakan duke Evan yang langsung menyeret keluar setiap orang dengan tato di tubuhnya, tato simbol dari para pemberontak yang ingin menggulingkan kepemimpinan yang sah dari keluarga Adalvino.


"Ibu Suri ingin aku memberikan keterangan pers bahwa selama ini Ibu Suri sudah sengaja mempekerjakan para karyawan yang merupakan anggota kelompok pemberontak? Bukankah memang para pegawai itu, sudah ada sejak jaman Ibu Suri menjabat sebagai permaisuri Gracetian? Atau Ibu Suri ingin sekalian agar aku mengumumkan bahwa Ibu Suri kemungkinan terlibat dengan kelompok pemberontak yang sudah memberikan racun kepada permaisuri Deanda hari ini?" Dengan santai Alvero justru mengatakan sesuatu yang langsung membuat mata Eliana melotot dengan suara desisan yang langsung terdengar menyatakan protesnya karena kata-kata Alvero barusan yang membuat dadanya terasa sesak sekaligus panas.

__ADS_1


"Yang Mulia! Tolong jaga sopan santun Yang Mulia, agar lebih diperhatikan. Sebagai seorang raja yang menjadi panutan banyak orang, jangan menuduh sembarangan tanpa adanya bukti apapun. Atau saya bisa menuntut Yang Mulia untuk fitnah semacam itu." Kali ini Alvero benar-benar mengernyitkan dahinya dengan wajah begitu marah, mendengar ancaman dari Eliana.


"Apa? menuntutku? Beraninya Ibu Suri mengatakan hal yang bisa dianggap sebagai niat memberontak! Aku adalah raja dari negara Gracetian dengan sistem pemerintahan monarki abslout! Setiap perkataanku adalah hukum! Bahkan jika saja aku mau! Tanpa alasan apapun sekarang juga aku bisa memberikan hukuman penggal kepada Ibu Suri!" Kali ini Alvero langsung mengucapkan kata-katanya dengan kasar dan diikuti nada keras, yang bahkan membuat wajah Erich dan Ernest langsung terlihat tegang, menyadari raja mereka sekarang dalam kondisi benar-benar marah terhadap Eliana.


"Tapi sayangnya, aku bukan raja bertangan besi dan kejam seperti itu! Jika tidak ada hal lain yang ingin Ibu Suri sampaikan kepadaku, lebih baik kita hentikan pembicaraan ini. Saat ini aku harus segera menemukan Avitus yang merupakan penanggung jawab makanan yang aku dan permaisuri makan. Bagaimana bisa dia meloloskan makanan beracun sampai di meja makan kami dan di cicip oleh permaisuriku. Di saat seperti ini, dia justru menghilang. Dan itu artinya, semua kecurigaan mengarah pada Avitus." Alvero berkata tanpa memberi kesempatan kepada Eliana untuk menanggapi perkataannya.


"Kondisi permaisuriku saat ini bagiku lebih penting dari apapun juga. Aku ingin orang yang bertanggung jawab terhadap kejadian hari ini menerima hukuman setimpal. Aku ingin berkonsentrasi untuk menemukan Avitus agar aku bisa segera tahu siapa dalang dibalik semua ini. Aku ingin segera mengetahui siapa orang yang menginginkan kematian istriku." Alvero berkata sambil mengepalkan tangannya tanpa dia sadari, karena Alvero tahu pasti siapa otak dibalik rencana busuk Avitus meracuni Deanda.


Dan orang itu adalah wanita yang saat ini sedang berbicara langsung dengannya tanpa merasa bersalah. Bahkan justru bertindak seolah-olah dia adalah seorang korban dari sebuah ketidakadilan.


"Ah, sayang sekali Ibu Suri harus mendengar keluh kesahku yang mungkin membuat Ibu Suri justru merasa sangat terganggu. Kalau begitu, silahkan Ibu Suri melanjutkan kesibukan Ibu Suri d istana. Dan aku akan mengurus urusan yang lebih penting dari sekedar kita berdebat di telepon untuk hal yang memang sudah seharusnya dilakukan. Selamat siang Ibu Suri. Semoga harimu menyenangkan hari ini." Tanpa menunggu jawaban dari Eliana, Alvero langsung menutup panggilan teleponnya, membuat Eliana sedikit tersentak kaget.


 

__ADS_1


 


__ADS_2