
“Lalu… apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana nasibku di masa depan? Aku tidak mau ikut menderita bersama mama. Ayo Desya, berpikirlah dengan cepat sekarang!” Desya kembali berkata dengan suara terdengar begitu putus asa, sampai sebuah ide terbersit di pikirannya.
“Aku harus segera pergi dari negara ini sebelum semuanya terlambat!” Desya berkata sambil dengan buru-buru bangkit dari duduknya, dan berlari ke arah kamarnya, bahkan tidak diperdulikannya ujung jari kakinya yang terluka karena menabrak kaki meja akibat gerakannya yang terlalu terburu-buru.
Dengan cepat Desya berusaha membereskan semua barang-barang berharga miliknya yang ada di lemari, semua perhiasan dan uang tunai yang dia miliki. Dan juga beberapa potong pakaian terbaiknya, surat-surat penting dan memasukkannya ke koper dengan sembarangan.
Setelah itu, dengan buru-buru Desya segera memesan tiket penerbangan tercepat yang ada, untuk bisa segera pergi meninggalkan negara Gracetian secepatnya.
Di tempat lain, Dion tampak termenung dengan senyum sinis tersungging di bibirnya begitu melihat tayangan jumpa pers yang berakhir dengan kehebohan karena terbongkarnya sebuah rahasia tentang status Dion yang ternyata bukan merupakan keturunan dari Vincent Adalvino.
“Ternyata… aku tahu sekarang kenapa selama ini, aku dan kak Alvero tidak pernah bisa dekat. Dan tidak bisa merasakan adanya sebuah ikatan seperti saudara pada umumnya. Karena aku dan dia memang tidak memiliki darah yang sama dalam tubuh kami. Dan karena itu! Aku bisa menyukai wanita yang sama dengannya, yang bahkan membuatku gila!” Dion berkata dengan mendengus kesal.
Perasaan Dion saat ini bercampur aduk menjadi satu, antara marah, kesal, kecewa dan juga patah hati.
“Karena dalam tubuh kita tidak mengalir darah yang sama! Mulai sekarang aku tidak akan merasa ragu untuk terus mencintai wanitamu kak Alvero! Ah, bukan… mulai sekarang aku harus menyebutmu yang mulia Alvero, karena aku memang bukanlah adikmu!” Dion berkata sambil melempar gelas yang dipegangnya ke arah layar televisi, menyebabkan layar kaca televisi itu pecah dan kepingannya jatuh menyebar di lantai yang ada di bawahnya.
Seolah kepingan kaca dari layar televisi itu menunjukkan kondisi hati Dion saat ini.
# # # # # # #
__ADS_1
“Yang Mulia, silahkan….” Ernest langsung membukakan pintu kantor Alvero, dimana Evan dan Erich, maupun Alaya dan Deanda ikut berjalan memasuki ruangan Alvero, setelah meninggalkan restoran tempat jumpa pers diadakan tadi.
“Duke Evan, segera cari dimana keberadaan Rolland, sopir pribadi Eliana sebelum dia melarikan diri dari kota Tavisha. Pria itu adalah kunci penting, dimana dia memegang kekuatan di balik sosok Eliana.” Alvero segera memberikan perintah kepada Evan, begitu mereka semua sudah duduk di ruang meeting pribadi milik Alvero, yang ada di salah satu sudut ruangan kantor Alvero.
“Jangan khawatir Yang Mulia. Saya sudah mengaturkan orang untuk memblokir semua perbatasan kota Tavisha, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa meninggalkan kota Tavisha tanpa melalui pemeriksaan ketat dari orang-orang kita.” Alvero langsung menangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Evan.
“Tapi Yang Mulia, kabar terbaru yang saya dengar, putri Desya berhasil melarikan diri ke luar negeri melalui jalur udara. Apa yang ingin Yang Mulia lakukan untuk masalah itu?” Perkataan Evan membuat Alvero tetap terlihat tenang, tanpa menunjukkan sikap terkejut dengan apa yang baru saja diaktakan oleh Evan, seolah-olah Alvero sudah mengetahui tentang Desya yang melarikan diri ke luar negeri.
“Aku sengaja membiarkan dia pergi dari Gracetian. Silahkan saja dia mencari tempat persembunyian sebisa mungkin. Karena mulai detik ini, aku akan memerintahkan semua pembekuan asset milik baroness Eliana, sehingga Desya tidak bisa menggunakan kekayaan mereka. Dengan gaya hidupnya, dan uang tunai serta barang berharag yang berhasil dia bawa, tidak akan butuh lama untuk membuatnya melarat. Jika diteruskan, dia akan menjadi gelandangan di luar negeri. Tidak ada ruginya negara Gracetian kehilangan satu rakyat seperti Desya. Dan duke Evan, tidak perlu lagi menyebutnya sebagai putri. Pembatalan pernikahan antara yang mulia Vincent dan baroness Eliana, membuat status Desya maupun Dion, bukan lagi putri ataupun pangeran Gracetian.” Alvero berkata dengan wajah terlihat dingin, terlihat bahwa dia tidak perduli dengan apa yang akan terjadi pada Desya dan Dion ke depannya.
“Perketat keamanan rumah sakit tempat baroness Eliana dirawat, aku yakin para sekutunya, terutama Rolland, sekarang sedang mencoba mencari cara untuk membawanya kabur dari rumah sakit.” Duke Evan langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah Alvero tentang Eliana.
Info itu membuat Alvero yakin dengan ditangkapnya Eliana yang saat ini sedang mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit karena serangan jantung, Rolland pasti tidak akan tinggal diam.
Rolland pasti sedang mencari cara agar bisa segera membebaskan Eliana, dan kami tidak boleh lengah sedikitpun kali ini.
Alvero berkata dalam hati dengan pikirannya yang mencoba menebak apa yang akan terjadi ke depannya.
“Yang Mulia….” Evan langsung menghentikan bicaranya begitu terdengar suara bel dan ketukan dari arah pintu kantor Alvero, yang membuat dengan sigap Erich langsung berdiri dan bergerak ke arah pintu.
__ADS_1
“Selamat siang Yang Mulia, Ibu Suri, juga Tuan Alexis.” Setelah melihat siapa yang datang, Erich segera memberikan salam pernghormatannya kepada Larena dan Vincent, juga menyapa Alexis yang datang bersama mereka.
Setelah mereka bertiga masuk dan duduk bergabung dengan yang lain, Alvero segera memulai poembicaraan kembali.
“Aku cukup puas dengan kerja semua tim kita hari ini. Hari ini merupapan hari bersejarah dimana setelah sekian lama, kita bisa membuka kebenaran di depan semua rakyat.” Perkataan Alvero membuat semua yang ada di situ tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tapi jangan lupa, perjuangan kita ini adalah awal, bukan akhir. Masih ada kelompok pemberontak yang belum kita bereskan jika kita ingin kedamaian di Gracetian bisa tercapai.” Alvero kembali menyambung kata-katanya.
“Yang Mulia… ada sesuatu yang penting yang akan saya sampaikan kepada Yang Mulia Alvero.” Alexis tiba-tiba bersuara, membuat Alvero dan yang lain mengarahkan pandangan matanya kepada Alexis.
“Silahkan Tuan Alexis…” Alvero berkata sambil menggerakkan tangannya memberi tanda mempersilahkan Alexis untuk berbicara.
“Sebelum saya datang ke tempat ini bersama dengan Yang Mulia Vincent dan ibu suri Larena, sebenarnya setelah siaran live tadi, baron Amos menghubungi saya. Ada beberapa hal yang dia sampaikan tentang bunker Tavisha dan tentang kelompok pemberontak yang sudah lama kita cari-cari keberadaannya.” Mendengar perkataan Alexis, Alvero langsung mengernyitkan dahinya, karena dia ingat siapa itu baron Amos.
Baron Amos merupakan saudara kandung Eliana Edarian yang dulunya selalu mengejar-ngejar Larena. Bahkan dia merupakan salah seorang yang sempat dicurigai sebagai pelaku pembakaran tempat kediaman Larena malam itu, setelah ditemukan foto-foto yang menunjukkan dia bermaksud membawa Larena pergi dengan menarik pergelangan tangannya. Menunjukkan bahwa saat itu dia sedang memaksa Larena untuk ikut dengannya.
__ADS_1