BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENIKMATI INDAHNYA DANAU BERSAMAMU


__ADS_3

Untuk waktu yang lama Alvero terus menikmati ciuman bibirnya ke bibir Deanda. Sebuah ciuman panjang yang lembut dan mesra. Bukan sebuah ciuman panas, tapi sanggup membuat kedua dada mereka saling merasakan getaran halus, menyadari bahwa orang yang sedang menciumnya adalah orang yang mereka cintai, orang yang keberadaannya sungguh berarti dalam kekehidupan mereka baik detik ini maupun di masa depan mereka.


"Sampai berapa lama kita akan terus seperti ini? Membiarkan barang-barang kotor itu tetap di sana?" Pada akhirnya Deanda menarik bibirnya, menjauhkan dari bibir Alvero, mengingatkan kepada Alvero tentang pekerjaan mereka yang belum mereka selesaikan.


Perkataan Deanda yang berisi peringatan itu langsung membuat Alvero tersenyum. Alvero mengecup bibir Deanda sekilas sebelum akhirnya melepaskan pelukan tangannya dari pinggang Deanda dengan enggan.


Begitu Alvero melepaskan pelukan tubuhnya, Deanda langsung bergerak kembali ke arah wastafel. Melihat itu Alvero segera menyusul Deanda, dan kali ini dia benar-benar membantu Deanda untuk mencuci piring dan peralatan masak kotor yang menumpuk di wastafel.


# # # # # # #


"Akhirnya selesai. Ayo kita keluar." Deanda yang sudah melepaskan sarung tangan karet yang dikenakannya dan membersihkan serta mengeringkan tangannya dengan santai menarik lengan kiri Alvero yang awalnya tersenyum melihat bagaimana Deanda sekarang sudah terlihat jauh lebih santai saat bersamanya.


Namun begitu melihat arah gerakan Deanda yang hendak keluar dari rumah kayu ke arah jembatan dengan pakaian yang hanya menggunakan kemeja lengan panjangnya, sehingga hanya bisa menutupi sebagian paha atas Deanda, dengan cepat Alvero menarik lengan kanan istrinya sehingga tubuh Deanda berdiri berhadap-hadapan dengannya.


"Kenapa? Bukankah kita mau menikmati keindahan danau?" Dengan wajah polosnya Deanda bertanya kepada Alvero yang langsung menahan nafasnya.


"Serius kamu mau keluar dengan pakaian seperti ini? Aku tidak mengijinkan! Kamu tidak boleh keluar dengan pakaian seperti itu!" Alvero berkata sambil matanya menatap ke arah bagian bawah tubuh Deanda yang seperti baru saja terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ah, ya.... maaf... aku lupa..." Deanda berkata dengan sikap merasa bersalah, membuat Alvero langsung menggerakkan ujung jarinya dan menyentil pelan dahi istrinya yang tidak sadar bahwa cara berpakaiannya bisa membuat tubuh laki-laki yang melihatnya akan mengalami panas dingin bahkan mimisan.


"Ayo ikut aku..." Alvero menarik tangan Deanda untuk berjalan ke arah bagian belakang bangunan rumah kayu yang berbentuk huruf U, sehingga mereka bisa menikmati pemandangan danau tanpa bisa diamati oleh orang lain karena di bagian kanan kiri teras yang ada di belakang rumah kayu itu, di bagian kiri kanannya tertutup oleh bangunan lain, sehingga privasi mereka berdua lebih terjaga.


"Wah, dari tempat ini pemandangan terlihat indah juga." Deanda berkata dengan pandangan mata menatap dengan tatapan mata kagum melihat ke arah danau yang tampak bersih dan terawat.


Ketika mata Deanda bergeser ke arah sebelah kanan, matanya semakin terbeliak dengan bibirnya tersenyum lebar melihat sebuah ayunan kayu yang tergantung di sana. Tanpa mengatakan apapun kepada Alvero, dengan langkah-langkah cepat Deanda berjalan ke arah ayunan kayu bebentuk kursi panjang yang kanan kirinya terdapat sandaran tangan.


Alvero yang melihat bagaimana bersemangatnya Deanda melihat ayunan itu hanya tersenyum sambil menggaruk salah satu alisnya dengan ujung jari telunjuknya.


Wah... istriku, begitu semangatnya melihat sebuah ayunan, sampai melupakan suaminya sendiri. Sudah seperti anak kecil yang melihat permen lolipop dan es krim saja.


Begitu Alvero duduk di samping kiri Deanda, lengan tangan kanan Alvero langsung melingkar di bahu Deanda dan bergerak menarik kepala Deanda agar bersandar di antara lengan dan bahunya, sambil kaki Alvero mulai bergerak agar ayunan itu bergoyang pelan, membuat Deanda yang kepalanya bersandar di lengan dan bahu Alvero sambil menatap ke arah danau, tersenyum dengan wajah terlihat begitu bahagia.


"Setelah sekian lama, baru kali ini aku bisa merasakan duduk bersantai menikmati alam seperti hari ini." Deanda yang duduk di samping Alvero berkata sambil menggerak-gerakkan kakinya yang tergantung di ayunan yang bergerak pelan.


"Jujur saja walaupun aku sering mengunjungi tempat ini besama Enzo, tapi ini baru pertama kalinya aku menggunakan ayunan ini." Deanda yang mendengar perkataan Alvero, langsung mendongakkan kepalanya dengan tetap bersandar kepada lengan dan bahu Alvero, memandang wajah Alvero yang kepalanya sedang menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa begitu? Siapa yang meminta adanya ayunan di sini?" Deanda berkata sambil tangannya bergerak menggenggam tangan Alvero yang sedang mengelus lembut rambut di kepala Deanda, dengan lengannya yang melingkar di bahu Deanda.


"Aku yang memintanya. Tapi menurutmu apa tidak akan lucu jika aku dan Enzo duduk berdua seperti kita saat ini? Bisa-bisa orang berpikir macam-macam tentang hubungan kami. Hih...!" Alvero berkata sambil menggedikkan bahunya, membuat Deanda tertawa geli.


"Apa sekarang kamu sedang menyindirku? Karena pernah salah paham memikirkan hubunganmu dengan Erich? Berpikir bahwa kamu benar-benar gay?" Alvero tersenyum mendengar perkataan istrinya yang benar-benar cerdas, bisa menebak arti dari kata-katanya sebelumnya yang memang sengaja diucapkannya untuk menyindir sekaligus menggodanya.


"Apa kamu tahu dengan sikap keras kepalamu bahkan aku harus dengan sengaja membuatmu salah paham tentang kondisi orientasi seksualku agar kamu mau menikah denganku? Kalau saat itu kamu tahu aku bukan gay, pasti kamu akan menolak mentah-mentah untuk menikah denganku." Alvero berkata sambil mencubit hidung Deanda dengan gemas.


"Aku juga tidak tahu bagaimana kamu sudah berhasil menyihirku sedemikian rupa sehingga waktu itu bahkan aku tidak memberimu hukuman mati atau setidaknya penjara seumur hidup karena sebagai rakyat biasa bahkan berani menolak lamaran seorang putra mahkota Gracetian." Mendengar kata-kata Alvero Deanda langsung membeliakkan matanya.


“Lalu kenapa waktu itu kamu tidak menghukumku?” Deanda justru bertanya dengan pandangan mata serius menatap ke arah Alvero yang hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar melalui bibirnya.


"Bagaimana bisa aku memberimu hukuman, sedangkan membayangkan kamu jauh dariku saja membuatku gila. Menghukummu sama dengan menghukum diriku sendiri." Alvero berkata sambil tersenyum, setelah itu mengecup mesra kening Deanda.


"Menurutmu... apa aku berani memiliki mimpi untuk menikah dengan seorang putra mahkota yang begitu aku kagumi? Sedangkan aku hanya seorang gadis biasa... Kamu tahu, orang-orang seperti Leticia, selalu mencemooh orang-orang yang memiliki mimpi terlalu tinggi..." Deanda berkata pelan.


"Ck ck ck... kamu terlalu memikirkan perasaan orang lain. Sekali-kali bersikaplah egois untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Selama ini kamu menjalani kehidupanmu dengan selalu mengalah kepada orang lain, termasuk dalam urusanmu dengan ibu dan kakak tirimu yang sudah seperti lintah penghisap darah. Ada beberapa orang yang pantas mendapatkan kesempatan kedua atau pengampunan, tapi ada beberapa orang yang tidak patut mendapatkan kemurahan hati seperti itu. Termasuk orang yang sudah hampir membuatmu celaka hari ini dengan melukai white angel." Begitu mendengar perkataan Alvero, kepala Deanda langsung tegak, menjauh dari bahu dan lengan Alvero.

__ADS_1


"Apa... kamu sudah menemukan siapa yang berusaha melukai white angel?" Deanda memandang dalam-dalam ke arah Alvero dengan tatapan mata bertanya-tanya karena merasa begitu penasaran, apalagi Deanda bisa melihat tatapan mata kelam dari Alvero saat mengatakan tentang orang yang sudah berani melukai white angel, menunjukkan dengan jelas dia sudah mengetahui tentang siapa pelaku itu.


__ADS_2