
Di dalam rumah itu selain bercak darah, terlihat beberapa perabotan yang terguling atau bahkan pecah dan serpihannya menyebar di lantai.
Di lantai ruang tamu, sampai ke arah lantai dapur terlihat ceceran darah yang terlihat masih basah. Di beberapa bagian perabotan, di kursi maupun dinding tampak bekas darah berpola telapak tangan yang menunjukkan bahwa laki-laki itu berusaha melarikan diri dari serangan pembunuhnya, dengan berusaha berjalan menjauhi ruang tamu dan mencari pegangan pada dinding untuk menahan tubuhnya yang teluka.
Pola itu terlihat mulai dari arah ruang tamu ke arah dapur. Dan di tengah-tengah ruangan dapur tampak tergeletak sesosok mayat dengan luka tusukan yang cukup parah di bagian perut dan dadanya, yang sampai saat ini masih mengalirkan darah segar.
Dua orang anak buah Red dari Goldie Tavisha tampak masih duduk berjongkok di dekat mayat itu.
Melihat sosok mayat di lantai itu, Alvero hanya bisa menarik nafas panjang. Kali ini dia datang terlambat beberapa menit saja.
"Maaf Tuan Alvi, Nona Besar, kita terlambat. Sepertinya pembunuhan ini dilakukan oleh orang-orang suruhan Eliana. Saya juga tidak tahu darimana info keberadaan saksi itu diketahui oleh Eliana." Red yang ikut datang di kota Croyen beberapa detik lebih awal dari Alvero tampak menunjukkan rasa penyesalannya yang begitu dalam melihat ke arah satu-satunya saksi yang baru saja bisa mereka temukan, namun pada akhirnya diketemukan dalam keadaan mati di tangan orang-orang suruhan Eliana.
"Sepertinya Eliana sudah mulai mengamati gerak-gerik kita. Kita harus ekstra hati-hati mulai sekarang." Alvero bergumam pelan sambil mengalihkan pandangan matanya dari sosok mayat yang tergeletak di depannya itu.
"Sebelum meninggal, dua orang dari Goldie Tavisha yang baru saja datang ke tempat ini berusaha menolongnya, tapi luka laki-laki itu terlalu parah sehingga sulit untuk tertolong nyawanya.
__ADS_1
"Apa pembunuhnya sudah tertangkap Tuan Red? Atau dia berhasil melarikan diri?" Alvero berkata sambil menggerakkan tubuhnya, berjalan keluar dari area dapur, diikuti Deanda, Ernest dan Red.
"Maaf Yang Mulia, salah satu dari orang Goldie Tavisha berusaha mengejarnya, dan berhasil menangkapnya. Namun tiba-tiba saja pembunuh itu mengeluarkan darah dari mulutnya dan mati. Sepertinya dia sengaja meminum racun atau memang sedari awal dia sudah diracun, sehingga jika dia tidak bisa kembali secepatnya, dia juga akan mati karena tidak bisa mendapatkana penawarnya." Red menjelaskan kepada Alvero dengan wajah terlihat begitu menyesal, karena tidak bisa menyelamatkan satu-satunya saksi yang berhasil dia temukan.
"Benar-benar ciri khas dari cara kerja Eliana. Membunuh dan meracun orang untuk membungkam mulut mereka." Alvero berkata dengan nada geram.
Lagi-lagi hari ini, Alvero harus melihat kekejaman Eliana terjadi di depan matanya tanpa bisa dia cegah.
"Yang Mulia, menurut salah satu orang dari Goldie Tavisha , saksi itu sempat mengatakan hal yang aneh sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Sam, kemarilah! Ceritakan dari awal apa yang kamu lihat dan kamu dengar tadi kepada Yang Mulia. Tanpa dikurangi dan juga tanpa ditambah." Mendengar panggilan dari Red, orang yang dipanggil dengan nama Sam itu bangkit berdiri dari berlututnya dan berjalan mendekat ke arah Alvero dan Deanda.
Dari tidak banyaknya Deanda berbicara dan dari wajahnya, Alvero tahu bahwa Deanda merasa begitu kecewa melihat kenyataan bahwa saksi mata itu akhirnya terbunuh dan tidak lagi bisa memberikan kesaksiannya. Jika saja saat ini mereka tidak sedang bersama banyak orang, rasanya Alvero ingin merengkuh tubuh Deanda dalam pelukannya agar bisa memberinya semangat dan bisa menghiburnya.
"Baik Yang Mulia. Sebenarnya sudah sejak kemarin tuan Red memerintahkan kepada kami untuk mengawasi saksi mata. Tapi sepertinya, orang yang berusaha membunuhnya adalah seorang profesional. Dari apa yang kami lihat dan selidiki. Pembunuh itu masuk melalui atap rumah tetangga yang tempatnya berdempetan dengan atap rumah saksi mata. Karena dia memanjat dari rumah tetangga, maka dari itu kami tidak mengetahui saat pembunuh itu masuk ke dalam rumah." Sam mencoba menjelaskan dengan detail peristiwa pembunuhan barusan.
"Kami mengetahui ada yang mencoba menyerang saksi itu setelah terdengar teriakan dari arah dalam rumah dan suara benda-benda terjatuh. Kami berusaha masuk melalui pintu namun terkunci rapat. Dengan terpaksa kami mendobraknya. Saat kami memasuki rumah ini, rumah sudah berantakan dan darah tercecer dimana-mana. Sepertinya saksi mata itu melakukan perlawanan yang cukup keras. Begitu melihat kedatangan kami, pembunuh itu langsung berusaha kabur melalui pintu belakang. Dia berusaha mengejar pembunuh itu." Sam berkata sambil menunjuk ke arah temannya yang tampak masih berjongkok di depan mayat saksi mata itu.
__ADS_1
"Sebenarnya dia berhasil menangkap pembunuh itu. Tapi, seperti yang dikatakan oleh tuan Red, pembunuh itu tiba-tiba memuntahkan darah segar dari mulutnya, setelah itu tiba-tiba meninggal di tempat. Mayat dari pembunuh itu saat ini masih berada di dekat pintu belakang." Lagi-lagi Sam berkata sambil tangannya menunjuk ke arah di mana tergeletak mayat dari pembunuh itu.
"Sebelum meninggal, saksi mata yang tadinya sedang sekarat itu, mengatakan tentang bunker Tavisha berulang-ulang kali. Sepertinya itu adalah suatu tempat penting dan berhubungan dengan dia sebagai saksi kasus tuan Alexis." Mendengar perkataan Sam, Alvero langsung mengernyitkan dahinya.
(Bungker adalah sejenis bangunan pertahanan militer. Bunker biasanya dibangun di bawah tanah. Banyak bungker dibangun pada Perang Dunia I dan II. Dalam masa Perang Dingin, bungker-bungker besar dibangun untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perang nuklir).
"Bunker? Apa maksudnya dengan menyebutkan bunker Tavisha? Apa ada sesuatu di sana?" Alvero berkata sambil mengigit bibir bawahnya, dengan dahi masih berkernyit.
"Pada saat terjadinya perang dunia ke II, walaupun kerajaan kita tidak memihak negara manapun. Tetapi saya dengar, raja Gracetian saat itu sempat mendirikan beberapa bunker di beberapa titik di kota Tavisha. Bahkan saya dan tuan Alexis pernah melihat langsung satu dua dari bunker itu." Red menanggapi perkataan Sam dengan menambahkan informasi yang dia tahu.
"Aku tahu Tuan Red. Di kota Tavisha ada beberapa lokasi bunker, tapi apa hubungan bunker itu dengan Eliana? Karena selain raja dan para pengawal eksklusif kerajaan yang bertugas merawat dan menjaga kondisi bunker itu, tidak ada yang bisa mengakses bunker-bunker itu.” Alvero berkata dengan wajah yang terlihat sednag berpikir keras, mencoba menebak maksud dari saksi mata itu menyebutkan tentang bunker Tavisha berkali-kali.
“Dan setahuku, yang mulia Vincent tidak pernah sekalipun mengajak Eliana ke sana karena dianggap itu adalah kegiatan militer yang tidak biasa dilakukan oleh Eliana." Alvero kembali melanjutkan kata-katanya, mencoba menghubungkan apakah ada hubungan antara bunker Tavisha dan Eliana, juga hubungan antara bunker itu dengan pembunuh yang sudah mati itu.
__ADS_1