BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BAHAGIA YANG SEDERHANA


__ADS_3

Setelah puas memandangi dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang dilihatnya bukan mimpi. Deanda bergerak dengan cepat dan berlari ke arah Alvero, lalu memeluk tubuh laki-laki itu dengan kedua lengannya melingkar dengan erat di leher Alvero.


Tanpa ragu, Deanda menumpahkan tangis haru sekaligus bahagianya di dada Alvero yang langsung membalas pelukannya dan membelai lembut kepala Deanda, sambil menarik nafas panjang dengan perasaan lega melihat permaisurinya begitu menyukainya hadiah yang sudah disiapkannya secara khusus itu.


Saat pertama kali Deanda berlari ke arahnya, langsung memeluk dan bahkan menangis bahagia di dadanya, Alvero sedikit tersentak kaget. Tidak menyangka bahwa Deanda akan sedemikian terharu dan bahagianya mendapatkan hadiah darinya, yang mungkin jika itu wanita lain lebih mengharapkan sesuatu yang mewah, yang jika dinilai oleh uang akan memiliki nilai yang tinggi.


Ah, kebaikan hati dan ketulusan wanitaku ini selalu membuatku semakin hari semakin mencintainya. Bagaimana bisa kamu membuatku jatuh cinta berkali-kali setiap aku memandangmu dan melihat pesonamu.


Alvero berbisik dalam hati dengan hati yang berdebar. Setiap sentuhan Deanda pada tubuhnya, sekecil apapun itu, selalu membuat dadanya berdetak dengan kencang, dan membuat hatinya terasa begitu hangat. Suatu perasaan ynag bukan sekedar hangat, tapi juga begitu damai. Perasaan yang sudah begitu lama tidak pernah dirasakannya lagi, sampai dia sosok Deanda hadir dalam kehidupannya.


Sejak meninggalnya Larena, Alvero menjadi sosok yang berhati dingin dan tidak terlalu perduli dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah orang yang begitu haus akan kasih sayang, yang tidak didapatkannya bahkan dari seorang Vincent.


Prinsip yang selalu dipegang Alvero selama ini adalah: jangan mengusikku, maka aku tidak akan mengusikmu. Tetapi setelah mengenal, apalagi menikah dengan Deanda, sedikit demi sedikit Alvero menjadi orang yagn lebih ramah dan hangat. Juga lebih perhatian terhadap orang lain, termasuk para sepupunya seperti Tira, Enzo dan yang lain, sehingga Alvero rela berusaha dengan begitu keras membantu mewujudkan impian mereka.


Melihat apa yang dilakukan oleh Deanda kepada Alvero, dengan gerakan cepat, Ernest segera membalikkan tubuhnya kembali sambil tangan kanannya menggaruk-garuk alis matanya yang sebenarnya tidak gatal, disertai dengan sikap tidak tenang karena merasa tidak enak hati dan salah tingkah akibat pemandangan yang barusan dilihatnya.


Selain itu, dengan berat, Ernest menarik nafasnya. Sepertinya sepanjang hari ini Alvero dan Deanda akan membuat jiwa lajangnya meronta-ronta tanpa ampun karena disuguhkan kemesraan dan adegan-adegan romantis dari Alvero dan Deanda.


Dan celakanya, hari ini adalah hari pertama Deanda bekerja sebagai asisten Alvero, jadi mau tidak mau dia harus membantu Deanda sepanjang hari ini. Menjelaskan apa saja yang bisa dilakukan Deanda sebagai asisten pribadi Alvero yang baru.

__ADS_1


Sepagi ini, di hari pertama yang mulia dan permaisuri bekerja dalam kantor, sudah memberikan pertunjukan romantis seperti ini. Apa jadinya nasibku jika sepanjang hari ini harus berada di dekat mereka terus menerus? Ya Tuhan, semoga otak dan jantungku baik-baik saja sepanjang hari ini.


Ernest berkata sambil menarik nafas panjang dengan sikap pasrah, tidak berdaya, karena dia tahu dia tidak dapat berbuat apa-apa untuk malah itu.


"Terima... kasih my Al...." Dengan suara parau karena menangis, Deanda mengucapkan terimakasihnya kepada Alvero yang  langsung tersenyum sambil mengecupi puncak kepala Deanda dengan penuh kasih sayang.


"Terimakasih karena kamu hadir sebagai bagian dari hidupku. Itu adalah hal kecil yang bisa aku lakukan sebagai hadiah pernikahan untukmu. Semoga kamu menyukainya...."


"Suka.... aku suka sekali...." Deanda langsung memotong perkataan Alvero yang langsung tertawa geli.


"Tidak pernah ada yang memberiku hadiah sehebat itu, bahkan rumah dan perhiasan mewah yang menumpuk sebagai hadiah pernikahan kita dari para anggota keluarga kerajaan dan para bangsawan Gracetian, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hadiah special darimu pagi ini." Deanda berkata dengan nada suara terdengar begitu bersemangat, yang baru kali ini dilihat oleh Alvero.


Alvero berkata dalam hati sambil mengamati wajah bahagia istrinya yang membuatnya ikut merasa bahagia.


"Kamu ini, mudah sekali membuatmu terharu dan bahagia." Alvero berkata sambil menjauhkan dirinya dari Deanda, lalu dengan gemas dicubitnya hidung Deanda yang tampak memerah akibat menangis karena haru dan bahagia barusan.


“Kenapa? Apa kamu keberatan dengan itu?” Dengan sikap sedikit manja Deanda bertanya kepada Alvero yang kembali tertawa geli.


“Yang benar saja. Aku suka sekali melihatmu begitu bahagia." Alvero langsung menanggapi perkataan Deanda sambil mengacak pelan rambut wanita itu.

__ADS_1


"Pokoknya.... terimakasih my Al. Kamu selalu tahu apa yang paling kuinginkan di dunia ini. Kamu adalah pembaca pikiran terbaik bagiku." Deanda berkata sambil menjauhkan dirinya dari tubuh Alvero, lalu berjalan kembali ke arah meja kerjanya.


Sekali lagi mata Deanda menandangi ijazahnya dengan senyum tersungging di wajahnya tanpa henti, sambil tangan kanannya bergerak ke arah ijazah itu dan mengelus-elusnya dengan lembut.


Setelah sekian lama dia bekerja keras untuk bisa lulus dengan nilai terbaik di kampusnya. Bagaimana dengan susah payah dia harus membagi waktunya untuk bekerja paruh waktu dan juga belajar. Akhirnya hari ini dia bisa mendapatkan ijazahnya yang selama ini tertahan di kampus karena dia belum memiliki uang untuk menyelesaikan biaya administrasi dan sisa tunggakan biaya selama kuliahnya dulu.


Hampir saja dia meminta Alvero meminjamkan uang untuknya untuk menebus ijazah itu. Tapi saat ini, ijazah itu terpampang jelas di depan matanya, dengan cara yang benar-benar tidak dia duga.


"Kalau kamu terus mengelusnya seperti itu, aku akan segera menjauhkannya dari jangkauanmu, agar tidak membuatku cemburu." Suara bisikan dari Alvero yang tiba-tiba saja sudah memeluk tubuhnya dari arah belakang, membuat tubuh Deanda tersentak kaget sehingga tiba-tiba menghentikan tindakannya mengelus-elus ijazahnya.


"Aist... kendalikan dirimu my Al, mana ada orang cemburu dengan selembar kertas?" Deanda berkata sambil meringis, tidak menyangka Alvero akan mengungkapkan rasa cemburunya bahkan karena selembar kertas.


"O ya? kenapa tidak? Kalau kamu begitu memperdulikan kertas itu jauh lebih besar dari keberadaanmu di dekatmu?" Mendengar perkataan Alvero, Deanda segera membalikkan tubuhnya sehingga berhadap-hadapan dengan Alvero.


"My Al.... aku akan membuktikannya. Membuktikan bahwa kamu adalah yang terpenting bagiku. Tapi… tentu saja tidak sekarang. Kita harus bekerja sekarang. Apalagi..." Deanda menghentikan bicaranya dan langsung mendekatkan bibirnya pada telinga Alvero, membuat Alvero langsung menggigit fbibir bawahnya untuk menahan gejolak hasrat dalam dirinya yang mulai meronta dan terbangun dari tidurnya..


"Ada Ernest di sini...." Mendengar bisikan pelan dari Deanda bukannya setuju, Alvero justru langsung tertawa terbahak dengan wajah tidak perduli.


 

__ADS_1


 


__ADS_2