BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
BERITA PELARIAN ELIANA


__ADS_3

Deanda hanya bisa berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah. Sudah 3 jam berlalu sejak Alvero berangkat, dan dia belum mendengar kabar apapun tentang Alvero dan pasukannya.


Sesekali Deanda terlihat menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan keras.


Alea yang sedang berada bersama Deanda, begitu melihat bagaimana gelisahnya Deanda, Alea ikut merasa bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa membuat Deanda agar merasa lebih tenang.


Deanda tahu bahwa mungkin saat ini Alvero dan yang lain sudah berada di dekat bunker Tavisha dan melakukan pengintaian untuk persiapan penyerangan, sehingga Alvero belum bisa memberinya kabar.


Akan tetapi tetap saja bagi Deanda menunggu bagaimana hasil penyergapan terhadap para anggota kelompok pemberontak membuat pikiran Deanda merasa samakin tidak tenang.


Apa yang terjadi di sana? Apa mereka sudah mulai melakukan penyerangan? Apa semuanya akan baik-baik saja? Adakah masalah yang terjadi? Apakah yang mulia baik-baik saja? Tidak terluka?


Dengan penuh emosi, Deanda terus bertanya-tanya dalm hati.


Belum lagi Deanda bisa menguasai emosinya, tiba-tiba saja suara nada panggilan telepon dari handphonenya membuat Deanda sedikit tersentak kaget.


Deanda sedikit mengernyitkan dahinya begitu melihat sebuah nomer tidak dikenal yang berusaha menghubunginya, membuatnya dengan ragu mengangkat panggilan dari orang asing itu.


“Hallo…” Deanda menjawab panggilan telepon dengan suara pelan, diikuti oleh pandangan mata Alea, mengamati sosok Deanda yang sedang menerima panggilan telepon.


“Selamat malam Yang Mulia Permaisuri Deanda. Ini dari rumah sakit tempat baroness Eliana dirawat karena serangan jantung dua hari yang lalu.” Wajah Deanda terlihat langsung menegang begitu mendengar siapa yang sedang menghubunginya.

__ADS_1


“Selamat malam.” Deanda segera menjawab sapaan dari seberang sana.


“Maaf Yang Mulia Permaisuri, sejak beberapa waktu ini kami berusaha keras untuk  bisa menghubungi Yang Mulia Alvero, tapi tidak ada tanggapan. Ada hal mendesak yang harus kami sampaikan.” Deanda terlihat semakin gelisah mendengar apa yang dikatakan oleh petugas rumah sakit itu.


“Yang Mulia Alvero sedang ada keperluan yang tidak bisa ditunda. Jika ada sesuatu, Anda bisa memberitahukan kepadaku.” Deanda berkata dengan perasaan was-was, karena instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang buruk yang sudah terjadi.


“Oh, ya Yang Mulia permaisuri. Kami ingin meminta maaf sebelumnya. Baroness Eliana baru saja kami ketahui tidak lagi ada di kamar tempatnya di rawat….”


“A… apa?” Suara pekikan Deanda di telepon membuat Alea langsung berjalan mendekat ke arah Deanda.


“Maaf Yang Mulia Permaisuri Deanda. Kami juga baru saja mengetahuinya, setelah salah seorang perawat kami tidak kembali ke posnya cukup lama setelah mendapatkan panggilan dari alarm yang ada di kamar baroness Eliana. Ternyata setelah kami melakukan pengecekan. Perawat kami berada dalam kamar mandi dengan kondisi terikat dan mulut tersekap kain, dengan pakaian kerjanya hilang. Dimungkinkan sengaja diambil oleh baroness Eliana, dan digunakan untuk melakukan penyamaran, sehingga beliau bisa melarikan diri dari rumah sakit.” Mendengar penjelasan dari pihak rumah sakit, Deanda hanya bisa menarik nafas dalam-dalam, dan salah satu tangannya memegang keningnya, karena kepalanya yang tiba-tiba merasa pening.


“Kalau begitu, dalam waktu sesingkat mungkin, aku minta dikirimkan rekaman cctv milik rumah sakit, untuk membuktikan bahwa baroness Eliana memang sudah pergi meninggalkan rumah sakit, atau masih berada di sana. Semua rekaman yang memuat keberadaannya, termasuk cctv yang ada di luar ruangan.” Deanda segera memberikan perintah kepada pihak rumah sakit untuk segera melakukan pelacakan Eliana melalui rekaman cctv.


Para pengawal yang seharusnya menjaga Eliana dengan baik selama dirawat di rumah sakit, mencegah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan itu tampak gelisah sambil menunggu petugas rumah sakit menghubungi Deanda.


“Beritahukan saja kepada mereka untuk kembali ke istana sekarang juga. Aku ingin bertemu dengan mereka untuk mencari info tentang kaburnya baroness Eliana.” Deanda langsung menjawab pertanyaan dari pertugas rumah sakit itu dengan cepat.


“Baik Permaisuri. Akan segera kami kerjakan semua eprintah dari Permaisuri.”


“Baik kalau begitu. Selamat malam.” Deanda mengakhiri panggilan teleponnya, lalu dengna bergegas bejalan kea rah sofa yang ada di kamarnya, dan duduk dengan sikap terlihat tidak nyaman.

__ADS_1


Alea yang sedari tadi mengamati pembicaraan yang dilakukan Deanda segera menyusul Deanda, dan berdiri tepat di sampingnya.


“Deanda….”


“Baroness Eliana berhasil melarikan diri dari rumah sakit.” Deanda langsung berkata sambil memijat keningnya yang semakin terasa pusing setelah dia mengakhiri panggilan teleponnya dengan petugas rumah sakit itu.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?”


“Aku tidak tahu. Tapi sejak yang mulia Alvero pergi meninggalkan istana, dia belum menghubungiku sama sekali. Berita larinya baroness Eliana harus segera kita sampaikan kepada yang mulia sebelum terlambat.” Alea hanya bisa menarik nafas panjang mendengar perkataan Deanda.


“Alea!”


Teriakan dari Deanda yang tiba-tiba terdengar sambil menyebutkan namanya membuat Alea yang sedang ikut berpikir apa yang harus dilakukan sedikit tersentak kaget.


“Ke… kenapa berteriak Deanda?”


Tanpa menjawab pertanyaan dari Alea, dengan cepat Deanda bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah walk in closet yang ada di kamarnya, membuat mau tidak mau Alea berjalan mengikuti di belakangnya.


“Aku akan berganti pakaian. Sebaiknya kamu juga bersiap. Kita akan segera berangkat ke bunker Tavisha menyusul yang mulia Alvero.” Mendengar perkataan Deanda, mata Alea membulat sempurna.


“Deanda! Jangan lakukan itu!” Alea menarik tangan Deanda, membuat Deanda yang baru saja mengulurkan tangannya untuk mengambil pakaian gantinya langsung menghentikan tindakannya dan menoleh ke arah Alea.

__ADS_1


“Kenapa Alea?”


“Apanya yang kenapa? Yang mulia Alvero sudah memberikan perintah tegas padaku untuk tidak membiarkanmu meninggalkan istana, apapun yang terjadi.” Alea langsung menjawab pertanyaan Deanda sebelumnya dengan wajah terlihat tegang.


__ADS_2