
Mendengar perkataan Alvero, baik Vincent maupun Deanda langsung tersenyum. Vincent dengan senyuman bahagia karena perkataan Alvero membuatnya berharap bisa mendapatkan cucu secepatnya. Sedang Deanda, dengan senyum malu-malu dan wajahnya yang memerah karena perkataan Alvero yang menyebutkan tentang keinginan Alvero akan anak-anak yang akan dia lahirkan untuk Alvero.
"Aku akan menantikan saat itu tiba dengan tidak sabar. cucu-cucu hebat milikku." Vincent menanggapi perkataan Alvero dengan nada tedengar senang.
"Sudah terlalu lama kami mengganggu Papa. Sebaiknya Papa kembali beristirahat. Ada beberapa hal yang perlu kami kerjakan hari ini. Aku berencana memamerkan keindahan kota Renhill kpeada Deanda." Alvero sengaja tidak mengatakan bahwa hari ini dia, Deanda dan Erich akan disibukkan dengan urusan kekasih Melva, agar tidak membuat Vincent merasa khawatir.
"Kalau begitu... panggilkan Erich atau pengawal lain untuk membantuku kembali ke tempat tidur." Vincent berkata sambil tangannya mulai menggerakkan kursi rodanya ke dekat tempat tidurnya.
"Biar aku yang membantumu Pa." Dengan sigap, Alvero mendekati kursi roda Vincent.
Mendengar perkataan Alvero, Vincent sedikit tersentak, tapi sebentar kemudian dia tersenyum tanpa mengucapkan penolakan terhadap penawaran Alvero untuk membantunya.
Begitu Vincent dan kursi rodanya berada di pinggiran tempat tidurnya, Alvero mengulurkan kedua lengannya ke arah Vincent, satu lengan menopang punggung Vincent, satu lengan menelusup di bagian belakang paha Vincent. Dengan perlahan Vincent melingkarkan salah satu lengannya ke leher Alvero yang sudah siap untuk mengangkatnya.
__ADS_1
Di sisi lain, Deanda dengan gerakan cepat langsung mengambil bantal dari atas tempat tidur, menyandarkannya di sandaran tempat tidur, untuk menahan punggung Vincent yang tubuhnya sudah diangkat oleh Alvero, untuk diletakkan di atas tempat tidur, dengan posisi duduk bersandar.
Saat Vincent sudah berada di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur, Alvero segera menarik pelan kaki Vincent agar bisa berselonjor di atas kasur.
"Eh..." Sebuah suara dengan nada sedikit tinggi tiba-tiba saja terlontar keluar dari bibir Alvero, membuat Vincent, maupun Deanda langsung menoleh ke arah Alvero yang terlihat sedang menyungingkan senyum senang di wajahnya.
"Pa.... barusan, ujung-ujung jari Papa bergerak. Sepertinya, kondisi kaki Papa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya?" Mendengar pertanyaan Alvero, Vincent langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Alvero tenatnag kondisi kakinya.
"Sejak aku mencurigai Eliana memberikan obat yang tidak benar kepadaku, beberapa lama ini aku sengaja tidak meminum satupun obat yang dia berikan padaku. Tanpa dia ketahui obat-obat itu aku sembunyikan di kantong pakaianku, dan selalu aku buang ke dalam kloset begitu Eliana keluar dari kamarku. Dan langsung aku guyur dengan air sebanyak-banyaknya agar tidak meninggalkan bekas sedikitpun yang bisa menarik kecurigaan Eliana." Vincent berkata sambil menyentuh lututnya dengan tangan kanannya dan memijatnya pelan.
"Lalu, apakah Papa masih punya sisa obat yang diberikan Eliana? Berikan padaku agar dokter pribadi Ornado mengeceknya untukku. Aku ingin tahu obat seperti apa yang sudah diberikan Eliana kepada Papa." Mendengar permintaan dari Alvero, Vincent langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
"Maaf, aku sudah membuangnya semua. Aku tidak ingin Eliana mulai curiga aku tidak meminum lagi obat-obatan yang diberikannya untukku." Vincent berkata sambil menarik nafas panjang, membuat Alvero menggerakkan tangannya, menyentuh kaki papanya dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Pa. Sebenarnya, dokter dari Italia itu sudah curiga ada sesuatu yang tidak beres dengan obat-obatan yang selama ini Papa konsumsi. Hanya saja, tadi sempat terbersit di otakku, jika bisa menemukan sample dari obat itu akan lebih mudah untuk mengetahui jenis dan kandungan dari obat itu, daripada melakukan pengecekan kandungan obat dengan mengambil sample darah Papa." Alvero mengucapkan perkataannya dengan senyum di wajahnya, dan tangannya memijat pelan kaki Vincent yang sedang berselonjor.
"Emmm, sebaiknya kami memberikan waktu untuk Papa beristirahat. Jangan lupa untuk makan siang. 2-3 hari ke depan, aku akan menemani Papa di sini. Jangan lupa untuk menjaga rahasia ini dari Eliana dan yang lain." Alvero berkata sambil bangkit dari duduknya dengan senyum di bibirnya yang disambut oleh sebuah senyum geli dari bibir Vincent.
"Percayalah, orang tua ini bisa menyimpan rahasia kalian berdua dengan sebaik mungkin." Vincent membalas perkataan Alvero yang langsung tertawa geli.
"Papa tidak boleh merasa menjadi orangtua. Papa bahkan belum memiliki cucu, belum bisa menyandang gelar kakek. Mana bisa dianggap tua. Maka dari itu dengar dengar baik-baik perkataan Papa, Deanda. Segera berikan kabar tentang kehadiran cucunya, agar Papa semakin bersemangat dan berumur panjang. Apa mungkin kita berdua masih kurang berusaha ya? Sehingga belum ada kabar tentang itu?" Mendengar godaan dari Alvero, wajah Deanda langsung memerah tanpa ampun, dan di depan mertuanya, tentu saja Deanda tidak akan berani membalas kata-kata Alvero yang betul-betul membuatnya mati kutu.
"Alvero, jangan selalu menggoda istrimu. Apa kamu tidak kasihan melihatnya terdiam seribu bahasa seperti itu?" Vincent berkata sambil melirik ke arah Deanda yang wajahnya masih memerah dengan wajah sedikit menoleh ke samping untuk menghindari tatapan dari Alvero maupun Vincent.
"Tenanglah nak. Alvero bukan laki-laki bermulut manis yang terbiasa menggoda wanita. Dari cara dia berkata-kata padamu dan menggodamu, menunjukkan dia begitu perduli dan mencintaimu. Jika dia membuat ulah dan membuatmu kesal, cukup biarkan dia tidur di luar kamar dan tidak menemuinya selama tiga empat hari, agar dia merenungi kesalahannya." Alvero langsung melotot mendengar perkataan Vincent yang diucapkannya sambil memandang ke arah menantunya dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
Dengan sikap kaget, Alvero yang melotot segera mengarahkan pandangan matanya ke arah Deanda. Bagaimana bisa ayahnya memberikan ide hukuman yang akan benar-benar menyiksanya. Jangankan berpisah dari Deanda selama tiga empat hari, tidak melihat sosok Deanda dalam waktu kurang dari setengah hari saja, dengan kondisinya sekarang, setelah Alvero merasakan bagaimana indahnya kehidupan pernikahannya dengan Deanda, Alvero yakin hukuman itu akan mampu membuatnya menjadi orang yang uring-uringan dan tidak bisa fokus pada apa yang dikerjakannya.
__ADS_1