BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENCINTAIMU APA ADANYA DIRIMU


__ADS_3

“Ah… sebenarnya bukan cuma itu yang sedang aku pikirkan.” Deanda berkata dengan matanya sedikit menatap ke atas langit-langit kamar, menunjukkan dia sedang memikirkan sesuatu.


“O, ya? Apa ada sesuatu yang lain yang sedang mengganggu pikiranmu sweety? Katakan padaku… apa yang membuatmu seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang berat. Apa karena kamu tidak bisa menikmati pesta kembang api malam ini?” Mendengar candaan Alvero di akhir perkataannya membuat Deanda sedikit tersenyum geli.


Alvero, sosok pria yang begitu dicintainya itu, belum lama mereka bertemu sampai akhirnya mereka menikah. Namun, laki-laki itu sudah seperti seorang teman baik baginya. Seperti seseorang yang sudah begitu lama mengenalnya, selalu berhasil membuatnya suasana hatinya terhibur dengan godaannya, di saat dia sedang membutuhkan hiburan, seperti saat ini. Walaupun sebenarnya, yang baru saja mengganggu pikirannya bukan hanya tentang Alexis, tapi tentang kekasih Melva.


“Yang benar saja. Hanya sebuah pertunjukan kembang api, kenapa bisa membuatku harus berpikir begitu keras dan merasa tidak tenang?” Deanda mengucapkan kata-katanya dengan senyum geli di wajahnya.


"Lagipula, jika aku menginginkannya, bukannya suamiku yang seorang raja Gracetian lebih dari mampu untuk sekedar mengadakan pesta kembang api untukku? Benarkan Yang Mulia Alvero?” Deanda melanjutkan bicaranya dengan menekankan kata-kata "yang mulia Alvero" di akhir kalimatnya.


Deanda yang berkata sambil memandang ke arah Alvero dengan tatapan mata terlihat manja, berhasil membuat Alvero langsung tertawa tergelak.


“Apapun demi permaisuriku. Jangankan hanya pesta kembang api. Kalaupun kamu meminta setengah dari kerajaan juga akan aku berikan.” Kali ini Deanda yang langsung tertawa tergelak mendengar penawaran Alvero.


“Tidak perlu repot-repot memberikan setengah dari kerajaan Gracetian untukku. Aku tidak memiliki bakat sama sekali dalam mengatur kerajaan. Lebih baik aku menyerahkannya kepada orang yang lebih mumpuni, Yang Mulia Raja Alvero Adalvino. Aku yakin beliau jauh lebih mampu memimpin kerajaan ini dengan baik. Aku cukup menjadi orang yang duduk manis di sampingnya dan…” Belum selesai Deanda menyelesaikan kata-katanya, Alvero langsung meraih kepala Deanda dan menyandarkannya di dada bidangnya, dengan hidung mancungnya sibuk menciumi puncak kepala Deanda dengan hangat.


“Itu lebih dari cukup untukku. Tetaplah di sampingku dan aku akan melakukan banyak hal hebat untukmu dan rakyat kita.” Alvero berbisik lirih dengan tangannya bergerak mengelus-elus lengan bagian atas Deanda.

__ADS_1


“Sekarang, katakan padaku, selain masalah papa Alexis, apa yang sedang mengganggu pikiranmu? Sebisa mungkin aku akan berusaha membantumu.” Mendengar pertanyaan dari Alvero, dengan kepala tetap bersandar di dada suaminya, Deanda mendongakkan kepalanya ke atas, memandang wajah Alvero yang menunduk ke arahnya.


“Aku tahu kamu dan yang lain sedang sibuk menyelesaikan kasus papa Alexis dan mencari bukti-bukti kejahatan dari ibu suri Eliana. Tapi, bisakah kamu membantuku melakukan sesuatu untukku? Eh, sebenarnya bukan untukku. Lebih tepatnya untuk pangeran Enzo.” Alvero langsung menaikkan salah satu alisnya begitu mendengar permohonan Deanda yang dikatakan oleh Deanda untuk Enzo.


“Apa yang kamu inginkan untuk aku lakukan?” Mendengar pertanyaan balik dari Alvero yang menunjukkan tanda-tanda Alvero bersedia membantunya, Deanda langsung tersenyum dengan wajah terlihat senang.


“Ehm…. Tadi aku sempat berbincang dengan countess Melva, termasuk bagaimana sosok kekasihnya menurut pandangan countess Melva, dan alasan kenapa dia jatuh cinta dengan kekasihnya....”


“Wah…. Sampai sejauh itu pembicaraan kalian? Memang kalian para wanita lebih cepat jika harus mengorek informasi dibanding kami para pria. Pantas saja pria yang suka bergosip sering dikatakan sebagai pria bermulut seperti wanita.” Perkataan Alvero membuat Deanda sedikit malu, ditunjukkan dengan semburat merah di pipinya.


“Eh, kenapa kamu terdiam? Lanjutkan ceritamu.” Alvero langsung meminta Deanda melanjutkan ceritanya karena dilihatnya Deanda yang tiba-tiba saja terdiam.


Dan kata-kata Alvero sukses membuat Deanda menyungingkan sebuah senyum lega, lalu menahan nafasnya sebentar sebelum kembali berbicara.


“Aku tidak tahu apakah pangeran Enzo mengetahui tentang hal ini atau tidak. Tapi Melva adalah orang yang menyebabkan kecelakaan sehingga ibu dari kekasihnya itu lumpuh. Entah itu hanya pikiranku atau memang begitu kenyataannya. Tapi, aku merasa Melva menjadi kekasih laki-laki itu hanya karena rasa bersalah dan rasa tanggung jawab. Terlepas dari pangeran Enzo yang menyukai countess Melva, aku hanya tidak ingin countess Melva salah jalan, dan jatuh cinta kepada kekasihnya karena rasa tanggung jawab, apalagi karena rasa kasihan. Cinta yang didasari bukan oleh rasa cinta yang tulus, tidak akan bisa bertahan lama.” Deanda mengucapkan kata-katanya dengan suara terdengar sedikit ragu, karena dia sadar apa yang sedang dia pikirkan tentang Melva dan kekasihnya belum tentu benar, masih permikirannya saja.


“Oh… begitu ya? Apa peristiwa kecelakaan itu adalah waktu pertama kalinya mereka bertemu?” Alvero bertanya dengan tatapan matanya yang sedang memandang wajah istrinya terlihat berubah menjadi serius saat membicarakan tentang hubungan Melva dan kekasihnya.

__ADS_1


“Benar, seperti itu….”


“Itu cerita tentang Melva dan kekasihnya ya? Kalau permaisuriku…. Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?” Mata Deanda sedikit terbeliak mendengar pertanyaan dari Alvero yang tidak disangka-sangkanya.


“Aku….? Karena…. Ah, kita sedang membicarakan countess Melva, kenapa sekarang jadi aku yang kamu interogasi?” Deanda berkata sambil mengubah posisinya dari duduk bersila menjadi duduk berselonjor dan semakin membenamkan kepalanya di dada Alvero sehingga Alvero tidak lagi bisa melihat wajah cantiknya yang sekarang terlihat salah tingkah akibat pertanyaannya barusan.


“Ayolah sweety, jawab pertanyaanku. Aku juga begitu penasaran tentang jawabannya. Walaupun aku tahu, sulit bagi seorang wanita untuk tidak jatuh cinta padaku dan menolak pesonaku.” Alvero berkata dengan nada penuh percaya diri.


Narsis! Betul-betul narsis! Wah, suamiku benar-benar terlalu percaya diri. Tapi apa mau dikata, yang mulia memang merupakan sosok yang selain sangat tampan, dia juga sangat kaya raya, juga… begitu menawan dan mengagumkan, dengan kemampuan hebatnya dalam memimpin sebuah kerajaan dan juga menjadi seorang pengusaha sukses. Jika ada pemilihan tentang 10 pria tertampan di dunia, bisa jadi dia masuk di dalam tiga besar.


Deanda berkata dalam hati sambil menahan senyum gelinya, sekaligus senyum bangga, karena laki-laki itu sudah menjadi miliknya sekarang..


“Ayolah sweety… ayo jawab pertanyaanku… apa yang sudah membuatmu jatuh cinta padaku?” Dengan sikap seperti anak kecil yang sedang merayu orangtuanya karena menginginkan sesuatu, Alvero berkata sambil meraih dagu Deanda, memaksa agar Deanda menatap ke arahnya yang sedang menanti jawaban Deanda dengan tidak sabar.


“Aku tidak tahu my Al. Yang pasti, entah kamu adalah raja Gracetian atau rakyat biasa, selama itu kamu… aku tetap dan akan selalu mencintaimu. Jika ditanya kenapa aku mencintaimu? Tanyakan saja kepada Tuhan kenapa membuatku jatuh cinta kepadamu. Yang pasti, semua yang ada padamu, sungguh membuatku terpesona dan terkagum-kagum, juga begitu mencintaimu. Entah sifat arogan, sikap dinginmu, keras kepalamu, pencemburu, sifat over protektif dan posesifmu, bahkan emosimu yang mudah terpancing, perhatianmu, wibawamu, kebijaksaanmu, juga kebaikan hatimu, semuanya membuat aku begitu mencintaimu. Tidak perduli apapun, entah kelebihan atau kekuranganmu, aku mencintaimu apa adanya dirimu.” Jawaban dari Deanda yang diucapkan dengan suara pelan namun tidak terdengar adanya keraguan di saat dia mengucapkan semuanya itu, membuat Alvero tersenyum dengan perasaan begitu bangga dan bahagia.


"Terimakasih sweety… Kamu memang wanitaku yang begitu luar biasa. Terimakasih sudah mencintaiku apa

__ADS_1


adanya." Alvero berbisik lirih sambil mempererat dekapannya ke tubuh Deanda dan menghujani wajah Deanda yang menengadah ke arahnya, dengan kecupan-kecupan yang cukup membuat Deanda meringis karena merasa geli, akibat tanpa henti-hentinya Alvero menciumi seluruh permukaan wajahnya tanpa jeda sedikitpun.


__ADS_2