BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
PERTEMUAN LARENA DAN VINCENT


__ADS_3

Setelah sekian lama berpisah, ternyata aku masih saja terpesona melihat sosokmu dan masih saja begitu merindukanmu.


Larena  melenguh dalam hati begitu sadar bahwa baginya masih begitu sulit, untuk melepas perasaan cintanya kepada Vincent.


"Ma, Mama lihat bagaimana Alaya sangat menyayangi papa Vincent, Begitupun dengan papa Vincent yang sekarang terlihat jauh lebih ceria dan sehat sejak kehadiran Alaya di dekatnya. Jika Mama kembali kepada papa Vincent, Alaya dan yang mulia Alvero pasti akan hidup jauh lebih bahagia. Kebahagiaan mereka akan semakin sempurna dengan kembalinya Mama di tengah-tengah mereka." Deanda yang berdiri bersama Larena, tidak jauh dari tempat Vincent berada, berkata sambil melirik ke arah Larena yang sedang mengamati apa yang sedang terjadi di depannya, antara Vincent dan Alaya.


Dari cara Larena memandang dan mengamati sosok Vincent maupun Alaya, terutama sosok Vincent, Deanda bisa merasakan dengan jelas bahwa Larena sebenarnya sungguh merindukan sosok laki-laki yang saat ini sedang menikmati waktu pertemuannya dengan anak gadisnya yang sudah puluhan tahun terpisah darinya.


Aku ikut senang melihat keakraban mereka berdua. Untungnya Alaya bisa menerima kondisi dan masa lalu papanya dan Vincent terlihat begitu menyayangi Alaya walaupun mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


Larena berkata dalam hati dan tanpa sadar sebuah senyum tipis terlihat samar-sama tersungging di bibirnya.


Bagaimanapun sebagai seorang ibu, dia tahu Alaya berhak mendapatkan kasih sayang dari papanya. Dan dia tidak berniat untuk menghalangi hal itu.


Interaksi antara Vincent dan Alaya membuat Larena bisa melihat bagaimana kedua orang itu terlihat saling menyayangi dan keberadaan mereka satu dengan yang lain membawa kebahagiaan yang terlihat jelas melalui ekspresi mereka.


Indahnya pemandangan yang terlihat antara Alaya dan Vincent, menimbulkan sebuah getarah halus di hati Larena. Sebagai bukti baginya bahwa dalam dasar hatinya yang paling dalam, dia masih selalu mencintai Vincent, dan selain Vincent, tidak ada laki-laki lain yang bisa membuat hatinya bergetar hebat seperti saat ini.

__ADS_1


Deanda sengaja membiarkan permintaan Larena yang ingin melihat Vincent dari jauh sebelum dia menemui pria itu. Karena itu, Deanda sengaja mengajak Larena berdiri di balik sebuah pohon yang cukup besar untuk membuat Vincent tidak menyadari kehadiran mereka berdua di dekatnya.


"Dengan kejahatan dan kelicikan yang sudah dilakukan oleh ibu suri Eliana, bahkan sekarang yang mulia Alvero sedang mencari bukti bahwa malam itu ibu suri Eliana sengaja menjebak papa Vincent." Deanda mulai berani menceritakan tentang kondisi Vincent selama ini begitu Deanda melihat bagaimana cara Larena yang menatap ke arah Vincent dengan tatapan yang menunjukkan bahwa sebenarnya ibu mertuanya itu begitu merindukan laki-laki yang sudah berumur setengah baya, tapi masih tetap terlihat tampan dan mempesona itu.


"Apa Mama tahu, bagiku, papa Vincent yang begitu mencintai Mama adalah laki-laki yang setia. Terlepas kesalahan yang pernah terjadi malam itu bersama ibu suri Eliana. Tahukah Mama, bahwa sejak mereka hidup bersama di istana, tidak pernah sekalipun papa menyentuh ibu suri Eliana, karena papa merasa itu adalah hukuman baginya yang sudah berani mengkhianati Mama." Mendengar perkataan Deanda, reflek Larena langsung memalingkan wajahnya ke arah Deanda, dan menatap Deanda dengan pandangan mata tidak percaya sekaligus bertanya-tanya atas pernyataan Deanda barusan.


"Itu benar Ma. Bahkan aku dan yang mulia Alvero tidak menyangka bahwa papa akan menahan semuanya untuk membuktikan bahwa satu-satunya wanita dalam hidupnya, dan begitu dicintainya hanyalah Mama Larena. Papa benar-benar menyesal sudah melakukan sesuatu yang sudah begitu menyakitkan bagi Mama. Jika waktu bisa terulang, papa Vincent pasti memilih untuk tidak menghadiri pesta malam itu, yang membuat ibu suri Eliana memiliki kesempatan untuk menjebaknya." Kata-kata Deanda membuat Larena menggigit bibir bawahnya yang bergetar, dengan matanya yang mulai terlihat memerah.


Vincent? Benarkah sebesar itu cintamu padaku? Apa benar, malam itu kamu memang tidak bermaksud mengkhianatiku? Apa kamu melakukan semua itu tanpa sadar karena ada yang sengaja membuatmu mabuk? Aku tahu toleransimu terhadap alkohol cukup tinggi, tidak akan mudah membuatmu mabuk. Apa benar, kamu sudah dijebak malam itu?


Larena berkata dalam hati sambil matanya yang berkaca-kaca memandang kembali ke arah Vincent yang tampak sedang bercanda dengan Alaya.


Tanpa bisa ditahan lagi olehnya, tangis Larena langsung pecah, membuat Deanda sedikit kaget, karena tidak menyangka bahwa Larena akan menangis sekeras itu.


Suara tangisan Larena, dan juga gerakan kaki Larena yang membuatnya menginjak ranting, tanpa sadar membuat Vincent langsung menoleh ke arah sumber suara.


“La… Larena… apa itu kamu?” Begitu Vincent melihat ke arah dua wanita yang sedang ada di balik pohon besar, Vincent langsung mengeluarkan kata-katanya sambil memegang kendali kursi rodanya, berusaha menggerakkan kursi roda itu untuk mendekat ke pohon itu secepat mungkin.

__ADS_1


Dengan sikap bingung dengan apa yang terjadi, Alaya dan Enzo saling berpandangan dan langsung bangkit dari duduknya dan mengikuti Vincent yang sudah mengarahkan kursi rodanya untuk mendekat ke arah pohon besar itu.


Begitu melihat Vincent mengarahkan kursi roda ke arahnya, dengan cepat Larena membalikkan tubuhnya agar Vincent tidak bisa melihat wajahnya.


“Larena… benar itu kamu kan? Larena….” Mendengar panggilan dari Vincent, Larena justru berusaha bergegas untuk segera pergi.


“Larena! Aku mohon! Maafkan aku! Ampuni aku! Larena!” Melihat Larena berniat menjauh darinya, Vincent langsung berteriak sekeras-kerasnya sambil menangis.


Larena bermaksud untuk tetap pergi menjauh, sampai di dengarnya sebuah suara benda terjatuh. Mendengar suara itu reflek Larena membalikkan tubuhnya karena tiba-tiba ada rasa khawatir dalam dirinya terhadap keselamatan Vincent.


Mata Larena membulat sempurna melihat bagaimana Vincent terjatuh dari kursi rodanya ketika berusaha meraih lengan Larena yang berniat meninggalkannya. Bahkan kursi roda itu tampak terguling di belakang tubuh Vincent yang jatuh terduduk.


“Larena… kumohon, beri aku kesempatan untuk berbicara….” Vincent berkata sambil mendongak ke arah Larena dengan tatapan mata terlihat begitu sayu dan sedih, seperti seekor binatang ternak yang sedang digiring ke tempat penyembelihan hewan.


“Maaf Yang Mulia, aku harus pergi sekarang.” Tanpa menanggapi permohonan Vincent, Larena kembali membalikkan tubuhnya dan berencana untuk segera meninggalkan tempat itu jika tidak ingin dia semakin tidak bisa mengontrol emosinya.


Larena sudah berniat pergi menjauh ketika dirasakannya tangan dari Vincent dengan cepat memegang tangannya, dan menggenggamnya dengan erat. Mendapatkan sentuhan fisik dari Vincent membuat jantung Larena berdetak keras dengan tubuhnya seperti dialiri aliran listrik yang menyebabkan tubuhnya terasa sedikit lemas.

__ADS_1


Deanda, Enzo dan Alaya kembali terbeliak kaget melihat bagaimana Vincent yang tadinya terjatuh dari kursi roda berusaha keras bangkit dan berdiri dengan susah payah agar bisa meraih tangan Larena sebelum wanita yang begitu dicintainya itu kembali pergi meninggalkannya.


__ADS_2