BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
MENCOBA MENGENAL SOSOK ALAYA


__ADS_3

"Deanda... Deanda.... Deanda!" Deanda yang sedang melamun, sedikit tersentak kaget begitu Abella memanggil namanya berulang-ulang, dan berakhir dengan sebuah panggilan dengan nada sedikit keras, sebuah panggilan yang hanya berani dilakukan oleh Abella jika tidak ada Alvero di dekat mereka, dan dalam suasana santai seperti siang ini.


"Ah, ya... kenapa Abella?" Deanda langsung menjawab panggilan Abella, membuat Abella langsung tertawa kecil, berpikir bahwa Deanda barusan sedang melamunkan Alvero.


"Waaaa... so sweet, so romantic. Yang mulia dan kamu benar-benar pasangan fenomenal Gracetian yang selalu terlihat manis dan mesra, seperti yang diberitakan oleh media beberapa waktu ini. Sudah hampir dua bulan sejak pernikahan kalian, dan berita tentang kalian belum juga memudar." Abella berkata sambil mencolek tangan Deanda yang ada di hadapannya dan kedua tangannya sedang berada di atas meja.


Deanda hanya bisa tersenyum mendapat godaan dari Abella yang ditambah dengan tatapan geli dari Clare.


"Kamu ini ada-ada saja." Deanda menjawab singkat godaan Abella dan matanya langsung beralih ke arah Alaya yang sedang mengamati candaan mereka dengan wajah serius.


"Ehmmm. Alaya, duduklah di samping Abella. Kita sudah bertemu beberapa kali, tapi sepertinya kita belum pernah mengobrol secara pribadi dan santai seperti hari ini." Mendengar permintaan dari Deanda agar dia duduk di samping Abella, membuat Alaya sedikit tersentak kaget dan wajahnya terlihat sedikit canggung.


"Ayo Alaya, permaisuri memanggilmu..." Clare yang duduk di samping Alaya segera menarik lengan atas Alaya, agar Alaya segera bangkit berdiri dan berpindah tempat duduk seperti yang diminta oleh Deanda.


"Ba... baik permaisuri." Dengan sikap canggung, dan gerakan sedikit ragu, Alaya akhirnya bangkit dari duduknya dan mengambil posisi duduk di samping Abella, yang artinya duduk tepat berhadap-hadapan dengan Deanda.


Melihat sikap canggung dari Alaya, Deanda mencoba memberikan senyum ramahnya, agar gadis itu tidak merasa terintimidasi, dan bisa berbincang nyaman dengannya.

__ADS_1


"Abella dan yang lain sekarang cukup dekat denganmu. Senang bisa bertemu kamu kembali bersama yang lain sebagai teman. Teman Abella berarti temanku juga, jadi aku harap kita berdua bisa berteman dengan baik." Senyuman dan sapaan ramah dari Deanda membuat Alaya langsung tersenyum


"Merupakan suatu penghormatan bagi saya untuk bisa bertemu dan berbincang bahkan makan siang bersama dengan Anda, Permaisuri Deanda." Alaya berkata sambil matanya menatap lurus ke arah Deanda.


Dari tatapan mata Alaya yang terlihat jernih dan cantik itu, menunjukkan bahwa gadis itu sedang menatap Deanda dengan tatapan kagum. Entah itu hanya perasaan Deanda atau memang begitu kenyataannya. Yang pasti, Deanda berharap, Alaya bukanlah seorang musuh dalam selimut bagi kerajaan Gracetian, mengingat info yang diketahui oleh Deanda, bahwa Alaya menghabiskan sebagian besar hidupnya di luar negeri, bukan di Gracetian.


Bagaimana menurutmu selama beberapa waktu ini bekerja di perusahaan ini? Apa kamu betah bekerja di sini?" Deanda segera menyapa Alaya dengan sikap ramah, berusaha menunjukkan bahwa dia cukup menerima kehadiran Alaya di tengah-atengah acara makan siang mereka walaupun sebenarnya Deanda secara pribadi belum terlalu mengenal tentang siapa Alaya.


"Saya suka sekali Permaisuri. Orang-orang yang bekerja satu tim dengan saya, semuanya merupakan para senior yang baik dan selalu dengan ringan tangan membantu saya. Di samping itu, keberadaan yang mulia Alvero dan permaisuri yang selalu perduli dengan yang terjadi di perusahaan ini sebagai pemimpin, juga membuat saya semakian betah. Anda berdua merupakan inspirasi bagi saya." Jawaban Alaya yang diucapkan dengan tersipu malu saat menyebutkan nama Alvero dan dia sendiri cukup membuat Deanda tersenyum.


Sepertinya Alaya gadis yang baik, semoga saja penilaianku tidak salah.


Di bagian tengah liontin itu terukir huruf A dengan tipe tulisan klasik yang indah, dimana tulisan itu huruf A itu jika diamati terpasang berlian berukuran kecil-kecil yang menyebabkan timbulnya semburat pantulan sinar dengan berbagai warna begitu terkena sinar.


Cantik sekali liontin itu, seperti pemakainya yang juga merupakan seorang gadis yang cantik. Inisial huruf A? Menunjukkan nama Alaya atau memiliki arti yang lain ya? Kenapa yang mulia juga penasaran dengan keberadaan liontin itu? Apa liontin itu memiliki arti penting bagi yang mulia?


Melihat liontin itu, Deanda mulai bertanya-tanya dalam hati dengan otaknya yang sudah berpikir kesana kemari, mencoba mencari penjelasan tentang liontin itu. Mencoba menebak arti penting dari liontin itu bagi  Alvero.

__ADS_1


"Yang Mulia Permaisuri? Apa ada yang salah dengan pakaian saya?" Mau tidak mau, mata Deanda yang terlalu fokus pada liontin yang tergantung di leher Alaya membuat Alaya langsung tahu bahwa Deanda sedang mengamatinya.


Pandangan mata Deanda yang tampak ramah, namun sekilas terlihat begitu menyelidik, membuat Alaya merasa merasa canggung dan tidak nyaman.


"Ah, maaf. Aku sedang mengagumi keindahan liontin yang sedang kamu kenakan saat ini." Deanda mencoba menjawab pertanyaan Alaya dengan tenang sambil menunjuk ke arah liontin yang dikenakan oleh Alaya, membuat Abella dan Clare langsung menoleh bersamaan ke arah leher Alaya untuk ikut mengamati liontin yang dikenakan oleh Alaya.


"Oh." Alaya langsung tersenyum mendengar pujian Deanda tentang liontinnya, tangannya dengan perlahan bergerak dan memegang liontin itu.


"Eh, Alaya, benar kata Deanda, liontinmu terlihat sangat indah, apalagi saat terkena sinar. Darimana kamu mendapatkan liontin itu? Dari kekasihmu kah? Ceritakan pada kami, peristiwa romantis saat liontin itu diserahkan oleh kekasihmu kepadamu." Abella yang ikut melihat ke arah liontin itu langsung berkomentar.


"Sejak kecil, aku sudah memakai liontin ini. Jadi... tentu saja liontin ini bukan dari kekasihku." Alaya menjawab pertanyaan Abella sambil tersenyum dengan wajah geli karena Abella sudah berpikir bahwa liontin itu dari seorang laki-laki yang menjadi kekasihnya.


"Apa itu artinya kamu sudah memiliki kekasih? Dan kekasihmu sudah memberikan benda selain liontin kepadamu? Apalagi yang sudah diberikan oleh kekasihmu" Dengan wajah terlihat begitu penasaran, Abella kembali mencerca Abella  dengan berbagai pertanyaan darinya.


"Ah, tidak... Eh... aku belum punya... belum punya seorang kekasih." Alaya langsung menjawab pertanyaan Abella dengan gugup, dan melirik ke arah Deanda yang hanya tersenyum melihat bagaimana Abella menggoda Alaya barusan.


"Wah, benarkah? Bagaimana Deanda? Apa kamu memiliki seorang kenalan atau teman pria yang masih single? Setelah masuk ke istana, seharusnya kamu memiliki kenalan poara pria single yang mungkin merupakan saudara jauh yang mulia. Sepertinya kita bisa mengenalkannya kepada Alaya." Abella kembali menggoda Alaya sampai sosok Cleosa yang baru kembali dari kamar mandi membuat Abella menghentikan godaannya kepada Alaya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2