
Kamu selalu berhasil membuatku terkagum-kagum pada kebaikan hatimu, dan membuatku semakin jatuh cinta padamu. Kamu benar-benar memiliki penguasaan diri yang baik.
Alvero berbisik dalam hati dengan matanya yang menatap ke arah Deanda dengan penuh cinta.
Setelah melihat senyum di bibir Deanda, hati Alvero semakin tenang, dan langsung menepuk tangan Deanda yang masih berada di dalam genggaman tangannya beberapa kali, setelah itu Alvero melepaskan tangan Deanda dan membiarkan wanita cantiknya itu untuk beristirahat di kamar, sementara dia dan yang lain melanjutkan pembicaraan mereka yang belum berakhir tadi.
# # # # # # #
Rasanya Deanda ingin sekali membiarkan dirinya tertidur, tapi setelah beberapa kali mencoba memejamkan matanya, bahkan dalam angan-angannya berusaha membayangkan dan menghitung jumlah domba yang melompati pagar masuk ke kandang. Saran yang biasa dikatakan orang dan dia lihat di cerita anak untuk membuat orang yang kesulitan tidur, akan tetapi tetap saja hal itu tidak berhasil membuatnya tertidur.
Deanda hanya bisa menarik nafas panjang mendapati dirinya hari ini begitu sulit untuk tertidur. Padahal biasanya cukup dengan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan bantal di kepalanya, tidak akan lebih dari 5 menit dia akan dengan mudah tertidur dengan lelap, sehingga seringkali Alvero mengolok-oloknya karena kebiasaannya itu.
Apalagi ya yang sedang dibicarakan oleh mereka, sehingga yang mulia Alvero begitu lama berada di sana dan belum kembali kemari.
Deanda berkata dalam hati sambil memandangi cincin pernikahan indah miliknya yang melingkar di jari manis tangan kanannya, membuat tanpa sadar tangan kiri Deanda mengelus perutnya dengan lembut sambil tersenyum.
Cincin yang selalu mengingatkannya akan statusnya sebagai istri Alvero sekaligus mengingatkannya tentang janji suci diantara mereka berdua yang telah diucapkannya saat menikah dulu.
__ADS_1
Apa kabar bayi kecilku? Mama baru tahu ternyata kamu sudah ada di sini hampir sebulan lamanya. Sungguh bahagia mendengar kehadiranmu di sini. Kamu adalah hadiah yang begitu indah dari Tuhan untuk kami berdua. Hadiah yang akan kami jaga dengan baik dan hati-hati. Tidak semua orang memiliki kesempatan sebesar kami untuk memiliki hadiah indah sepertimu. Karena itu aku begitu bersyukur sudah mendapatkan kepercayaan sebesar ini. Dan aku juga berharap agar wanita lain yang sedang menunggu kehadiran buah hati mereka, bisa mendapatkan kesempatan seperti kami hari ini.
Deanda berkata dalam hati, seolah sedang berbicara langsung dengan bayi dalam perutnya. Untuk beberapa lama karena tidak berhasil membuat dirinya sendiri tertidur, akhirnya Deanda memilih untuk mengobrol dengan bayi dalam perutnya dalam hati, sambil sesekali tersenyum dengan wajah terlihat begitu bahagia.
My sweet baby. I love you…. Mama akan mencurahkan sebanyak yang mama bisa, kasih sayang yang melimpah kepadamu agar kamu bisa tumbuh dengan baik dan bahagia sampai akhir hidupmu. Agar kamu tidak pernah merasakan menjadi orang yang ditinggalkan, tidak diinginkan ataupun terbuang, seperti yang pernah mama dan papamu alami.
Deanda kembali berkata dalam hati sampai dia menitikkan air matanya kembali, namun kali ini adalah airmata haru dan bahagia, bukan kesedihan.
Begitu asyiknya Deanda berkata-kata dalam hati dengan mata fokus menatap ke arah perutnya, seolah matanya bisa melihat keberadaan bayinya, sehingga Deanda tidak menyadari bahwa Alvero sudah sejak beberapa saat yang lalu sedang mengamatinya dari jauh.
Begitu selesai melakukan pembicaraan dengan Alexis dan Alaya, sekaligus Vincent dan Enzo, Alvero sengaja membiarkan mereka yang lain berbincang santai sedang dia sendiri memilih untuk melihat bagaimana kondisi Deanda di kamar.
“Apa kalian berdua sudah puas mengobrol berduanya?” Alvero berkata sambil tangannya ikut mengelus perut rata Deanda, membuat Deanda yang sedari tadi tidak menyadari kehadiran Alvero langsung tersentak kaget.
“Tega sekali kalian mengobrol berdua tanpa mengajakku.” Alvero berkata sambil tersenyum dan mengambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.
Mendengar godaan dari Alvero, Deanda langsung menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dari tidurnya, agar bisa duduk di tempat tidur sambil bersandar di sandaran tempat tidur, duduk di samping Alvero. Melihat itu, Alvero langsung menggerakkan tangannya untuk membantu menopang tubuh Deanda.
__ADS_1
Begitu Deanda sudah duduk bersandar, Alvero ikut menyandarkan punggungnya dengan kaki berselonjor di atas tempat tidur.
“Sayangnya, untuk saat ini hanya aku yang bisa berkomunikasi dengan bayi kecil kita. Di usainya saat ini, dia belum bisa mendengar suara dari papanya, dan kamu juga belum bisa merasakan gerakannya.” Mendengar perkataan Deanda yang terdengar memamerkan kedekatannya dengan bayi dalam kandungannya dengan wajah bangga sekaligus dengan sikap manja, membuat Alvero tertawa kecil dan mencubit pipi Deanda dengan gemas.
(Pada minggu ke 4 sampai minggu ke 5, terjadi pembentukan awal mata dan telinga bayi dalkam kandungan. Sekitar minggu ke 9, lekukan kecil di sisi kheer bayi mulai muncul lalu bertumbuh di dalam dan di luar. Pada akhirnya lekukan ini semakin berkembang dan membentuk daun telinga bayi. Pada bulan ke tiga usia bayi dalam kandungan, dia sudah mulai bisa mendengar suara-surara dari luar, termasuk suara dari ayah dan ibunya. Kemampuan bayi untuk mendengar suara dari luar semakin lama akan semakin berkembang dan semakin peka).
“Terserah apapun yang kamu katakan sweety, asal kamu senang saja.” Alvero berkata sambil mengedipkan salah satu matanya, membuat Deanda tertawa kecil melihat bagaimana mudahnya Alvero mengalah jika untuk dia.
“Selamat datang my baby, bertumbuhlah dengan kuat dan sehat, dan penuh dengan kasih sayang dari semua orang.” Alvero berkata sambil mengelus kembali perut istrinya, membuat Deanda tersenyum, setelah itu menarik nafas panjang.
Benar apa yang dikatakan oleh papamu. Hiduplah dengan penuh kasih sayang. Jangan sampai kamu mengalami seperti apa yang sudah kami berdua alami dengan kedua orangtua kami. Semoga kami berumur panjang, sehingga bisa mengawal hidupmu sampai kamu dewasa dan dipertemukan dengan belahan jiwamu. Dan jika diijinkan, kami berdua bisa menikmati masa tua kami dengan melihat cucu-cucu yang akan kamu berikan kepada kami.
Deanda berkata dalam hati dengan penuh harapan, sambil menghembuskan nafasnya dari sela-sela bibirnya.
Deanda tahu pikirannya mungkin terlalu jauh, sampai dia membayangkan tentang kehidupannya bersama cucu-cucunya kelak, sedangkan anak pertama mereka masih sebesar biji kacang dalam rahimnya. Tapi pengalaman pahit yang dialaminya dan juga dialami Alvero sungguh membuatnya berharap dia dan Alvero tidak lagi memberikan kenangan yang begitu pahit kepada anak-anak mereka kelak.
(Pada minggu keempat usia kehamilan, janin dalam perut ibu berukuran sebesar biji bayam atau biji kacang hijau, yaitu sekitar 2 milimeter).
__ADS_1
Cukuplah peristiwa pahit itu hanya dia dan Alvero yang mengalaminya, dan berhenti sampai di situ, Deanda sungguh berharap seperti itu. Tidak ingin adalagi korban rusaknya keluarga akibat adanya wanita sekejam dan selicik Eliana.