
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.
"Sebaiknya kita segera mandi dan sarapan, karena kita harus ke rumah uncle Marcello pagi ini." Deanda berkata sambil menggerakkan tubuhnya ke samping, melepaskan diri dari pelukan Alvero, lalu duduk di pinggiran tempat tidur sambil menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.
Aduh... walaupun bagian kewanitaanku sudah tidak lagi terasa nyeri, tapi rasanya pangkal pahaku pegal sekali. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku harus meminta yang mulia agar sementara waktu tidak meminta jatahnya.
Tanpa sepengetahuan Alvero, Deanda yang posisi duduknya di tepi tempat tidur membelakangi Alvero sedikit meringis menyadari bahwa tubuhnya, baik pinggang apalagi pangkal pahanya terasa pegal karena lamanya kegiatan panas yang mereka lakukan berulang kali semalam.
Apa yang mulia tidak merasa lelah dan pegal? Kenapa kelihatannya yang mulia baik-baik saja dan terlihat begitu santai? Apa yang mulia meminum obat kuat seperti yang sering ditawarkan di internet? Aist.... kalau ke depannya setiap hari yang mulia meminta jatahnya dan lebih dari sekali, bisa remuk semua badanku. Apalagi jika aku sudah mulai aktif kembali dengan latihan beladiriku.
Deanda berkata dalam hati sambil duduk termenung di pinggiran tempat tidur dengan tubuh terbalut selimut.
Tindakan Deanda yang duduk terdiam tanpa bergerak selama beberapa saat membuat Alvero tersenyum tipis sambil bergerak bangun dari tidurnya. Begitu Alvero menggerakkan kakinya untuk turun dari tempat tidur, Alvero sedikit tersentak menyadari ada sesuatu yang terjadi pada lututnya.
Eh, apakah yang dikatakan Enzo memang benar? Terlalu banyak melakukan hal itu bisa membuat lututku terasa sedikit aneh?
Alvero berkata dalam hati sambil tangannya memegang area lututnya. Bukan rasa nyeri yang dialaminya, hanya merasa sedikit aneh, seolah-olah ada sesuatu yang sudah ditarik dari lututnya.
Isttt, menurut info itu hanya mitos, tidak ada hubungan antara hubungan intim dan lutut. Penjelasan yang lebih masuk akal, lututku sedikit aneh karena banyak energi yang terkuras dan aku hanya perlu mengkonsumsi banyak protein untuk memulihkan kondisiku.
__ADS_1
Alvero kembali berkata dalam hati sambil meraih celana boxer miliknya dan segera mengenakannya.
"Aku akan menghubungi Ernest agar mengaturkan sarapan kita. Kamu mau sarapan di sini atau di restoran hotel?" Alvero yang sudah mengenakan celana boxernya dengan bertelanjang dada bertanya kepada Deanda sambil berjalan ke arah Deanda.
"Kalau... misalnya bisa... lebih baik kita makan pagi di sini saja." Mendengar perkataan Deanda dengan nada ragu membuat Alvero menjitak kening Deanda pelan dengan buku jari telunjuknya.
"Auw....!" Sebuah pekikan kecil dari bibir Deanda sambil mengusap keningnya, justru membuat Alvero menggerakkan tangannya ke wajah Deanda dan mencubit pelan pipi istrinya dengan gemas.
"My Al..." Setelah mendapat jitakan dan juga cubitan, Deanda langsung menyebutkan nama Alvero sambil menatap ke arah Alvero dengan wajah bertanya-tanya, seolah menunjukkan protesnya dan meminta penjelasan kenapa Alvero menjitak dan mencubitnya.
"Apa kamu masih sering lupa bahwa sekarang kamu adalah seorang permaisuri Gracetian? Jangankan hanya masalah makanan, kamu tinggal memerintahkan ke orang jika kamu menginginkan sesuatu." Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya bisa meringis.
"Ernest, siapkan makan pagi kami di kamar dalam waktu kurang dari 20 menit. Kami akan mandi terlebih dahulu, setelah itu kita berangkat ke rumah uncle Marcello. Persiapkan keperluan kami untuk pergi keluar. Aku ingin pergi sebagai Alvi agar tidak menimbulkan kecurigaan." Alvero memberikan perintah kepada Ernest melalui panggilan teleponnya.
Deanda yang mendengar perintah Alvero kepada Ernest hanya bisa memandang ke arah Alvero dengan senyum di wajahnya.
Bahkan setelah mereka menikah dan melakukan banyak hal bersama, sosok Alvero masih saja membuat Deanda begitu kagum dan terpesona. Rasanya dia belum percaya sepenuhnya jika saat ini statusnya adalah istri dari laki-laki tampan yang merupakan raja Gracetian itu.
"Kenapa memandangku dengan tatapan aneh seperti itu?" Begitu selesai melakukan panggilan telepon dengan Ernest, Alvero bertanya sambil membungkukkan tubuhnya ke arah Deanda.
__ADS_1
Dan sebelum Deanda sempat menjawab pertanyaan Alvero, dengan cepat tangan Alvero menarik selimut yang dikenakan oleh Deanda untuk menutup tubuhnya sehingga selimut itu terlepas sepenuhnya dari tubuh Deanda, membuat tubuh polos Deanda terlihat jelas. Tindakan Alvero sontak membuat Deanda tersentak kaget dan kembali terpekik.
Namun, sebelum Deanda sadar dari keterkejutannya, dengan cepat kedua lengan Alvero bergerak ke arah punggung dan belakang lutut Deanda. Setelah itu dengan gerakan cepat namun juga santai, Alvero mengangkat tubuh Deanda dan menggendongnya, membawanya ke arah pintu kamar mandi.
"Pagi ini kita akan mandi bersama. Supaya aku bisa mendapatkan pijatan lembut dari istriku di bawah kucuran air hangat. Hanya dengan membayangkannya saja, betapa nikmatnya dipijat oleh wanita cantik sepertimu, membuat aku bahkan bersedia mengabulkan apapun permintaanmu." Alvero berkata sambil hidung mancungnya menciumi leher Deanda yang ada dalam gendongannya dengan posisi ala bridal style.
"My Al...!" Melihat perbuatan Alvero, Deanda sedikit berteriak sambil memukul pelan dada bidang Alvero, yang bukannya menghentikan tindakannya, namun justru tertawa terbahak mendapatkan protes dari Deanda melalui pukulan ke dadanya.
Bahkan tanpa perduli dengan teriakan protes Deanda, Alvero justru mengangkat tubuh Deanda ke atas, agar lebih mendekat ke arahnya, sehingga bibirnya bisa mendekat dan mengecup mesra bibir Deanda, sengaja membungkam bibir Deanda dengan bibirnya karena dilihatnya Deanda sudah bersiap menyatakan protesnya kembali.
"Kalau kamu terus berteriak dan protes, aku tidak akan membiarkan bibirmu lepas dari bibirku..." Alvero berbisik lembut setelah melepaskan bibirnya dari bibir Deanda.
Dan begitu melihat Deanda terdiam, membiarkan Alvero menggendong tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi, dengan sengaja Alvero justru menggerakkan bibirnya ke dada Deanda dan mengecup mesra salah satu dari benda kembar milik istrinya, membuat dengan reflek tubuh Deanda bergerak untuk melepaskan diri dari Alvero, berencana melompat dari gendongan Alvero. Namun dengan tertawa terbahak kedua lengan Alvero yang sedang menggendong tubuh Deanda menahan dengan kuat agar Deanda tidak terlepas dari gendongannya.
Mendapatkan ciuman mesra di salah satu area tubuhnya yang sensitif oleh bibir Alvero benar-benar membuat wajah Deanda memerah dan dadanya berdetak dengan keras, seolah jantungnya sedang bersiap untuk melompat karena merasakan sensasi yang membuatnya merasa seperti tersengat aliran listrik dan tubuhnya bergetar karena merasa begitu bahagia atas perlakuan lembut sekaligus mesra dari pria hebat yang keberadaannya selalu membuatnya terpesona dan tidak mampu menyembunyikan tatapan kagumnya kepada laki-laki miliknya itu.
Dalam hati Deanda sungguh berharap, untuk waktu yang lama mereka bsia saling mencintai dan membahagiakan seperti saat ini. Sampai rambut mereka berdua memutih, mereka akan bisa selalu bersama dan saling memanjakan dan selalu bersikap mesra seperti hari ini, walau mungkin akan ada badai atau masalah mencoba memisahkan mereka ke depannya. Deanda hanya bisa berdoa agar dia bisa selalu menjadi pendamping setia dan penolong yang tangguh untuk Alvero sampai maut memisahkan mereka. Dan berharap itu bisa mereka jalani berdua untuk waktu yang lama.
__ADS_1