BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
INGIN BERTEMU GADIS ITU


__ADS_3

Melihat kondisi Vincent, rasanya Deanda ingin berlari mendekat dan memeluk mertuanya itu, mencoba memberikan penghiburan pada laki-laki yang sejak awal pertemuan mereka sudah bersikap begitu baik, seperti ayah kandungnya. Membuat Deanda seolah memiliki seorang ayah lagi.


Alvero hanya bisa menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya sebentar. Laki-laki itu bisa merasakan kesedihan, penyesalan dan patah hati yang sedang dialami oleh Vincent, tapi Alvero bukan seseorang yang memiliki kemampuan untuk berkata-kata manis dan menghibur untuk orang lain, kecuali orang itu adalah Deanda. Membuatnya memilih lebih baik diam daripada dia salah bicara dan membuat orang lain salah paham dengan niat baiknya yang bermaksud menghibur.


Untuk beberapa lama Deanda dan Alvero sama-sama terdiam, membiarkan Vincent melepaskan kesedihan dan penyesalannya dengan cara menangis sepuasnya, sambil memukul-mukul dadanya.


"Nak..." Setelah puas menumpahkan emosinya dalam tangisannya, Vincent berkata pelan kepada Alvero.


"Ya Pa..." Alvero segera menyahuti panggilan dari Vincent.


"Aku tahu pasti, Larena tidak mungkin memberikan liontin itu keapda sembarang orang, apalagi orang yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Bawa gadis yang memakai liontin itu kepadaku. Aku harus bertemu bertemu dengan gadis itu dan menanyakan bagaimana dia bisa mendapatkan liontin itu dari Larena." Vincent berkata dengan suara terdengar begitu serak karena baru saja menangis dengan keras.


"Baik Pa. Aku akan segera mengaturkan untuk itu. Yang penting kendalikan diri Papa dulu untuk saat ini. Jangan membuat hal ini menjadi beban pikiran Papa sehingga mengganggu kesehatanmu." Dengan gerakan pelan Vincent mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengar perkataan Alvero, walaupun dalam hati dia tidak yakin, dia bisa melakukan itu dengan mudah.

__ADS_1


Setelah puluhan tahun berpisah dari wanita yang begitu dicintai dan selalu dirindukannya, bagaimana bisa Vincent bisa tenang ketika hari ini dia mendengar kabar tentang kemungkinan bahwa wanita yang dicintainya itu masih hidup, bahkan memiliki seorang putri darinya.


"Aku sudah cukup berdosa kepada Larena karena membiarkannya pergi dari istana dan mengalami hal mengerikan malam itu. Jika benar Larena memang hamil saat itu, aku tidak tahu bagaimana caraku untuk bisa menebus semua dosa dan kesalahanku pada Larena." Vincent berkata sambil berusaha keras agar matanya tidak lagi menitikkan air mata.


Tapi sekeras apapun usahanya, air matanya tetap turun sedikit demi sedikit diikuti dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan tubuhnya sedikit berguncang karena berusaha menahan tangisnya, membuat Alvero justru merasa salah tingkah, seolah dia yang menyebabkan semua itu.


"Pa, apapun yang dilakukan mama hari itu... keputusannya untuk pergi meninggalkan kalian pada hari itu, mama pasti sudah memikirkannya dengan pemikiran yang panjang dan lama. Bagi mama pasti juga bukanlah hal mudah meninggalkan kalian berdua. Dan jika mungkin ternyata benar gadis itu adalah anak dari mama Larena. Mama Larena pasti memiliki alasan kuat menyembunyikan kebenaran tentang semua itu. Yang pasti, dia melakukannya itu agar mama bisa melindungi Papa dan yang mulia Alvero. Siapa wanita yang tidak ingin melihat suami dan anak yang dicintainya hidup dengan baik dan aman, juga bahagia?" Deanda mencoba memberikan kata-kata yang diharapkannya bisa menenangkan hati Vincent maupun Alvero.


"Jika benar gadis itu adalah anak dari mama Larena, berarti pada saat terjadinya kebakaran itu, mama Larena selamat. Dan untuk sekarang, kita bisa berharap bahwa mama Larena masih hidup dengan sehat di suatu tempat walaupun tidak ada di dekat kita. Aku rasa itu akan menjadi hal yang paling membahagiakan bagi kita semua dibandingkan dengan kita harus terus terjebak dengan masa lalu kita yang sudah tidak bisa diulang dan diubah kembali." Kata-kata Deanda berhasil membuat Alvero maupun Vincent menarik nafas dalam-dalam dan berharap perkataan  Deanda adalah sebuah kenyataan.


Baik Vincent dan Alvero merasa jauh lebih tenang setelah Deanda mengucapkan kata-katanya tentang kenyataan yang harus mereka hadapi saat ini, daripada terlalu memikirkan masa lalu yang tidak akan pernah bisa mereka ubah lagi. Entah itu penyesalan, kesalahan ataupun keburukan yang pernah terjadi, saat ini yang harus mereka pikirkan adalah mencari kebenaran agar bisa membuat segala sesuatu lebih baik ke depannya.


Bahkan kalau saja memungkinkan, menebus setiap kesalahan yang pernah terjadi dan memperbaikinya.

__ADS_1


"Besok kami akan menemui gadis itu dan mengajaknya untuk menemui Papa." Alvero berkata sambil kembali menatap layar handphonenya dengan serius, ikut merasa lega melihat wajah Vincent yang sudah terlihat jauh lebih tenang setelah mendengar kata-kata Deanda.


"Siapa nama gadis itu?" Vincent bertanya sambil menarik nafas panjang.


Sejak Alvero menceritakan tentang keberadaan gadis yang mengenakan kalung dan liontin milik Larena, rasanya Vincent tidak bisa berhenti memikirkan tentang gadis itu. Dan hatinya merasa begitu penasaran tentang sosok gadis itu, seolah memang ada yang menghubungkan antara dia dan gadis pemakai liontin milik Larena itu.


"Aku lupa siapa nama belakang gadis itu. Yang pasti, seingatku nama keluarga gadis itu bukan nama dari salah satu bangsawan yang ada di Gracetian. Nama depan gadis itu adalah Alaya." Vincent kembali tersentak kaget mendengar nama yang disebutkan oleh Alvero.


"Al... Alaya?" Vincent kembali mengulang kata-kata Alvero dengan wajah terlihat begitu kaget dan langsung terlihat begitu panik, membuat wajahnya kembali pucat.


 


 

__ADS_1


__ADS_2