BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SECUIL KISAH DI MASA LALU


__ADS_3

Dear para reader tersayang, hari ini author kembali up 3 episode, sebagai ucapan terimakasih untuk para pembaca yang sudah selalu support dan kasih semangat author. Sampai protes massal di kolom komentar karena kemarin up cuma 1 episode, dan 1 episode lainnya nyantol di sistem. Author jadi terharu ngeliat gimana semangatnya para pembaca menunggu up cerita novel ini setiap harinya. Bikin author pengen selalu crazy up, apadaya kemampuan belum ada. Harap dimaklumi ya. Selamat membaca, semoga tetap setia mengikuti kisah Alvero dan Deanda sampai akhir. I love you all.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau pada akhirnya kita berdua bisa membuat mama mau kembali ke Gracetian. Mengingat bagaimana trauma yang pernah dialami mama waktu itu. Bukan sekedar trauma psikis, tapi juga trauma fisiknya yang berat, karena waktu itu mama harus keluar masuk rumah sakit puluhan kali untuk memulihkan kondisi tubuhnya saat itu." Alaya berkata sambil menyeruput kopi hangat di cangkir yang ada di tangannya.


Ingatan Alaya kembali pada ingatan bagaimana pamannya yang sedang duduk di hadapannya saat ini, pernah menceritakan bagaimana kondisi fisik mamanya yang menyedihkan saat pamannya itu membawa mamanya ke luar negeri untuk berobat, apalagi saat itu mamanya sedang mengandungnya. Sehingga dokter tidak bisa melakukan banyak hal untuk melakukan pengobatan karena kondisinya yang sedang mengandung.


Para dokter itu tahu, jika mereka salah melakukan tindakan waktu itu, nyawa janin dalam kandungan akan menjadi taruhan. Dan saat itu, bahkan kelahiran Alaya dianggap sebagai suatu mujizat, memikirkan bahwa kondisi mamanya ketika masa-masa kehamilan sampai saat melahirkannya dalam kondisi yang buruk, bahkan sebelumnya sempat kritis di masa-masa awal kehamilannya, yang hampir saja menyebabkan mama Alaya hampir kehilangan nyawanya.


Beruntung sekali selain pamannya, Alaya memiliki paman lain yang merupakan kakak sepupu mamanya yang tinggal di luar negeri dan banyak membantu mereka juga saat itu. Walaupun bukan bantuan berupa uang, tapi bantuan tenaga dan pikiran, yang saat itu sedang dibutuhkan oleh mama Alaya. Juga bantuan berupa semangat dan support penuh kepada mama Alaya yang mengalami kondisi yang menyedihkan pasca apa yang terjadi padanya malam itu di tempat kediamannya.

__ADS_1


"Bagaimanapun, apa yang dialami oleh mamamu adalah hal yang tidak semua orang akan sanggup untuk menanggungnya. Dia wanita yang sungguh hebat dan membuatku tidak pernah menyesal sudah memutuskan untuk melindungi kalian berdua sampai akhir, agar suatu ketika kalian bisa kembali ke Gracetian dan merebut kembali hak kalian.” Laki-laki itu menghentikan bicaranya sesaat, diliriknya Alaya yang mencoba menenangkan hatinya dengan duduk bersandar, agar tubuhnya sedikit rileks.


“Apalagi selama beberapa tahun sebelum pergi, aku sempat melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana papamu yang seperti orang linglung ketika mamamu pergi. Aku harap kembalinya mamamu bisa membawa perubahan besar. Dan lagi, sekarang posisi raja sudah jatuh ke tangan yang mulia Alvero. Itu akan membuat banyak hal yang berubah di Gracetian menjadi lebih baik. Mamamu tidak perlu terlalu takut untuk datang kembali ke Gracetian, karena dari yang sudah kita tahu selama ini, yang mulia Alvero adalah seorang raja yang bisa diandalkan. Raja yang tidak akan membiarkan ketidak adilan dan kejahatan merajalela." Alaya tersenyum senang mendengar perkataan dari laki-laki itu, yang membuatnya memiliki harapan baru bagi masa depannya.


"Butuh persiapan lama dan tidak mudah bagi mama untuk memberanikan diri menginjakkan kakinya kembali ke Gracetian setelah belasan tahun pergi dari tempat ini. Tempat yang sebenarnya terlihat begitu indah dan nyaman. Jujur saja, aku langsung jatuh cinta begitu tiba untuk pertama kalinya di negara ini. Entah itu kota Tavisha ataupun Renhill, aku menyukai semua tempat di negara ini." Alaya berkata sambil matanya menatap jauh ke depan, dengan senyum di wajahnya yang cantik.


Negara yang merupakan tempat dimana pernah membuat mama Alaya merasa begitu bahagia dan dicintai, tapi juga merupakan tempat yang sama, yang sudah membuatnya menderita, kehilangan cinta dan kebahagiaannya.


"Aku berharap, saat mamamu sudah benar-benar kembali ke sini, dia benar-benar kuat dan siap untuk menghadapi badai besar yang akan kita hadapi. Kita bertiga, harus saling percaya agar tidak ada pihak lain yang membuat kita saling curiga sehingga akhirnya menggagalkan usaha kita untuk membalikkan keadaan." Alaya langsung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan pamannya itu.

__ADS_1


"Aku setuju Uncle. Terlalu banyak pengkhiatanan yang aku lihat di sekitarku yang membuat orang hancur. Kali ini kita harus membuktikan bahwa kebenaran pada akhirnya pasti akan menang walaupun beberapa oang mungkin menertawakan keyakinan kita tentang itu." Sebuah gerakan untuk meminum kopinya kembali dilakukan oleh Alaya, setelah itu ditatapnya kembali wajah laki-laki paruh baya yang masih terlihat jauh lebih muda dari umurnya, dengan wajahnya yang terlihat tegas dan menunjukkan bahwa di masa mudanya, laki-laki itu adalah seorang laki-laki yang sangat tampan, dengan bentuk tubuh yang begitu ideal dan menjadi pria yang diimpikan oleh banyak gadis.


Melihat gurat-gurat jejak ketampanan pamannya, membuat Alaya tersenyum. Sekaligus merasa maklum bagaimana putri dari pamannya itu mewarisi wajah yang begitu cantik dan mempesona darinya, sehingga membuat kakaknya jatuh cinta pada wanita itu. Walaupun Alaya tahu pasti, tentunya bukan hanya sekedar wajah cantik milik putri pamannya yang sudah membuat kakaknya begitu mencintai istrinya.


"Tapi Uncle, ada hal yang masih membuatku merasa begitu penasaran. Kenapa tiba-tiba mama mau kembali ke Gracetian setelah sekian lama kita berdua berusaha membujuknya dan tidak pernah berhasil?" Alaya bertanya sambil mengernyitkan keningnya karena mencoba menerka apa yang sudah terjadi.


 


 

__ADS_1


__ADS_2