
"Aku seorang makelar yang memiliki banyak bos yang harus aku layani, yang dengan mudah akan merogoh kocek mereka jika barang yang mereka inginkan bisa Anda dapatkan. Kebetulan saat ini ada sepasang kakak beradik yang tertarik dengan lukisan milik countess Melva, putri dari earl Robin." Mendengar permintaan dari Erich, Emilio menarik nafas panjang sebelum menghempaskan tubuhnya sandaran sofa di belakangnya.
"Dan yang pasti, bukan hanya itu saja. Ada beberapa karya seni yang diinginkan kedua kakak beradik itu. Hanya saja, aku tidak ingin rugi dalam berbisnis, satu diantara dua atau tiga karya seni itu, aku ingin Anda mendapatkan barang "ASLI" yang akan membuat orang yakin, agar kita bisa mendapatkan keuntungan lebih besar...." Erich berkata dengan anda pelan ke arah Emilio, dengan menekankan kata asli dalam mengucapkannya, membaut mata Emilio lagnsung merlirik tajam ke arah Erich.
"Atas dasar apa aku bisa mempercayaimu? Jika berani melakukan hal seperti itu, dan kamu tidak memiliki orang kuat di belakangmu, tinggal menunggu waktu sampai pihak berwenang menangkapmu." Dengan cepat Emilio memotong perkataan Erich.
"Aku mengenal baik para keluarga kerajaan. Mereka banyak berhutang budi kepadaku. Dengan senang hati mereka kan membantuku saat aku mengalami kesulitan." Dengan percaya diri, namun santai, Erich berkata kepada Emilio yang langsung mengernyitkan dahinya.
"Kamu punya akses ke istana?" Mendengar pertanyaan Emilio, dengan percaya diri, Erich langsung menganggukkan kepala sambil memanyunkan bibirnya, seolah menunjukkan bahwa istana bukanlah hal asing untuknya.
"Ahhh, tidak mungkin orang biasa bisa seenaknya punya akses ke istana, jangan coba-coba menipuku." Emilio kembali berkata sambil menggerak-gerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri, setelah itu kembali mengambil gelas yang sudah berisi wiski kembali di depannya, meneguknya lalu mengecapkan kedua bibirnya dengan suara keras.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku makelar yang memiliki banyak bos, termasuk orang-orang istana. Mereka adalah para pelanggan setiaku." Erich berusaha meyakinkan Emilio yang hanya mencibirkan bibirnya.
"Buktikan perkataanmu dengan sebuah bukti nyata, bukan hanya kata-kata omong kosong." Emilio berkata sambil mengangkat kedua alisnya naik turun beberapa kali dengan tatapan mata meremehkan Erich.
Erich terdiam sesaat, tidak menyangka bahwa Alvero yang tadi siang sengaja meminta Enzo berfoto bersama Erich memiliki tujuan untuk berjaga-jaga jika Emilio menanyakan bukti kedekatannya dengan orang-orang istana. Menyadari bahwa sebagai tuannya, pikiran Alvero sungguh berpikir jauh ke depan membuat Erich tersenyum lega sekaligus bangga dalam hatinya, melihat bagaimana tuannya sudah memikirkan sesuatu yang tidak pernah terbersit dalam otaknya.
Dalam merencanakan dan melakukan segala sesuatu, yang mulia Alvero benar-benar mempersiapkan dengan baik dan sempurna. Tidak heran apapun yang sudah direncanakan oleh yang mulia Alvero, jarang sekali mengalami kegagalan.
Erich berkata dalam hati sambil menatap kembali ke arah Emilio dengan wajah bangga dan terlihat tenang sekaligus santai.
Erich juga menunjukkan beberapa foto dirinya yang sedang berada di dalam bangunan istana. Foto yang sebenarnya merupakan foto-foto Ernest yang sengaja berdandan santai seperti dandanan Erich saat menyamar, atas perintah Alvero dan mengambil pose di beberapa bagian bangunan istana, bahkan termasuk di dalam gedung pertemuan istana, dan mengirimkannya kepada Erich tadi siang. Alvero sengaja mengatur seperti itu agar siang tadi Erich bisa dengan segera mendapatkan banyak foto dalam waktu singkat.
__ADS_1
Foto-foto itu cukup membuat pandangan Emilio terhadap Erich langsung berubah 180 derajat. Bahkan tanpa disadari oleh dirinya sendiri, ada tatapan mata ingin dan iri yang ditunjukkan oleh mata Emilio saat melihat foto-foto Erich tersebut. Emilio berharap ke depannya dia bisa menjadi orang seperti Erich yang memiliki koneksi dengan orang-orang dalam istana.
Sesuai dengan yang sudah diselidiki oleh Alvero, Emilio begitu tergila-gila dengan harta dan status sosial. Dan itu adalah salah satu alasan yang membuat Emilio ingin menikahi Melva agar bisa menyandang gelar Earl.
"See? Bagiku istana sudah seperti tempat bermainku untukku, dan para pangeran adalah teman sepermainanku. Apa Anda masih meragukan perkataanku Tuan Emilio?" Erich berkata sambil memasukkan kembali handphonenya ke saku setelah memamerkan foto-foto kedekatannya dengan Enzo dan bagaimana dia bisa keluar masuk istana dengan mudah, yang membuat Emilio langsung tersenyum.
"Ok, lalu apa yang kamu inginkan sekarang. Benda seni apa saja yang diinginkan bosmu?" Tanpa sadar, Emilio mulai tertarik melakukan bisnis dengan Erich begitu dia tahu Erich memiliki akses dengan salah satu orang dengan kedudukan tinggi di istana, seorang pangeran Adalvino. Dan juga melihat bagaimana dia merupakan orang yang memiliki akses untuk bisa dengan mudah keluar masuk dalam istana.
"Ada beberapa benda seni yang sedang aku butuhkan. Selain lukisan milik countess Melva, bosku menginginkan cincin berlian peninggalan duke Austin yang sudah berusia ratusan tahun. Juga pedang bersejarah milik knight Alexis yang beberapa waktu lalu dikabarkan dijual di pasar gelap. Dan satu lagi kotak musik emas yang dibuat sendiri oleh salah satu pengrajin legendaris dari Gracetian yagn sudah meninggal ratusan tahun lalu, Tuan Sam. Yang kabarnya ada 2 kotak kembar dimana salah satunya dimiliki oleh ibu suri Eliana. Bosku menginginkan kotak yang satunya untuk membuat statusnya sebagai orang kaya lebih diakui oleh masyarakat sekitarnya. Tuan Emilio tahu, bagi beberapa orang memiliki benda indah dan mewah seperti milik keluarga kerajaan merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Yang bagiku lebih tepat disebut dengan kesombongan." Erich berkata dengan sikap santai sambil melihat ke arah Emilio yang menatapnya dengan pandangan ragu dan meremehkan.
"Cih.... semua barang-barang permintaanmu itu nilainya tidak main-main. Yakin bosmu itu akan sanggup untuk membayar semua pesanannya itu?" Emilio langsung memotong perkataan Erich.
__ADS_1
"Bukan hanya sanggup, bahkan jika Anda menaikkan harganya dua tiga kali lipatpun, dia akan sanggup membayarnya. Bosku kali ini bukan dari kalangan bangsawan. Tapi untuk masalah kekayaan, jangan diragukan lagi. Bahkan seorang bangsawan setara dengan earl Robin belum tentu memiliki harta kekayaan sebanyak bosku ini." Emilio menarik nafas dalam-dalam mendengar perkataan dari Erich, berharap apa yang dikatakan oleh Erich benar, sehingga kali ini dia bisa mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis ilegalnya ini.
Setelah sekian lama dia merasakan kehidupan mewah berkat bantuan Melva, rasanya semakin hari, Emilio semakin menginginkan lebih. Tidak lagi puas walaupun keberadaan Melva yang membantunya, sudah membuat kehidupannya jauh lebih baik dibandingkan dulu saat dia masih berada di kota lain. Bahkan tanpa harus menipu, dengan mengandalkan bantuan dari Melva, sebenarnya dia sudah bisa hidup dengan mewah.