
“Selamat siang Yang Mulia, Permaisuri.” Sapaan hangat langsung terdengar begitu Alvero, Deanda maupun Erich mendekat ke meja di café yang tampak beberapa gadis sudah menunggu mereka untuk makan siang bersama.
“Selamat siang semuanya.” Deanda langsung mewakili Alvero untuk menerima sapaan itu.
Wajah Deanda dipenuhi dengan senyuman ramah, memandang ke arah Abella, Cleosa, Clare, dan juga…. Alaya yang ternyata siang itu ikut hadir di sana.
Entah sejak kapan, sepertinya Alaya sudah menjadi sahabat dekat bagi Abella sekaligus Clare yang bekerja bersama di departemen R&D, juga Cleosa yang seringkali menghabiskan waktu bersama kedua sahabatnya itu, membuatnya sedikit banyak jadi mengenal Alaya.
Kehadiran Alaya siang itu membuat Deanda teringat kejadian pagi tadi ketika dia mengambil dokumen di tempat Robert. Deanda sengaja mengambilnya sendiri walaupun Robert awalnya merasa tidak enak hati kenapa harus Deanda sendiri yang mengambilnya.
Namun, karena Deanda bersikeras dan memberikan alasan kepada Robert bahwa Deanda ingin bertemu dengan Abella kerena ada sesuatu yang ingin dibicarakannya dengan Abella, pada akhirnya Roberti membiarkan Deanda mengambil dokumen itu sendiri ke kantornya.
Dan untuk Alvero, karena kebetulan pagi ini dia ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnis di kantornya, membuat Deanda memiliki kesempatan untuk pergi ke departemen R&D.
Begitu urusan dokumen selesai, pagi tadi Deanda langsung mendatangi meja kerja Abella dan mengajaknya keluar sebentar agar bsia berbicara dnegan tenang, ke salah satu sudut ruangan R&D, dimana terdapat ruangan kecil yang biasa dipakai untuk meeting kecil, 2-3 orang.
“Kenapa Deanda? Apa ada sesuatu yang penting ingin kamu sampaikan?” Deanda langsung tersenyum mendengar pertanyaan Abella.
“Eh, untuk acara makan siang kita nanti di café perusahaan. Yang mulia…” Deanda menghentikan bicaranya sebentar, karena merasa sedikit ragu, apakah acara makan siang hari ini akan tetap dilaksanakan jika teman-temannya tahu pada akhirnya Alvero akan ikut hadir di sana.
__ADS_1
“Kenapa dengan yang mulia Alvero? Apa beliau tidak mengijinkanmu untuk makan siang bersama kami?” Mendnegar pertanyaan Abella, Deanda dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Tidak, yang mulia tidak keberatan, justru yang mulia ingin ikut bergabung bersama kita.” Mendengar perkataan Deanda, mata Abella langsung melotot kaget.
“Eh, yang benar saja… lalu… bagaimana dengan rencana kita jika yang mulia ikut hadir di sana? Apa suasana tidak akan menjadi canggung? Aku tahu yang mulia adalah suamimu, tapi bagaimanapun, kedudukan beliau sebagai raja Gracetian pasti akan membuat suasana menjadi tegang dan kaku.” Abella berkata dengan nada protes di suaranya.
“Awalnya aku pikir juga akan begitu Abella. Tapi yang mulia mengatakan padaku jika dia membiarkan hanya Erich yang ikut bersamaku, dia jamin Erich tidak akan mau menikmati makan siang bersama kita. Dia pasti akan hadir sebagai pengawal priobadi yang bertugas menjagaku. Karena itu yang mulia ingin ikut untuk dapat membantu kita.” Mendenganr penjelasan Deanda yang masuk akal, akhirnya Abella mengangguk-anggukkan kepalanya, cukup mengerti dan menerima alasan yang disampaikan oleh Alvero.
“Kalau begitu kita turuti saja kemauan yang mulia.” Mendengar perkataan Abella, Deanda tersenyum lega.
“Eh, tapi Deanda, selain Clare dan Cleosa, ada satu orang yang akan ikut amkan siang bersama kita. Sejak kamu pindah dari departemen R&D menjadi asisten pribadi yang mulia Alvero, kami bertiga menjadi dekat dan bersahabat. Dia seorang gadis cantik yang cerdas dan baik hari. Keberadaannya sungguh membuat kami teringat tentang kamu. Selama beberapa lama ini, kami berempat seringkali kakan siang bersama jika ada kesempatan. Semoga kamu tidak keberatan kami juga mengajaknya makan siang bersama.” Mendengar perkataan Abella, Deanda sedikit mengernyitkan dahinya, mengetahui cerita tentang gadis baru yang sekarang cukup dekat dengan para sahabatnya.
Bagi Abella, rasanya tidak enak jika salah satu diantara dari mereka terpaksa tidak ikut makan siang bersama tanpa alasan yang jelas. Karena itu, begitu Deanda menyatakan persetujuannya, Abella merasa lega sekaligus senang. Abellapun ingin agar Deanda bisa lebih dekat dengan gadis yang sudah menjadi sahabat baru bagi mereka itu.
“Kalau begitu, aku akan segera memberitahu Alaya dia bisa ikut makan siang bersama kita hari ini tanpa perlu sungkan karena kamu juga sudah mengijinkannya.” Abella berkata dengan nada terdengar begitu ceria.
Eh? Alaya? Gadis yang dibicarakan oleh Abella barusan ternyata adalah Alaya?
Deanda berkata dalam hati dengan tubuh sedikit tersentak begitu mendengar bahwa gadis yang dimaksud oleh Abella adalah Alaya.
__ADS_1
“Kenapa denganmu Deanda? Kenapa kamu terlihat kaget? Apa kamu keberatan jika Alaya ikut makan siang bersama kita? Apa ada masalah dengan Alaya?” Abella yang melihat reaksi dari Deanda segera mempertanyakan tentang perubahan sikap Deanda begitu mendengar nama Alaya.
Alaya akan ikut makan siang berama kami? Dengan apa yang sudah terjadi selama ini. Beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa Alaya adalah salah satu gadis yang tidak menimbulkan alergi kepada yang mulia Alvero, apakah aku akan tetap membiarkan mereka untuk bertemu dalam rencana makan siang bersama nanti?
Deanda berkata dalam hati sambil berpikir keras apa yang harus dia lakukan saat ini.
Tapi aku percaya sepenuhnya pada suamiku. Tidak ada alasan aku merasa takut melihat Alaya bertemu dengan yang mulia. Toh mereka tidak memilik hubungan apapun. Justru aku harus membiarkan Alaya ikut makan siang, untuk membuktikan bahwa memang tidak ada apapun yang terjadi antara Alaya dan yang mulia, selain hubungan kerja, antara pimpinan dan anak buah.
Deanda kembali berkata dalam hati sambil berusaha menenangkan dadanya yang mulai berdetak sedikit lebih kencang karena memikirkan tentang rencana Abella untuk mengajak makan siang Alaya bersama dengan mereka semua, termasuk Alvero.
“Mmmm… tidak, tidak ada masalah. Aku tidak begitu mengenal siapa Alaya. Kalau kalian ingin mengajaknya siang ini, terserah kalian saja. Aku yakin jika kalian menganggapnya gadis baik, pasti kenyataannya seperti itu.” Akhirnya Deanda memutuskan untuk tidak terlalu perduli dengan itu.
“Kalau begitu, semuanya beres, kita akan makan siang bersama. Kita harus membuat acara makan siang ini senyaman mungkin untuk Cleosa dan tuan Erich, agar mereka berdua memiliki kesempatan untuk mengobrol. Dan harus dibuat se natural mungkin, karena Cleosa dan tuan Erich sama-sama tidak mengerti tentang rencana kita hari ini. Kita harus menggiring suasana agar tidak terlihat seperti suatu acar kencan buta yang sengaja disiapkan untuk mereka.” Abella berkata dengan matanya yang terlihat berapi-api, membuat Deanda langsung tersenyum geli.
Di satu sisi, Deanda merasa senang dengan rencana untuk Cleosa dan Erich. Setiap kali Deanda melihat cara Cleosa menatap sosok Erich dari jauh atau saat sosok laki-laki itu lewat di sekitarnya, Deanda bisa menangkap adanya cinta dan rasa kagum yang begitu besar pada Cleosa untuk Erich.
__ADS_1