BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
TENTUKAN HUKUMAN UNTUKNYA


__ADS_3

"Ah...." Hanya satu patah kata disertai desahan yang keluar dari bibir Deanda begitu mengetahui bahwa Desya adalah orang yang ingin mencelakainya.


"Memang kenapa dia berbuat seperti itu?" Deanda bertanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Apalagi kalau bukan karena iri dan tidak suka padamu?" Alvero langsung menjawab pertanyaan dari Denada.


"Apa karena aku menikah denganmu? Memang aku pernah mendengar dari Ernest.... bahwa putri Desya sangat menyukaimu sejak kecil. Bahkan dia begitu terobsesi padamu." Mendengar perkataan Deanda mata hazel Alvero sedikit menunjukkan kekagetan.


Haist. Dasar si Ernest! Terlalu banyak bicara! Awas saja nanti!


Alvero langsung memaki Ernest dalam hati, mengatur sedikit nafasnya sebelum menjelaskan hubungannya dengan Desya kepada Deanda.


"Kami memang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, dan sejak kecil tinggal bersama. Tapi aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku tidak pernah memandangnya sebagai seorang wanita. Dan berkali-kali aku sudah menegaskan hal itu kepadanya. Bahkan boleh dikata sudah seringkali aku menolak pernyataan cintanya. Kamu tahu saat kamu menemukanku dalam keadaan kambuh alergiku di kantor untuk pertama kalinya, itu juga disebabkan karena sentuhan Desya. Ah, sebenarnya bukan itu pertama kalinya kamu melihat alergiku kambuh. Saat pesta di kediaman duke Evan. Malam itu di taman kita bertemu saat aku sedang mengalami sesak nafas dan ruam-ruam merah setelah Desya menyentuhku, dan tanpa ragu atau takut kamu mendekatiku, bahkan menyentuh lenganku. Saat itu sentuhanmu membuatku tahu bahwa keberadaanmu membuat alergiku berangsur-angsur menghilang. Jangan khawatir sweety, aku benar-benar hanya menganggap Desya adik tiriku. Walaupun sebenarnya aku juga tidak pernah dekat seperti seorang kakak dan adik dengannya. Kejahatan Eliana membuatku tidak nyaman juga berada di dekat anak-anaknya. Tidak ada perasaan khusus kepada Desya. Selain itu..." Alvero berkata panjang lebar tentang apa yang pernah terjadi dengannya dan Desya.


"My Al... hentikan... apapun itu, aku percaya kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan putri Desya." Deanda berkata sambil menahan senyum gelinya melihat bagaimana dengan keras Alvero berusaha menjelaskan secara panjang lebar hubungannya dengan Desya, seolah Deanda mencurigai hubungan mereka berdua, padahal tidak pernah terbersit sedikitpun di benak Deanda mencurigai hubungan Alvero dengan Desya.


"Kalau kamu memang memiliki perasaan kepada putri Desya pasti kamu akan memperjuangkannya, seperti kamu memperjuangkan aku." Deanda berkata dengan nada tenang, membuat Alvero menarik nafas lega.


"Aku hanya tidak mengerti, seorang putri yang dididik dengan baik di istana, ternyata tetap saja bisa berbuat sesuatu hal yang seburuk itu." Alvero mencibirkan bibirnya mendengar perkataan Deanda.

__ADS_1


"Bukan sekedar didikan, tapi darah yang mengalir di tubuhnya ikut berperan besar membuat seseorang menjadi orang seperti apa. Kamu belum tahu bagaimana perbuatan para keturunan Edarian. Dan sampai hari ini aku tidak habis pikir bagaimana orang seperti papaku bisa terlibat dengan wanita ular keturunan Edarian." Alvero berkata sambil mendengus, menunjukkan kekesalannya.


"Ah, jangan lagi membicarakan Desya. Itu hanya akan membuatmu mengingat hal buruk tadi pagi." Alvero berkata sambil meraih kembali kepala Deanda dalam dekapannya.


Untuk beberapa saat Deanda lebih memilih untuk diam dan berkutat dengan pikirannnya tentang Desya yang bisa berbuat senekat itu untuk melukainya. Bahkan dalam hatipun dia tidak pernah berpikir buruk tentang Desya. Melihat istrinya termenung setelah mengetahui siapa dalang di balik kejadian tadi pagi, Alvero langsung meraih tangan Deanda yang berada di atas pangkuannya.


"Biarkan aku yang mengurusnya untukmu." Alvero berkata sambil menggenggam tangan kiri Deanda dengan kedua tangannya.


"Hukuman apa yang akan kamu berikan padanya? Bolehkah aku tahu?" Deanda berkata dengan nada ragu, apalagi melihat tatapan mata serius dari Alvero saat mengucapkan dia yang akan mengurusnya.


"Aku akan mencabut gelar putrinya dan mengusirnya keluar dari istana. Nanti sepulang kita ke istana aku akan langsung memprosesnya." Deanda langsung tersentak kaget mendengar keputusan Alvero dan menggerakkan kepalanya agar wajahnya bisa bertatapan langsung dengan Alvero.


"Bagian mana yang kamu anggap berat? Bahkan aku tidak memberinya hukuman cambuk atau memenjarakannya?" Alvero berkata dengan nada tenang, membuat Deanda merasa tidak nyaman.


"Aku seringkali mendengar bahwa dengan mencabut gelar putri atau pangeran di Gracetian, jika mereka belum menikah, tidak akan ada satupun dari penduduk Gracetian yang akan mau menikahi mereka, kalau mereka sudah menikah dan memiliki anak, anak-anak mereka akan dikucilkan, dan tidak bisa mendapatkan pendidikan di tempat yang layak, tentang pernikahan anak-anak mereka juga akan bermasalah. Karena itu mereka yang pernah mengalami hal itu memilih untuk pergi keluar negeri dan melepas hak mereka sebagai warga negara Gracetian. Dan keluar dari istana.... apa itu artinya kehidupannya tidak akan lagi ditanggung dan dibiayai oleh istana? Padahal tidak semua putri dan pangeran memiliki pekerjaan sepertimu atau pangeran Enzo, atau pangeran Dion." Deanda berkata sambil memikirkan hal yang baru dia katakan kepada Alvero.


Belum banyak, tapi beberapa peraturan penting dan beberapa kejadian penting yang pernah terjadi di dalam istana, Deanda pernah membaca dan mempelajarinya dari tumpukan buku tugasnya sebelum dia menikah. Dan salah satu isi dari buku itu menjelaskan tentang bagaimana dan apa yang akan terjadi jika seorang raja Gracetian mencabut gelar putri atau pangeran yang dimiliki seseorang, atau akibat apa yang akan timbul jika seorang anggota keluarga kerajaan diusir dari istana. Dan dia tahu resiko besar apa, kehidupan menyedihkan yang akan dilalui oleh Desya jika Alvero menjatuhkan hukuman itu kepada Desya.


Hukuman yang bahkan lebih mengerikan dari hukuman fisik, dimana dia akan dikucilkan, tidak dianggap ada oleh orang-orang di sekelilingnya, dan yang pasti hanya bisa hidup dari belas kasihan orang lain karena kehidupannya tidak lagi disokong oleh istana dan perusahaan Adalvino. Deanda tahu jika itu dialami oleh rakyat biasa seperti dirinya tidak akan membawa banyak dampak. Tapi jika itu dialami oleh orang yang sudah terbiasa hidup mewah, dikelilingi oleh para pelayan dan pengawal yang dalam waktu 24 jam siap melayani dan melaksanakan perintahnya, pasti akan terasa sangat berat, bahkan mungkin bisa membuat jiwa orang itu terguncang jika tidak kuat menghadapi kenyataan dimana sebelumnya dia berada di atas angin, tiba-tiba dihempaskan ke jurang terdalam.

__ADS_1


"Bukannya itu bagus? Negara Gracetian tidak akan lagi dihuni oleh orang-orang berhati jahat seperti itu?" Alvero berkata dengan nada ringan, seolah-olah Desya tidak memiliki arti apapun baginya.


"Tapi... bagaimanapun... dia adalah saudara tirimu... tidak bisakah hukuman itu diperingan?"


"Ah... sudah aku katakan aku tidak akan lagi memberimu hak memberikan hukuman kepada Desya. Jika kamu yang menghukumnya, mungkin hukuman paling berat yang akan kamu berikan kepadanya adalah tidak boleh keluar dari kamar dan menonton televisi selama 3 hari. Hah...! Bagaimana bisa aku membiarkanmu memberikan hukuman semudah itu untuk orang yang berusaha mencelakakan seorang permaisuri kerajaan Gracetian? Apa kamu tidak tahu apa yang sudah dilakukan Desya setara dengan sebuah pemberontakan kepada pemerintahan Gracetian! Bagiku seharusnya hukuman itu terlalu ringan, seharusnya aku langsung mengusirnya keluar dari negara Gracetian saat ini juga dan untuk selamanya tidak memberinya ijin untuk menginjakkan kakinya di negara ini!" Alvero berkata dengan nada berapi-api, membuat Deanda harus dengan cepat memikirkan dengan cepat bagaimana cara menurunkan level kemarahan Alvero saat ini.


"My Al...." Suara lembut Deanda sambil menyebutkan nama kesayangan untuknya serta merta membuat Alvero sedikit membuka bibirnya, menghembuskan nafas dari bibirnya yang sedang sedikit terbuka.


"Ahhh... jangan membuat hatiku lemah sweety..." Alvero melenguh pelan sambil dipandanginya wajah Deanda yang jelas-jelas menunjukkan wajah memohon.


Hah! Bagaimana aku bisa menjadi laki-laki yang lemah jika itu adalah kamu sweety? Apapun yang kamu inginkan bagaimana aku bisa menolaknya tanpa perduli dengan perasaanmu? Sedangkan menolakmu sama dengan menolak diriku sendiri. Benar-benar mencintaimu membuatku tidak berkutik saat berhadapan denganmu.


Alvero berkata dalam hati sambil menatap ke arah Deanda yang sedang menatapnya dengan tatapan mata tenang, tapi bagi Alvero tatapan mata itu justru mematikan baginya, membuatnya terpojok karnea dia tahu pasti apa yang sedang diinginkan oleh Deanda darinya, pengampunan untuk Desya.


"Ok... kalau begitu... silahkan pilih salah satu dari hukuman itu. Mencabut gelar putrinya atau mengusirnya keluar dari istana. Lebih dari itu aku tidak bisa memberikan pilihan kepadamu untuk meringankan hukumannya." Akhirnya Alvero memberikan pilihan kepada Deanda untuk memilih salah satu dari hukuman itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2