
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, harap skip episode ini.
“Bau tubuhmu yang selalu membuatku merasa nyaman dan benar-benar membuatku mabuk sweety….” Alvero berbisik lembut sambil menyingkirkan rambut indah Deanda yang terurai dan menutupi tengkuk dan lehernya.
Dengan gerakan pelan, Alvero menyingkirkan rambut Deanda dan mengarahkannya ke depan, dan tanpa menunggu lebih lama lagi Alvero langsung menghujani tengkuk dan leher Deanda dengan banyak ciuman.
Ciuman bertubi-tubi yang dilakukan oleh Alvero kepada Deanda, awalnya hanya sebuah kecupan-kecupan ringan. Namun perlahan tapi pasti, ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang menuntut, sampai pada akhirnya diluar kendalinya, Alvero melepaskan pelukannya di pinggang Deanda, dan memutar tubuh Deanda agar berhadap-hadapan dengannya.
Begitu wajah mereka saling berhadapan, Deanda hanya bisa memandang ke arah wajah Alvero dengan tatapan mata ambernya yang terlihat pasrah walaupun wajahnya saat ini benar-benar menunjukkan warna merah karena malu. Deanda sadar dia tidak akan bisa lagi menghindar kali ini, karena saat Alvero memeluknya dari belakang sambil menciuminya tadi, tanpa sadar tubuhnya bersentuhan dengan sesuatu dari tubuh Alvero yang sepertinya perlahan-lahan mengeras. Menunjukkan bahwa saat ini Alvero sedang menginginkannya tanpa perlu Alvero mengucapkannya dengan kata-kata.
__ADS_1
Melihat wajah pasrah dari Deanda, tanpa menunggu lebih lama lagi, bibir Alvero langsung bergerak ke arah bibir Deanda, memberikan ciuman mesra sekaligus menuntut pada Deanda dengan kedua tangan Alvero merangkum wajah cantik istrinya. Ciuman yang semakin lama semakin dalam, membuat dada Deanda berdetak keras. Kali ini dalam kondisi sadar sepenuhnya, Deanda bisa merasakan bagaimana Alvero mengeksplore setiap inchi dari bibir dan mulutnya, mengabsen setiap giginya yang tersusun rapi dengan lidahnya.
Entah sejak kapan, tapi Deanda merasa Alvero yang ada di depannya sudah seperti seorang yang mengerti bagaimana memanjakannya dan membuat hasratnya ikut terpancing seperti Alvero. Ciuman dari Alvero yang menuntut dan panas sudah cukup membuat dada Deanda seakan meledak, namun sepertinya Alvero tidak merasa puas hanya dengan ciuman panas mereka di bibir. Tangan Alvero mulai bergerak ke balik pakaian berkuda Deanda, berencana mengelus kulit punggung Deanda.
Namun karena pakaian berkuda Deanda yang sempit, menyulitkan tangannya untuk bergerak masuk ke balik pakaian itu, sehingga dengan gerakan pelan, Alvero menggeser tangannya ke depan tanpa lupa memberikan elusan lembut ke tubuh Deanda saat tangannya bergerak dari arah punggung Deanda sampai ke bagian dada Deanda. Dengan bibir masih me..lum..mat bibir istrinya, tangan Alvero bergerak mencari slider dari pakaian Deanda untuk membuka ritlseting pakaian ketat itu.
Saat Alvero menemukan slider itu, tangannya hampir saja bergerak menarik silder itu ke bawah, namun tangan Deanda dengan cepat meraih tangan Alvero, menahannya agar tidak melanjutkan rencananya. Melihat penolakan dari Deanda, Alvero sedikit tersentak, tapi begitu menyadari Deanda tetap menerima ciuman bibirnya tanpa menolak, dengan cepat Alvero menggerakkan kedua tangannya ke bagian belakang tubuh Deanda dan langsung mengangkat tubuh itu dan berjalan ke arah salah satu pintu kamar yang berada di salah sisi ruangan rumah kayu itu. Kamar yang selama ini selalu menjadi kamarnya saat dia berkunjung di rumah kayu itu, tepat di sebelah kamar yang biasa digunakan oleh Enzo.
Begitu Deanda merasakan tubuhnya terangkat di udara karena gendongan dari Alvero, dengan ragu-ragu tangan Deanda bergerak ke arah leher Alvero dan mulai mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya yang sudah membuka pintu kamarnya, menggendong tubuh Deanda tanpa sedetikpun melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Deanda.
“Swee…ty…” Dengan suara bergetar Alvero menyebutkan panggilan kesayangannya kepada Deanda, lalu dengan gerakan lembut membaringkan Deanda ke atas kasur berukuran besar yang berada di tengah-tengah ruang kamar tersebut.
__ADS_1
Sekilas mata Deanda memandangi kamar tersebut. Ukuran kamar itu terlihat jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kamar yang biasa ditempati oleh Alvero, baik kamar Alvero yang ada di penthouse maupun di istana, namun kamar itu lebih besar dari kamar berukuran normal pada umumnya. Dan walaupun tanpa pendingin ruangan, kamar itu terasa sejuk dan nyaman. Hampir seluruh perabotan dan hiasan yang ada di kamar itu terbuat dari kayu, tentu saja tidak termasuk kasur empuk dimana Deanda sedang terbaring di sana sekarang.
Ah, bagaimana dalam kondisi seperti ini pikiranku justru memikirkan tentang kamar ini. Fokus Deanda! kamu sendang bersama yang mulia saat ini. Bersama suamimu, dan kamu harus melalukan yang terbaik siang ini. Menunjukkan bahwa kamu bisa melayani suamimu dengan baik. Menjadi istri yang sempurna bagi yang mulia tanpa harus menunggu untuk mengumpulkan keberanianmu dalam pengaruh alkohol.
Deanda berkata dalam hati sambil menelan ludah dan berusaha memberanikan diri memandang ke arah Alvero yang sudah berada di atasnya, dengan tatapan matanya yang tidak bisa menyembunyikan hasrat dalam dirinya. Alvero sengaja menahan tubuhnya dengan kedua lututnya dan kedua telapak tangannya menumpu pada tempat tidur, sehingga jarak tubuh diantara mereka masih cukup jauh saat ini. Kedua kaki Deanda yang berada di antara kaki Alvero yang sedang menumpu di atas kasur dari lutut sampai bagian depan betisnya terasa kaku karena saat ini Deanda merasa begitu tegang, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, bagaimana cara dia bersikap dan bertindak di hadapan Alvero.
Dengan gerakan pelan namun pasti, Alvero mulai menggerakkan tangannya untuk mengelus lembut rambut di bagian samping kepala Deanda, dan terus bergerak ke arah telinga, leher, dan berhenti sebentar di bagian dada Deanda, kembali meraih slider pakaian Deanda dan menggerakkannya ke bawah, sehingga sedikit demi sedikit sambil menunggu reaksi Deanda. Melihat kali ini tidak ada penolakan dari Deanda, dengan senyum bahagia Alvero memandangi wajah gelisah Deanda yang berada di bawah kungkungan kaki dan tangannya.
“Sweety… hari ini kamu tidak dalam keadaan mabuk, tapi… bisakah kita mengulang kembali yang sudah terjadi kemarin malam?” Alvero bertanya sambil memandang ke arah Deanda yang wajahnya tampak kikuk dan terlihat kembali menelan ludahnya, namun dengan gerakan perlahan dan malu-malu, akhirnya Deanda mengangguk pelan, membuat perasaan Alvero seolah melayang ke langit ke tujuh karena merasa sangat bahagia dengan jawaban Deanda.
Melihat jawaban Deanda, tangan Alvero kembali menggerakkan slider ritsleting pakaian Deanda sampai ke ujung sehingga ritsleting pakaian itu terbuka sempurna, menunjukkan bagian depan tubuh Deanda yang terlihat begitu sempurna dan menggoda bagi Alvero yang sebelum bersama Deanda kemarin malam belum pernah melihat keindahan bentuk ciptaan Tuhan yang saat ini kembali terpampang di hadapannya itu. Alvero harus menelan ludah dengan susah payah karena hasrat dan gairah yang menyergap tubuh dan pikirannya semakin menggebu, apalagi Deanda tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penolakan.
__ADS_1