
“Siapa yang berani mengatakan itu padamu? Mendapatkanmu sebagai permaisuriku adalah sebuah keberuntungan besar untukku, dan memiliki permaisuri yang begitu hebat, itu bonus untukku.” Selesai menyelesaikan kata-katanya, tanpa ragu tangan Alvero langsung meraih tengkuk Deanda dan membawa kepala Deanda mendekat ke arahnya, lalu mencium bibir Deanda dengan mesra, di bangku penumpang, tanpa perduli dengan keberadaan Ernest.
Ernest hanya bisa menahan nafasnya dan berusaha untuk tidak lagi melirik ke arah spion begitu menyadari apa yang sedang dilakukan raja dan permaisurinya di bangku penumpang.
Lagi-lagi yang mulia melupakan bahwa aku masih berada di dalam satu mobil dengannya. Sepertinya, aku harus mulai memikirkan perintah dari yang mulia agar segera menikah. Tapi memangnya semudah itu mendapatkan calon istri sebaik permaisuri? Yang mulia sungguh beruntung.... Hah....
Ernest berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, dan berusaha untuk tetap fokus melihat ke arah jalanan yang ada di depannya.
# # # # # # #
"Yang Mulia... Erich sudah memberikan info bahwa saat ini nona Alaya sedang berada di sebuah restoran di pantai Renhill." Ernest berkata tanpa berani menoleh ek arah belakang, merasa khawatir kalau-kalau dia harus melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat, kemesraan antara Alvero dan Deanda, yang kadang membuatnya merasa dalam posisi tidak enak dan menyebabkan dia salah tingkah, tidak tahu bagaimana harus bersikap.
"Ini belum waktunya makan siang, berarti gadis itu sengaja datang ke sana kemungkinan besar untuk bertemu dan melakukan pembicaraan dengan seseorang." Alvero berkata setelah melirik ke arah jam di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 10 pagi.
"Kalau begitu, kita langsung kesana saja Ernest. Aku tidak mau terlalu banyak membuang waktu. Yang mulia Vincent pasti sedang menunggu berita dariku." Alvero berkata sambil membuka layar di handphonenya, lalu melakukan panggilan kepada Enzo.
"Hallo. Sebenarnya apa yang sudah terjadi Alvero? Kenapa sejak semalam tekanan darah uncle Vincent cenderung tinggi? Dan sepertinya dia mengalami kesulitan untuk tidur?" Begitu Enzo menerima panggilan dari Alvero, sebuah omelan panjang langsung keluar dari bibir Enzo dengan anda terlihat khawatir.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada papa Enzo? Apa kondisinya buruk? Apa dokter sudah kamu hubungi?" Bukannya menjawab pertanyaan Enzo, Alvero justru balik bertanya kepada Enzo, membuat Enzo yang sedang berada di bagian halam,an villanya menahan nafasnya.
Enzo yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Alvero menahan nafasnya sambil kepalanya sedikit mendongak ke atas dan salah satu tangannya yang tidak memegang handphone, dimasukkannya ke dalam kantong celananya.
"Alvero, semua sudah ditangani dengan baik oleh dokter. Obat juga sudah diberikan untuk uncle Vincent. Tapi kamu tahu, kondisi uncle kali ini pasti karena dia sedang memikirkan sesuatu. Kita harus mencari akar masalahnya supaya bisa menyelesaikannya dengan cepat, sehingga kesehatan uncle tidak terganggu." Enzo mengomel dengan kening berkerut, menunjukkan dia sedang mengkhawatirkan kondisi kesehatan Vincent.
"Pikiran papa memang sedang tidak tenang. Saat ini, aku dan Deanda sedang dalam perjalanan ke Renhill. Kami sedang berusaha untuk menyeleseikan masalah dengan papa. Tenang saja Enzo, semua akan baik-baik, sekarang kamu hanya perlu mengajak papa mengobrol agar pikiran papa sedikit teralihkan." Alvero berkata sambil melirik ke arah Alvero yagn sedang berbicara dengan Enzo.
"Baiklah kalau begitu. Lebih baik kalian berdua melakukannya dengan cepat. Aku tidak ingin terjdi sesuatu yang buruk pada uncle karena pikirannya yang tidak tenang." Akhirnya Enzo berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Pastilah, kami sedang berusaha yang terbaik. Enzo, apa kamu sedang berada di dekat papa? Aku harus berbicara sebentar dengannya, mungkin itu bisa membuatnya lebih tenang." Mendengar perkataan Alvero, dengan cepat Enzo bergegas untuk masuk kembali ke dalam villa.
"Uncle..." Vincent yang sedang membaca berita melalui tablet di tangannya langsung mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah pintu kamar, begitu mendengar panggilan dari Enzo.
"Uncle, Alvero menelpon." Enzo langsung menyodorkan handphonenya kepada Vincent begitu dia mendekat ke arah Vincent, yang langsng menerimanya dengan wajah terlihat begitu penasaran, tidak sabar menunggu berita apa yang akan disampaikan oleh Alvero kepadanya.
"Ya nak, apa kamu sudah bertemu gadis itu? Apa kamu sudah sempat berbicara padanya secara pribadi dan menanyakan tentang liontin itu?" Dengan nada suara terdengar begitu tidak sabar, Vincent langsung menanyakan masalah Alaya kepada Alvero.
__ADS_1
Enzo yang berdiri di samping Vincent hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka tanpa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan sekarang.
"Pagi ini tadi aku dan Deanda bermaksud menemui Alaya di temapt kerjanya, tapi ternyata gadis itu tidak masuk kerja dengan alasan pergi ke Renhill menemui kerabatnya. Aku sudah mengetahui lokasi dimana Alaya berada, kami sedang berada dalam perjalanan menuju tempat itu. Tapi aku minta Papa tenang dan tetap jaga emosi Papa. Aku dengar dari Enzo, tekanan darah Papa naik sejak semalam." Vincent langsung menoleh ke arah Enzo begitu mendengar perkataan Alvero.
Enzo yang bisa mendengar perkataan Alvero dengan lamat-lamat dari seberang sana langsung mengalihkan wajahnya dari jangkauan tatapan mata Vincent, yang akhirnya hanya bisa menahan nafasnya sebentar, antara geli karena Enzo dianggapnya sebagai tukang lapor, tapi di sisi lain Vincent merasa senang melihat bagaimana dekatnya hubungan antara Enzo dan Alvero.
Bahkan kedekatan antara Enzo dan Alvero kadang membuat Vincent merasa sedih, melihat bagaimana hubungan Dion dan Alvero yang tidak pernah akur, padahal secara ikatan darah, harusnya Dion dan Alvero lebih dekat dibandingkan dengan Alvero dan Enzo.
"Pa... apa Papa masih di sana?" Alvero bertanya setelah beberapa lama Vincent terdiam tanpa menanggapi perkataan Alvero sebelumnya.
"Eh, ya nak. Papa masih mendengarkan. Ya, Papa ikuti saja rencanamu. Aku akan menunggu dengan sabar kabar darimu. Aku harap semuanya bisa berjalan dengan baik." Vincent berkata sambil meletakkan tablet yang tadi ada di pangkuannya ke atas meja yang ada di depannya.
"Jangan khawatir Pa. Aku harap siang ini juga kita bisa menyelesaikan masalah. Kalau begitu, aku akan tutup teleponnya. Papa harus tetap menjaga kesehatan Papa. Ada banyak hal yang belum kita lakukan bersama. Setelah Papa sehat, aku mau kita menghabiskan waktu bersama untuk berlibur." Alvero berkata sambil tersenyum, membayangkan bagaimana bahagianya dia jika harapannya barusan bisa terwujud ke depannya.
Rasanya sejak hubungannya dan Vincent membaik, Alvero ingin membayar waktu-waktu yang dulu sudah hilang bersama Vincent, karena keberadaan Eliana yang membuat hubungan Alvero dan Vincent tidak bisa sehangat seperti layaknya hubungan antara ayah dan anak.
__ADS_1