
Melihat Tindakan Alvero, mata Deanda langsung terbeliak, apalagi setelah itu Alvero langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Deanda yang dalam posisi duduk di atas meja dengan kedua kaki menggantung. Alvero langsung meletakkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri tubuh Deanda, menekan kedua telapak tangannya ke atas meja itu. Setelah itu dengan cepat dan tanpa diduga oleh Deanda, wajah Alvero langsung mendekati wajah Deanda sambal mencium bibir Deanda dengan mesra.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu. Berjanjilah satu hal padaku, jangan kecewa dan jangan sampai apa yang akan aku katakan padamu mempengaruhi hubungan kita.” Mendengar permintaan Alvero yang diucapkannya dengan nada serius, dengan bibirnya sudah melepaskan ciumannya tapi masih membiarkan bibirnya menempel di bibir Deanda membuat Deanda langsung mengerti bahwa apa yang akan didengarnya dari bibir Alvero ke depan bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
“Baiklah, aku berjanji padamu my Al.” Alvero langsung tersenyum mendengar janji yang diucapkan oleh Deanda, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa istrinya merupakan sosok wanita dengan kerpibadian kuat dan tangguh, bukan wanita rapuh apalagi cengeng, dan semuanya akan baik-baik saja karena sebagai suami dia akan selalu mendukung Deanda dengan sepenuh hatinya.
“Sekarang, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada papa Alexis di masa lalu?” Deanda melanjutkan bicaranya, membuat Alvero kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Deanda.
“Terus terang sejak awal aku memutuskan untuk memilihmu sebagai calon istriku, Erich banyak melakukan penyelidikan tentang latar belakang keluargamu, termasuk tentang papa Alexis Federer. Beberapa informasi di perpustakaan istana banyak menceritakan tentang bagaimana sepak terjang papa Alexis yang banyak membantu pemerintahan dalam membasmi para pemberontak maupun para pelaku kejahatan. Namun, di satu sisi, ada satu hal yang membuat kami merasa aneh, kenapa tiba-tiba disebutkan bahwa papa Alexis keluar dari tim pengawal ekslusif kerajaan dan gelar knight yang dimilikinya dicabut.” Deanda menarik nafas panjang mendengar itu.
“Semua yang kamu ceritakan itu, aku sudah pernah mendengarnya dari Red. Bahkan Red dan uncle Marcello saat itu ikut keluar dari tim pengawal eksklusif kerajaan mengikuti papa.” Deanda berkata sambil sedikit mendongakkan kepalanya.
“Hanya saja, sampai saat ini baik uncle Marcello maupun Red tidak pernah menceritakan kepadaku alasan dari pencabutan gelar knight dari papa. Apakah kamu dan Erich tidak tahu juga apa alasan dibalik pencabutan gelar itu? Setahuku kecuali karena pengkhianatan atau kesalahan fatal yang diperbuatnya, tidak mungkin raja mencabut gelar orang itu, apalagi seperti yang sudah kamu katakan, sebenarnya papa memiliki banyak jasa dalam membantu papa Vincent selama bekerja sebagai kepala pengawal ekslusif kerajaan.” Deanda berkata dengan wajah terlihat jelas merasa begitu penasaran dengan alasan yang sebenarnya kenapa gelar knight papanya dicabut saat itu, kesalahan besar apa yang sudah diperbuat papanya waktu itu.
__ADS_1
“Setahuku semua sejarah tentang orang-orang yang pernah berperan penting dalam pemerintahan, termasuk kehidupan para bangsawan semua tertulis di buku sejarah yang ada di perpustakan istana. Apa itu benar? Kalau begitu di sana pasti dituliskan alasan kenapa papa Alexis dicabut gelarnya.” Alvero hanya bisa terdiam mendengar bagaimana Deanda bisa tahu tentang proses dan aturan-aturan penting yang ada di istana.
Walaupun kamu sering mengeluh tentang pembelajaran yang harus kamu ikuti setelah kamu masuk ke istana, pada kenyataannya kecerdasan yang kamu miliki tetap membuatmu menguasai dengan baik apa yang sudah kamu pelajari.
Alvero berkata dalam hati sambil tersenyum ke arah istrinya, dielusnya lembut rambut Deanda dengan tangan kanannya.
“Kamu benar-benar sudah banyak mengetahui dan menguasai aturan yang ada di istana. Apa yang kamu katakana semuanya benar. Tapi tentang alasan pencabutan gelar papa Alexis, kami tidak bisa menemukannya. Di perpustakaan istana, ada satu ruangan dimana hanya bisa diakses oleh raja Gracetian. Semua informasi yang tidak bisa kamu dapatkan di perpustakaan istana, kamu bisa mendapatkannya di ruang perpustakaan dengan akses khusus oleh raja. Sebelum aku menjadi raja, akupun tidak memiliki akses kesana. Begitu aku mendapatkan akses kesana, aku memerintahkan Erich untuk melakukan penyelidikan informasi tentang papa Alexis yang tidak bisa kami temukan di perpustakaan istana.” Alvero terdiam sejenak sebelum melanjutkan bicaranya.
“Dan…?” Deanda bertanya dengan nada lirih, dadanya tiba-tiba saja berdegup kencang, berusaha menyiapkan hati dengan baik untuk apa yang akan didengar selanjutnya dari bibir Alvero.
Tubuh Deanda langsung tersentak kaget mendengar penjelasan Alvero. Walaupun Deanda sudah menyiapkan diri, baginya sungguh mengejutkan dan tidak masuk akal, papanya yang dikenalnya begitu baik dan menyayangi keluarga mampu melakukan tindakan serendah dan sekurang ajar itu, apalagi terhadap seorang Eliana yang waktu itu berada di posisi sebagai permaisuri Gracetian.
“Aku… tidak percaya… papaku tidak akan mungkin melakukan hal memalukan seperti itu.” Deanda berkata sambil melompat turun dari atas meja.
__ADS_1
“Tenanglah sweeety… aku juga tidak percaya tentang hal itu.” Alvero berkata sambil kedua tangannya merengkuh tubuh Deanda dan menariknya dalam pelukannya.
“Karena itu kami berencana menyelidikinya malam ini.” Alvero berkata sambil mengelus-elus lembut bagian belakang kepala Deanda, mencoba menenangkan perasaan istrinya yang Alvero yakin saat ini pasti sedang bergejolak karena apa yang baru saja didengarnya tentang Alexis.
“Karena itu aku ingin kamu tinggal di istana, biar aku dan yang lain mengurus masalah ini.” Selesai mengucapkan permintaannya, Alvero melepaskan pelukannya kepada Deanda, dengan kedua tangannya memegang kedua lengan tangan Deanda.
“My Al… ijinkan aku untuk ikut denganmu. Aku juga ingin tahu apa saja yang sudah dituliskan dalam buku sejarah istana tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh papa. Dari sana semua orang awam yang tidak mengertipun pasti akan bisa menilai orang seperti apa papa.” Mendengar perkataan Deanda, Alvero hanya bisa mengangguk, karena dari wajahnya terlihat jelas Deanda tidak mengharapkan adanya penolakan darinya.
“Baiklah, tapi berjanjilah padaku agar kamu tidak terbawa emosi. Tetaplah tenang. Membuat keputusan dalam kondisi marah tidak akan menghasilkan sebuah keputusan yang baik.” Kata-kata Alvero tanpa sadar membuat Deanda sedikit tersenyum geli.
“My Al… maaf… tapi sepertinya kata-kata itu… lebih tepat jika ditujukan untukmu.” Deanda berkata dengan senyum masih tersungging di wajahnya, membuat Alvero sedikit terbeliak.
“Ist…” Alvero hanya bisa mendesis pelan mendengar perkataan Deanda yang memang ada benarnya. Di sini, dia adalah orang yang kadang sulit mengendalikan emosinya, berbeda jauh dengan Deanda yang selalu menjadi seorang yang pemaaf dan sabar.
__ADS_1
“Tampaknya sekarang aku memiliki seseorang yang begitu mengenal dan tahu pasti tentang aku.” Alvero berkata pelan sambil mengacak rambut Deanda.
“Kalau begitu kita segera pergi ke hotel Enzo sekarang. Nanti malam kita menginap di sana saja, anggap saja kita berbulan madu di hotel malam ini.” Alvero berkata sambil matanya menatap ke arah Deanda dengan tatapan menggoda, membuat wajah Deanda memerah karena mengingat bagaimana tadi Alvero meminta lagi jatahnya untuk malam ini, dan sepertinya malam ini akan sulit baginya untuk tidak memenuhi permintaan Alvero, apalagi Deanda sadar baru saja dia dengan sengaja menggoda Alvero agar suaminya memenuhi permintaannya untuk menjawab pertanyaan tentang Alexis dan bersedia mengajaknya bergabung menemui yang lain di hotel milik Enzo.