BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
SELALU MENCARI KESEMPATAN


__ADS_3

Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+++. Mohon bijak dalam memilih bacaan, untuk pembaca yang masih di bawah umur, agar skip episode ini.


Deanda baru saja melepaskan pakaian yang dikenakannya dengan gerakan canggung dan ragu-ragu seolah tatapan mata Alvero yang ada di belakangnya adalah anak panah yang sudah ditarik di dalam busur dan siap meluncur ke arahnya. Menyadari bahwa saat ini tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalam, Deanda menahan nafasnya dengan dada yang mulai bergetar, sadar bahwa di belakang sana sepasang mata hazel pasti sedang mengamati apa yang sedang dilakukannya.


Dengan gerakan cepat agar rasa cangung tidak terlalu lama menderanya, tangan Deanda menarik gaun putih tulang yang tadi sudah dilepasnya dari gantungan. Namun, baru saja Deanda memasukkan kedua kakinya di dalam gaun itu ketika dirasakannya sebuah tangan dengan lembut mengelus kulit punggungnya yang putih bersih dengan buku-buku jari-jarinya. Dan Deanda tahu pasti siapa yang sedang melakukan itu pada punggungnya, membuat jantung dalam dadanya secara otomatis melakukan konser di dalam sana dengan berdetak dengan begitu cepat.


Melihat tubuh Deanda yang langsung tersentak dan menjadi tegang ketika jari-jarinya menyentuh permukaan kulit punggungnya membuat Alvero tersenyum, merasa bangga bagaimana dia selalu berhasil membuat tubuh Deanda bereaksi saat dia menyentuh tubuh istrinya itu. Hal yang sama yang selalu dialami Alvero saat dirinya berada di dekat sosok Deanda.


Selalu saja menggemaskan, bagaimana aku bisa bertahan dalam diam saat berada di dekatmu, sedang keberadaanmu seolah selalu memanggil-manggil tubuhku untuk mendekat ke arahmu, menyentuhmu, mengelusmu, menciummu... Bagaimana aku bisa menahan diriku jika keberadaanmu selalu menarikku untuk mendekat ke arahmu seperti magnet, dan selalu berhasil membuat hasrat dan gairahku terpancing.


Alvero berkata dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya, dengan tangan yang bergerak dari punggung Deanda, turun ke bawah dengan tetap mengelus kulit tubuh Deanda, setelah itu kedua tangannya bergerak ke bagian depan tubuh Deanda. Tangan kiri Alvero memeluk tubuh Deanda dari arah belakang dengan erat, sedang tangan kanannya bergerak mengelus dan memijat bagian tubuh Deanda yang hanya tertutup bra, dengan jari-jarinya mulai menelusup masuk ke dalam sana.


Dengan gerakan ragu, tangan kiri Deanda bergerak ke arah tangan kanan Alvero, berusaha menghentikan gerakan tangan itu, tetapi dengan gerakan cepat namun lembut Alvero justru menahan tangan Deanda yang berusaha menghalangi tangannya untuk terus bergerak mengelus tubuh istrinya, bahkan tangan kiri Alvero yang awalnya diam dengan memeluk pinggang Deanda saat ini ikut bergerak dengan melakukan elusan lembut pada bagian perut rata Deanda, membuat tubuh Deanda bergetar pelan, seolah dialiri aliran listrik karena perbuatan Alvero.


"My Al... aku harus segera mengenakan gaunku." Deanda berkata lirih sambi berusaha keras menahan getaran pada tubuhnya dengan menahan nafasnya, apalagi bukan hanya kedua tangan Alvero yang terus mengelus dan memijat bagian-bagian tubuhnya, namun hidung dan bibir Alvero sekarang ikut sibuk mencumbuinya di daerah leher dan tengkuknya.

__ADS_1


"Biarkan aku yang membantumu mengenakan gaunmu." Tanpa menghentikan gerakan bibir dan hidungnya yang terus menciumi leher dan tengkuk Deanda, tangan kanan Alvero meraih gaun yang bagian atasnya masih dipegang erat oleh tangan kanan Deanda.


Dengan gerakan lembut Alvero menarik gaun itu agar menutupi tubuh istrinya sedikit demi sedikit, walaupun sambil menarik gaun itu sesekali tangan Alvero tetap melakukan gerakan mengelus beberapa bagian tubuh istrinya, terutama bagian-bagian yang Alvero tahu itu adalah bagian sensitif bagi istrinya, membuat mau tidak mau Deanda hampir saja mengeluarkan suara desahan dan lenguhan dari bibirnya. Namun dengan sekuat tenaga Deanda berusaha menahannya.


Deanda tahu jika saja dia membiarkan suara desahan ataupun lenguhannya terdengar oleh telinga Alvero, Deanda yakin laki-laki itu tidak akan menahan dirinya lagi untuk membawanya ke atas tempat tidur dan tidak lagi ingat tentang acara ulang tahun Enzo. Sedikit banyak sejak mereka menikah dan melakukan hal intim bersama Alvero, Deanda mulai tahu apa yang bisa membuat gairah suaminya itu terpancing dengan mudah, termasuk suara desahan dari bibirnya yang akan langsung membuat Alvero menggila dalam hasrat dan gairahnya.


Begitu Alvero selesai membantu Deanda mengenakan gaunnya, dengan gerakan lembut namun bertenaga, Alvero memegang kedua bahu Deanda yang terlihat sedikit terbuka dengan gaun yang sedang dikenakannya sekarang. Setelah itu Alvero menggerakkan bahu itu, memutar tubuh Deanda agar berbalik dan berhadap-hadapan dengannya.


Dengan tatapan lembut, mata Alvero memandang ke arah Deanda yang tubuhnya sudah berhadap-hadapan dengannya. Melihat bagaimana cara Alvero memandanginya sekarang, membuat wajah Deanda mau tidak mau sedikit memerah dan terlihat canggung.


(Gaun dapat didefinisikan sebagai salah satu item fashion yang sangat umum dikenakan oleh para wanita saat menghadiri acara-cara penting yang cenderung resmi atau bersifat formal. Dari sekian banyak model gaun yang diciptakan oleh para perancang bucana, tedapat satu jenis gaun yang cukup unik namun trendi. Gaun tersebut dikenal dengan nama one shoulder dress. One shoulder dress merupakan jenis gaun wanita yang hanya mempunyai satu lengan, bisa di bagian kanan atau bagian kiri saja. Tampilannya yang modis dan elegan menjadikan one shoulder dress tampak menawan saat dikenakan dalam acara pesta. Meski awalnya hanya diciptakan dalam ukuran pendek, namun para perancang busana kemudian mulai mengembangkan model busana tersebut dalam ukuran yang lebih panjang. Selain memberikan kesan anggun terhadap pemakaianya, one shoulder long dresss cenderung membuat pemakainya terlihat lebih feminim dan seksi. Dalam berbagai pegnhargaaan internasional seperti Grammy Awards, Golden Globe Awards, Emmy Awards, MTV Award, dan Oscar terdapat banyak sekali selebritis yang tampil memukau dalan balutan one shoulder long dress).


"Apa kamu tahu sweety.... Entah itu dari arah depan, samping, belakang... dari arah manapun, bagiku.... tubuhmu selalu tampak begitu mempesona dan mengagumkan, membuatku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya dan tidak tahan untuk tidak menyentuhnya." Alvero berkata dengan nada pelan, setelah itu dipegangnya dagu Deanda dan digerakkannya kepala Deanda agar mendongak ke arahnya, untuk kemudian dikecupnya lembut bibir Deanda.


Setelah mengecup lembut bibir istrinya, Alvero menggerakkan kepalanya untuk mendekat ke arah telinga Deanda.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang sebelum aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku." Alvero berbisik lembut di telinga Deanda, lalu di gigitnya pelan daun telinga Deanda dengan kedua bibirnya. Dan, bukan itu saja, dengan sengaja Alvero meninggalkan sebuah kecupan mesra di leher jenjang Deanda dengan bibirnya yang sedikit basah, membuat tubuh Deanda lagi-lagi tersentak kaget karena tidak menyangka mendapatkan serangan tindakan mesra dari Alvero.


Perbuatan Alvero sukses membuat Deanda menahan nafasnya sambil melipat ke dua bibirnya ke dalam, menahan bibirnya dengan giginya agar tidak mengeluarkan suara sekecil apapun dari bibirnya, yang bisa dipastikan akan dapat membuat Alvero kehilangan kendali pada dirinya sendiri. Dan saat ini bukanlah waktu yang tepat karena saat ini mereka sudah hampir kehabisan waktu untuk segera berangkat ke Pelabuhan agar dapat segera membantu Enzo memastikan pesta ulang tahunnya hari ini berjalan lancar sesuai keinginan Enzo.


"O, ya, kita harus segera berangkat.... sebelum terlambat." Dengan gugup Deanda menjauhkan dirinya dari Alvero sambil bergegas berjalan keluar dari pintu kamarnya, sampai dia tidak menyadari bahwa dia masih bertelanjang kaki, belum mengenakan sepatu di kakinya.


Beberapa saat setelah menyadari kakinya yang masih polos tanpa alas kaki, dengan sikap canggung, Deanda yang awalnya sudah hampir mendekati pintu kamar kembali berjalan dengan terburu-buru ke arah walk in closet dengan kepala tertunduk. Deanda berjalan dengan sangat cepat ke arah walk in closet, melewati sosok Alvero, tanpa berani menatap ke arah Alvero yang masih berdiri di tempatnya sambil menahan tawa gelinya melihat tingkah malu-malu dan gugup istrinya. Dan ini sudah kedua kalinya bagi Alvero melihat kebiasaan Deanda saat gugup karena tindakannya, selalu lupa terhadap apa yang akan dilakukannya, membuat Alvero semakin gemas melihat tingkah Deanda, dan justru membuat Alvero semakin suka menggoda wanita cantik itu.


Kamu membuatku tidak bisa menghentikan pikiranku untuk mencari cara bagaimana untuk dapat selalu menggodamu. Benar-benar sungguh menggemaskan.


Alvero berkata dalam hati sambil berjalan menyusul langkah-langkah istrinya untuk keluar dari penthouse mereka. Begitu Alvero berhasil menyusul Deanda, dengan gerakan cepat Alvero meraih pergelangan tangan Deanda, dan dengan lembut melingkarkan lengan Deanda ke lengannya, sedang lengan Alvero dilipat ke bagian depan perutnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2