
Alaya yang sejak melihat sosok Deanda keluar dari pintu ruangan Robert menatap ke arah Deanda langsung tersenyum begitu menyadari mata Deanda sedang menatap ke arahnya. Dan mau tidak mau Deanda membalas senyum Alaya sekilas dan langsung mempercepat langkah-langkahnya untuk keluar dari ruangan departemen R&D, yang membuatnya kembali merasakan udara panas di sekitarnya yang tiba-tiba saja membuat tubuhnya terasa begitu gerah.
"Ernest..."
"Ya Permaisuri..." Ernest langsung menjawab panggilan Deanda dan mendekat ke arahnya.
"Aku tidak ingin ke penthouse. Lebih baik kamu dan nyonya Rose menunggu yang mulia Alvero di sana. Aku akan pergi sebentar."
"Tapi permaisuri..."
"Ini sudah jam istirahat para pegawai, aku ingin makan siang bersama Clare dan Abella, juga Cleosa. Aku tidak akan pergi jauh, hanya akan ke kantin perusahaan di lantai atas." Deanda berkata sambil membuka layar handphonenya, bersiap mengundang teman-temannya untuk bertemu dan amkan siang di kantin.
"Tapi permaisuri... perintah yang mulia Alvero..." Tanpa memperdulikan perkataan Ernest, Deanda berjalan keluar dari ruangan R&D sambil menuliskan pesan kepada teman-temannya.
Melihat itu Ernest berusaha mencegah Deanda sebelum dia mendapatkan amarah dari Alvero jika di saat dia sampai di penthouse tidak menemukan istri tercintanya. Namun, baru saja Ernest berusaha menyusul langkah Deanda, tangan nyonya Rose segera menahan Ernest dengan mengarahkan lengan tangan kanannya ke dada Ernest yang langsung menghentikan langkahnya.
"Nyonya Rose..."
"Untuk siang ini, biarkan permaisuri menghibur dirinya dengan makan siang di kantin perusahaan bersama teman-temannya." Mendengar perkataan nyonya Rose, Ernest langsung mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Menghibur? Memang ada kejadian apa yang membuat permaisuri jadi sedih atau susah? Bukannya semuanya berjalan baik sejak penikahan permaisuri dengan yang mulia Alvero? Hubungan mereka juga tampak baik-baik saja. Nyonya Rose tahu kalau yang mulia Alvero begitu mencintai permaisuri." Nyonya Rose langsung melirik ke arah Ernest begitu mendengar pertanyaan Ernest.
"Aih, dasar yang mulia maupun pengawalnya sama-sama tidak mengerti apapun tentang perasaan wanita. Kamu lihat kejadian tadi Tuan Ernest? Saat tangan yang mulia Alvero bersentuhan dengan tangan nona Alaya? Apa kamu tidak melihat permaisuri yang berdiri terpaku gara-gara kejadian itu?"
Mendengar pertanyaan balik dari nyonya Rose, Ernest langsung mengernyitkan dahinya, mulai berpikir tentang apa yang sudah dilihatnya tadi.
"Tapi yang mulia Alvero kan hanya berusaha membantu nona Alaya dan pemaisuri tidak mengatakan apa-apa tentang kejadian tadi..."
"Ah sudahlah, kalian para pria memang tidak peka terhadap perasaan wanita. Kalian harus belajar bahwa wanita itu ingin dimengerti, kadang para wanita ingin kalian mengerti keinginan mereka tanpa harus mereka ucapkan melalui kata-kata, apalagi tatapan mata permaisuri Deanda yang terlihat tidak nyaman seharusnya sudah cukup untuk menyalakan alarm peringatan di pikiran yang mulia Alvero." Nyonya Rose mengomel pelan sambil berjalan mendahului Ernest, berjalan ke arah penthouse Alvero.
Begitu melihat Ernest tidak segera menyusulnya, nyonya Rose langsung menghentikan kakinya, dan menoleh ke arah belakang.
# # # # # #
Deanda hanya bisa tersenyum melihat bagaimana ketiga temannya yang sedang bersendau gurau sambil menghabiskan makan siang mereka. Paling tidak kehadiran mereka bertiga membuat hati Deanda sedikit terhibur dan melupakan tentang kejadian tadi siang antara Alvero dan Alaya.
"Jadi... apakah akhirnya Tuan Erich melihat ke arahmu?" Dengan bersemangat Abella bertanya kepada Cleosa yang hanya bisa tersenyum sambil menarik nafas dalam-dalam.
Deanda yang baru saja mendengarkan tentang bagaimana waktu acara pernikahannya, Cleosa berusaha mendekati Erich dan mengajaknya mengobrol hanya tersenyum geli mendengar percakapan tentang bagaimana sulitnya menarik perhatian Erich dan mengajaknya mengobrol.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri, Tuan Erich tidak pernah melepaskan tatapan matanya dari sosok yang mulia Alvero. Sejak dulu dia selalu menjadi pengawal terbaik yang mulia. Selalu sigap dalam kondisi apapun jika itu berkaitan dengan yang mulia Alvero. Maaf permaisuri, kalau aku tidak melihat bagaimana cara yang mulia menatapmu dengan penuh cinta, bisa-bisa kami salah paham bahwa tuan Erich memiliki hubungan khusus dengan yang mulia Alvero. Karena selama aku bekerja di sini, dimana ada yang mulia Alvero, di sana selalu ada tuan Erich." Clare yang biasanya tidak banyak bicarapun, hari ini terlihat begitu bersemangat mendengar cerita tentang bagaimana Cleosa yang begitu menyukai Erich.
Mendengar kata-kata Clare, Deanda hanya bisa menahan tawa gelinya. Jangankan Clare, diapun selama beberapa waktu sempat berpikir bahwa Alvero dan Erich adalah sepasang kekasih, melihat bagaimana dekatnya mereka dan beberapa kali Deanda menemukan mereka dalam posisi yang membuatnya salah paham.
Mengingat masa-masa sebelum dia dan Alvero menikah membuat Deanda menarik nafas dalam-dalam, dan pada akhirnya dia menyungingkan sebuah senyum di bibirnya. Ingatan tentang bagaimana Alvero sudah berusaha begitu keras untuk mendapatkan hatinya membuat Deanda harus mengakui bahwa kecemburuannya terhadap sosok Alaya tidak seharusnya terjadi.
Aku harus selalu mempercayai yang mulia. Sejak awal kami bertemu, dia tidak pernah memandang sosok wanita lain dengan tatapan selembut seperti cara dia memandangku. Dan pada kenyataannya, saat ini aku adalah istri sahnya. Aku adalah wanita yang sudah dipilihnya untuk menjadi pendampingnya. Tidak ada wanita lain yang akan bisa menggantikan posisiku selama kami saling berpegang satu sama lain dan saling mencintai.
Deanda berkata dalam hati dengan perasaan sedikit tenang. Keberadaan teman-temannya yang cukup menghibur dan keyakinan yang dia dapatkan tentang cinta Alvero kepadanya setelah mengingat banyak kejadian di masa lalu, membuat Deanda kembali percaya diri.
"Aku mencarimu ke penthouse dan ternyata kamu ada di sini." Suara lembut dari Alvero yang terdengar di telinganya, membuat Deanda tersentak kaget dan langsung menoleh, membuat tanpa sengaja bibir Deanda dan Alvero bertemu satu sama lain.
Menyadari itu, dengan cepat Deanda menjauhkan wajahnya dari wajah Alvero yang sedang mengarah ke wajahnya sambil membungkukkan tubuhnya sampai 45 derajat di samping tempat duduk Deanda. Namun sebelum Deanda benar-benar menjauhkan bibirnya, dengan cepat Alvero memberikan sebuah kecupan ringan di bibir Deanda yang wajahnya terlihat memerah karena Alvero menciumnya di depan banyak orang, termasuk teman-temannya.
Baik Cleosa, Abella dan Clare yang melihat kejadian itu segera memalingkan wajahnya, takut dianggap tidak sopan melihat kejadian antara dua pemimpin tertinggi di Gracetian di depan mereka barusan.
Beberapa detik sebelum Alvero membungkukkan tubuhnya dan berbisik ke telinga Deanda... Clare, Cleosa, Abella yang melihat sosok Alvero datang mendekat dari arah belakang tubuh Deanda sudah berencana bangkit dari duduk mereka dan memberikan salam hormat mereka kepada Alvero. Namun Alvero segera menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibirnya, memberi tanda agar ketiga teman Deanda itu tetap duduk tenang dan berpura-pura tidak melihatnya, agar dia bisa mengejutkan istrinya dengan sebuah bisikan lembut.
Awalnya Alvero tidak berencana mencium bibir Deanda, hanya mencoba menggoda Deanda dengan berbisik di telinganya. Tetapi sentuhan bibir diantara mereka membuat secara reflek Alvero langsung mengecup lembut bibir istrinya, yang dimanapun dan kapanpun selalu menggoda bagi Alvero untuk mengecupnya untuk merasakan kelembutan dan rasa manis dari bibir Deanda yang selalu berhasil membuat hatinya berdebar keras. Mengecup bibir wanita yang begitu dicintainya itu, sudah seperti candu bagi Alvero, yang sampai detik ini selalu membuat dada Alvero berdetak dengan begitu kencang. Andai saja mereka tidak berada di temapt umum, Alvero tidak yakin dia dapat mengendalikan dirinya untuk idak memberikan ciuman penuh gairah kepada Deanda.
__ADS_1