
"Pangeran Enzo seorang pria yang baik, pasti akan mendapatkan gadis yang baik juga. Aku akan berdoa agar pangeran Enzo segera menemukan jodoh pangeran Enzo." Enzo kembali tertawa tergelak mendengar perkataan Deanda yang ditujukan untuknya, sambil melirik ke arah raja Gracetian yang tatapan matanya terlihat tidak bersahabat sedang menatap ke arahnya.
"Benar-benar raja Gracetian yang galak dan pemarah ini begitu beruntung memiliki seorang permaisuri yang cantik dan baik hati sepertimu Deanda. Kalian berdua sudah seperti langit dan bumi. Tapi bagus.... tanpa langit, bumi tidak akan bisa hidup, dan tanpa bumi, langit akan kesepian. Kalian benar-benar pasangan yang serasi." Enzo berkata sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah papan catur yang ada di depannya.
"Terimakaih, entah itu pujian atau ejekan. Aku anggap kamu iri padaku karena tidak bisa secepatnya menyusulku menikah." Alvero berkata kepada Enzo sambil melirik ke arah wajah cantik istrinya.
"Hah..." Enzo menarik nafas panjang sambil memandangi papan catur sebelum akhirnya matanya bergerak kembali untuk menatap ke arah Alvero dengan serius.
"Kita mulai sekarang permainan catur kita? Deanda, kamu harus banyak-banyak berdoa jika tidak ingin suamimu kalah denganku dalam permainan catur, walaupun belum tentu doamu terkabul. Kamu mungkin sudah pernah mendengar dalam hal kepemimpinan dan bela diri suamimu adalah yang terbaik di negara ini. Namun catur? Dia tidak sehebat aku. Aku adalah grandmaster di dunia catur." Enzo berkata dengan wajahnya menunjukkan sikap percaya diri sekaligus bangga.
(Grandmaster dalam dunia permainan catur merupakan gelar tertinggi untuk orang yang diakui paling hebat dalam bermain catur).
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan kepada Alvero. Kalau raja Gracetian itu terlalu malu untuk mengakui kelebihanku, kamu bisa tanyakan kepada penghuni istana yang lain.” Enzo berkata sambil membuat suara decakan dengan bibirnya, membuat Alvero menahan nafasnya sekilas, lalu melirik ke arah Deanda yang memilih untuk mengamati papan catur di depannya tanpa menanggapi perkataan dari Enzo barusan.
__ADS_1
Begitu melihat papan catur itu pikiran Deanda sudah melayang kemana-mana, membayangkan jika dia yang sedang bermain catur dan strategi apa yang akan dia dijalankannya untuk dapat memenangkan permainan itu.
"Enzo, kamu tahu aku tidak pandai bermain catur kan. Bagaimana kalau kali ini kamu membiarkan permaisuriku membantuku?" Enzo langsung terbeliak kaget mendengar permintaan dari Alvero.
"Wahh... Alvero... kamu sepertinya sudah menyerah sebelum bertanding. Apa kamu sebegitu putus asanya untuk menghadapiku, sehingga meminta bantuan istrimu untuk bermain catur?" Enzo berkata dengan senyum mengejek menghias bibirnya.
"Kenapa? Kamu mau menolaknya? Apa kamu takut menghadapi kenyataan bahwa bisa saja permainan caturmu dikalahkan oleh seorang wanita? Apa benar begitu Enzo?" Alvero langsung membalas ejekan Enzo yang dengan cepat memanyunkan bibirnya.
"Deanda, dengar kata-kata sombong dari suamimu itu. Jangan salahkan aku jika nantinya suamimu akan urung-uringan setelah kalah dariku. Kamu harus menyiapkan diri dengan baik untuk mendengar omelan panjang darinya. Dan juga bersiap untuk menenangkannya." Mendengar kata-kata Enzo, Deanda hanya tersenyum sambil melirik ke arah Alvero yang menarik salah satu ujung bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyum yang terlihat meremehkan.
"Ah, sudahlah, kita bisa mulai sekarang. Kali ini terserah kamu mau meminta bantuan istrimu atau seluruh penghuni istana untuk melawanku bermain catur." Enzo berkata dengan nada santai sambil menggerakkan salah satu pionnya karena seperti aturan yang berlaku, siapa yang memiliki buah catur berwarna putih berhak untuk memulai permainan, dan saat ini yang bermain dengan pion berwarna putih adalah Enzo.
"Tidak perlu seisi istana. Aku hanya memerlukan bantuan istriku untuk mengalahkan kesombonganmu dalam permainan catur." Alvero berkata sambil menggerakkan satu buah caturnya setelah Enzo.
__ADS_1
# # # # # # #
"Kekuatan kita belum cukup untuk melawan istana yang beberapa waktu ini sudah dikendalikan oleh Alvero. Bahkan beberapa tahun ini saat dia masih sebagai seorang putra mahkota, dia sudah melakukan banyak hal yang boleh dikatakan seperti seorang raja karena ketidakmampuan Vincent." Eliana yang sedang berbicara dengan seorang pria di salah satu sudut istana barat hanya bisa mengepalkan tangan menyadari apa yang baru saja dikatakan oleh laki-laki itu adalah sebuah kenyataan.
"Aku sudah seringkali mengingatkanmu. Jangan pernah meremehkan Alvero, semakin hari dia semakin kuat. Seharusnya kamu tidak melewatkan kesempatan selagi dia masih belum sekuat seperti sekarang ini. Apalagi melihat bagaimana sosok permaisurinya juga bukan wanita yang bisa diremehkan. Aku sudah dengar dia memiliki kemampuan beladiri yang hebat seperti suaminya. Tidak heran karena dia keturunan si sialan Federer itu. Dia pasti juga memilki bakat pengacau seperti ayahnya. Disamping itu, dari orang-orang di perusahaan Adalvino aku mendengar dia memiliki otak yang encer. Jika dalam waktu lama mereka terus bersama, sepertinya kamu tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk menjadikan Dion raja Gracetian selanjutnya." Eliana mendengus kesal mendengar perkataan laki-laki itu, yang seolah-olah berusaha menyalahkannya karena tidak jauh-jauh hari dia menyingkirkan Alvero, padahal sudah banyak cara dia lakukan tapi selalu berakhir dengan kegagalan.
"Kamu tahu setiap usaha yang sudah aku lakukan bahkan sejak Alvero masih kecil. Jika bukan karena Alexis Federer tidak mungkin Alvero masih bisa menghirup udara saat ini! Tapi kamu tahu bagaimana Vincent begitu melindungi Alvero sejak kejadian penculikan itu. Walaupun dia hanya diam karena kelemahannya, tapi tanpa sepengetahuan kita Vincent tetap berusaha keras melindungi Alvero sehingga kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyingkirkannya! Bahkan kamu tahu bagaimana Vincent menyiapkan Erich dan Ernest secara khusus untuk selalu berada di dekat Alvero, di samping saat ini kemampuan Alvero untuk melindungi dirinya sendiri mengalami kemajuan begitu pesat beberapa tahun belakangan ini!" Eliana berkata dengan nada dipenuhi oleh emosi yang meluap begitu mengingat begitu banyaknya usaha yang sudah dilakukannya untuk menyingkirkan Alvero seringkali mengalami kegagalan, dan sebagian besar karena adanya campur tangan Alexis sebagai pimpinan pasukan ekskusif kerajaan yang bertangungjawab langsung kepada raja Vincent waktu itu.
Eliana tahu tidak ada cukup bukti yang bisa membuat Alexis ataupun Vincent menyalahkannya atas beberapa kejadian buruk yang menimpa Alvero saat dia masih kecil, namun Eliana tahu pasti bahwa Alexis cukup lama mengamati gerak-geriknya dan selalu berusaha mencari bukti agar dapat menyeretnya ke ranah hukum. Dan Eliana merasa begitu beruntung memiliki laki-laki yang sedang berdiri di depannya saat ini. Seorang laki-laki yang rela melakukan apapun untuknya, termasuk hal-hal kejam maupun kotor untuk menghilangkan jejak dan bukti keterlibatan Eliana terhadap beberapa kejadian di istana maupun perusahaan.
"Jika saat Alvero masih kecil saja kamu selalu gagal, apa yang sekarang kamu harapkan saat posisi Alvero sudah begitu kuat? Apalagi kamu lihat bagaimana dia begitu tidak menyukaimu. Aku yakin dalam waktu dekat dia akan mencari cara untuk meyingkirkanmu dari istana seperti dia sudah menyingkirkan Desya." Mendengar perkataan laki-laki itu, wajah Eliana semakin menunjukkan kemarahannya.
"Jangan hanya bisa mengkritikku dan mengingatkanku kepada semua kegagalanku. Apa menurutmu kamu memiliki pemikiran yang jauh lebih baik dari aku?" Eliana berkata dengan memukul-mukul tangannya yang terkepal ke arah tembok di belakangnya.
__ADS_1
"Saat ini jika kamu mau aman, kamu hanya memiliki dua pilihan. Lupakan untuk tetap berusaha merebut posisi raja Gracetian. Dengan kekayaan yang berhasil kamu curi dari kerajaan, kamu bahkan bisa hidup mewah seperti seorang ratu. Pilihan kedua jika kamu ingin tetap menjadikan Dion sebagai raja Gracetian, kamu harus menyingkirkan Alvero. Dan untuk menyingkirkan Alvero kamu harus pisahkan antara Alvero dan istrinya, karena wanita itu adalah kelemahan terbesar Alvero saat ini." Mendengar perkataan laki-laki itu, Eliana hanya bisa membulatkan matanya karena melotot kaget, mendengar bagaimana laki-laki itu memberinya ide tentang dua pilihan itu.