
“Yang Mulia… apakah dalam beberapa hari ini Yang Mulia ada rencana untuk pergi keluar kota? Atau Yang Mulia berencana mengunjungi yang mulia Vincent?” Begitu makan malam selesai, salah seorang paman Alvero menanyakan tentang jadwal Alvero dalam beberapa hari ke depan.
Sebelum menjawab pertanyaan dari pamannya, Alvero yang sedang membersihkan bibirnya setelah menyelesaikan makan malamnya, sedikit melirik ke arah Eliana yang tampak berpura-pura tidak perduli dengan pembicaraan itu, tapi Alvero bisa melihat dengan jelas bagaimana mata Eliana melirik tajam ke arah paman Alvero yang barusan bertanya, dengan wajah terlihat begitu fokus, menunggu Alvero menjawab pertanyaan itu.
“Aku belum ada pemikiran ke sana. Terus terang ini masih masa bulan madu antara aku dan permaisuri. Aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama permaisuri. Karena seperti kalian tahu, aku dan permaisuri belumlama saling mengenal, kami berdua masih memerlukan banyak waktu berdua untuk berinteraksi dan saling mengenal lebih dalam lagi." Alvero berkata sambil melirik dengan tatapan mesra ke arah Deanda.
Tindakan Alvero itu sukses membuat beberapa orang yang ada di meja makan itu mengulum senyum di bibir mereka, melihat bagaimana manisnya sikap Alvero terhadap istrinya. Sedang Dion dan Eliana segera mengalihkan pandangan mata mereka dari pemandangan romantis yang disuguhkan ALvero ekapda semua yang hadir di meja makan malam itu.
Eliana berusaha menyembunyikan tatapan kebenciannya, sedang Dion berusaha menyembunyikan tatapan iri dan cemburunya.
"Tapi jika uncle memiliki sesuatu yang penting dan mendesak untuk segera dilakukan, aku bisa jadwalkan ulang schedule yang sudah aku punya. Apa ada hal penting yang mau uncle sampaikan padaku?” Alvero bertanya balik kepada pamannya.
“Yang Mulia, jika berkenan, besok lusa ada undangan makan siang bersama dengan para donatur yang tergabung dalam usaha melestarikan cagar alam di beberapa daerah Gracetaian, untuk menjaga keseimbangan alam dan membantu menjadi salah satu negara yang bisa menjadi paru-paru dunia, karena berhasil menyumbangkan oksigen. Selama ini Gracetian merupakan negara panutan, keberhasilan kita dalam menjaga daerah hijau kita, yang cukup luas dibandingkan dengan negara di Eropa lainnya.” Ucapan dari salah satu anggota keluarga kerajaan yang menyampaikan undangan kepada Alvero, membuat Alvero tersenyum sambil menatap ke arah asal suara barusan.
“Aku akan aturkan waktuku dengan baik uncle. Aku akan memberitahukan kepada Ernest untuk mengingatkanku ada undangan dari uncle untuk acara besok lusa. Aku harap tidak ada halangan dan bisa ikut menghadiri acara itu.” Alvero berusaha menjawab dengan bijak permintaan dari salah satu pamannya itu, tanpa menunjukkan bahwa besok lusa dia dan Deanda tidak berada di kota Tavisha.
“Akhhh….” Suara lenguhan kecil yang tiba-tiba terdengar dari bibir Deanda membuat semua orang mengarahkan pandangan matanya kepada Deanda yang sedang meringis dengan tangan memegang perutnya, termasuk Dion dan Eliana.
__ADS_1
“Apa yang terjadi pada permaisuri?”
“Kenapa permaisuri terlihat begitu kesakitan?”
“Apa permaisuri sakit?”
"Apa ada yang salah dengan makanan hari ini?"
Beberapa suara bisikan terdengar riuh di dalam ruang makan, karena apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat Alvero berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Deanda dengan wajah terlihat begitu khawatir.
“Ada apa denganmu permaisuri? Bagian mana yang sakit? Apakah perutmu?” Alvero bertanya sambil kedua tangannya memegang kedua bahu Deanda yang masih duduk di kursinya dengan tubuh membungkuk dengan kedua tangan memegang perutnya.
“Cepat panggil dokter kerajaan!” Alvero berteriak ke arah para pengawal yang sedang berjaga di dekat pintu ruang makan istana.
“Tidak… tidak perlu Yang Mulia, mungkin aku hanya perlu beristirahat di kamar. Setelah itu mungkin bisa membaik.” Deanda berkata sambil berusaha untuk segera bangkit dari duduknya.
Dengan sigap kedua tangan Alvero segera memegang kedua lengan atas tangan Deanda, membantunya berdiri.
__ADS_1
“Aku akan permisi untuk meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Aku akan mengantar permaisuri untuk beristirahat. Selamat malam.” Alvero mengucapkan salam yang berarti juga mengakhiri acara makan malam sambil tetap memegang kedua lengan Deanda.
“Selamat malam Yang Mulia, Permaisuri.” Semua yang ada di ruang makan itu langsung ikut berdiri dan membalas salam dari Alvero.
Alvero langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab salam mereka, dan memapah Deanda keluar dari ruang makan istana, mengajak permaisurinya untuk kembali ke kamar mereka.
Dengan langkah tertatih-tatih dan tetap memegang perutnya sambil meringis, menahan sakit di perutnya, Deanda berjalan dengan dibantu oleh Alvero. Dua pengawal tampak berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Begitu sampai di dalam kamar, dan Alvero sudah menutup rapat pintu kamar mereka, Deanda langsung menarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui bibirnya, menunjukkan dia merasa begitu lega akhirnya bisa sampai di kamar kembali. Sedang Alvero yang tadinya berjalan di samping Deanda, dengan memegang kedua lengan atas Deanda dari samping hanya tersenyum kecil melihat Deanda menarik nafas panjang yang menandakan rasa leganya, setelah harus berpura-pura kesakitan di depan banyak orang.
Setelah itu, mereka berdua saling bertatapan dengan senyum terkulum di bibir mereka. Dan tidak lama kemudian, mereka berdua langsung tertawa karena merasa geli dengan apa yang baru saja mereka berdua lakukan. Sebuah akting untuk membuat orang percaya bahwa Deanda sedang mengalami sakit perut yang parah. Agar bisa menjadikan hal itu alasan untuk sementara waktu mereka tidak keluar dari kamar mereka selama beberapa hari ini.
“Aktingmu benar-benar luar biasa sweety, harusnya kamu menjadi seorang artis profesional.” Mendengar kata-kata Alvero, Deanda langsung meringis.
“Ah… Seharusnya kamu juga melihat bagaimana aktingmu juga luar biasa my Al. Terlihat begitu serius dengan wajah yang tampak benar-benar khawatir. Apa kamu tidak melihat wajah bingung mereka karena mengira aku benar-benar sakit? Dan kamu begitu khawatir?" Tawa Alvero semakin keras mendengar perkataan Deanda.
“Benar juga, aku bahkan melihat Tira yang tidak jadi makan malam di luar dengan seniornya, hampir saja berlari ke arahmu dengan wajah hampir menangis karena khawatir. Untung saja dia tidak mengikuti kita sampai ke kamar. Kalau tidak, akan sulit mengusirnya keluar dan kamu sendiri harus terpaksa melanjutkan aktingmu untuk waktu yang lama. Dan aku tidak yakin apakah kamu bisa berakting selama itu tanpa ketahuan. Melihat selama ini kamu bukan orang yang pandai untuk berpura-pura menyembunyikan emosimu.” Mendengar perkataan Alvero, Deanda hanya bisa tersenyum sambil berjalan ke arah jendela kamar mereka.
__ADS_1
Sambil kembali menarik nafas lega, tangan Deanda membuka tirai jendela yang sebenarnya sudah tertutup, lalu berdiri di balik jendela sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. Tidak lama kemudian, disusul oleh Alvero yang langsung melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Deanda, memeluk tubuh Deanda dari arah belakang.