
Begitu Deanda melangkah keluar dari lift, Dion yang bermaksud ikut keluar dari lift segera merasakan telapak tangan Alvero yang langsung mendorong dadanya dengan cukup kuat, sehingga tubuh Dion mundur ke belakang dan masuk kembali ke dalam lift.
“Kak Alve….!” Mendapat perlakuan yang bagi Dion tidak menyenangkan itu membuat Dion spontan berteriak ke arah Alvero sambil melotot tajam.
“Sudah bagus aku tidak membuatmu terkapar dan masuk rumah sakit! Jika tidak ada urusan penting denganku! Buat apa kamu datang ke lantai ini!” Alvero langsung memotong perkataan Dion dengan tidak perduli pada wajah Dion yagn memerah dengan mata yang melotot.
Dengan gerakan cepat Alvero langsung menarik pergelangan tangan Deanda dengan lembut, dan mengambil posisi berdiri tepat di depan tubuh Deanda yang menghadap ke arah Dion. Sehingga posisi tubuh Alvero saat ini berada diantara Dion dan Deanda dengan tangan menahan pintu lift agar tidak menutup secara otomatis, sampai dia menyampaikan kata-kata peringatannya kembali kepada Dion.
“Dion! Aku peringatkan ya! Ini terakhir kalinya aku melihatmu berkeliaran di area kantorku tanpa aku panggil! Apalagi berkeliaran di dekat sosok permaisuriku tanpa alasan yang jelas dan berusaha untuk menyerangnya!” Alvero berkata dengan matanya hazelnya menatap tajam ke arah Dion, menunjukkan bahwa saat ini dia benar-benar serius dan marah.
Aura kemarahan dari wajah, suara maupun tatapan Alvero membuat Dion menghembuskan nafasnya dengan kasar melalui bibir tipisnya, menahan dirinya agar tidak ikut terpancing karena kata-kata Alvero barusan.
Sial! Menyerang katanya? Bahkan dalam angan-anganku tidak pernah terpikirkan olehku untuk menyerang wanita yang begitu aku cintai dan inginkan itu! Sayang sekali saat ini aku harus menahan diriku karena belum memiliki kemampuan untuk mengalahkan kak Alvero dalam bertarung satu lawan satu. Suatu hari kelak, aku yang akan membuatmu tidak berdaya melawanku.
Dion berteriak dalam hati sambil menatap ke arah Alvero yang dengan penampakan rahangnya yang mengeras, menunjukkan dia begitu marah melihat apa yang sempat terjadi di lift antara Dion dan Deanda tadi.
Walaupun Alvero tahu bahwa tadi terlihat bagaimana Deanda yang dengan mudah akan menjatuhkan Dion jika laki-laki itu berani menyerangnya, tapi kondisi Deanda yang sedang hamil, membuat pikiran Alvero merasa tidak tenang. Apalagi dengan alasan apapun, Alvero tidak akan membiarkan seorang pria lain, untuk dapat menyentuh istrinya dengan sembarangan. Apalagi Dion yang dia tahu begitu terobsesi ingin memiliki Deanda.
Tunggu saatnya tiba dan aku akan merebut semua yang kamu miliki, termasuk permaisurimu. Dan untuk bisa mendapatkanmu, saat ini aku harus mundur terlebih dahulu. Aku akan mencoba bersabar sampai kesempatan berpihak kepadaku.
__ADS_1
Dion kembali berkata dalam hati dengan matanya sekilas melirik ke arah Deanda yang sosoknya, tertutup sebagian oleh tubuh Alvero yang sengaja berdiri diantara Dion dan Deanda, agar mata Dion tidak bisa seenaknya menikmati pemandangan cantik dari sosok istrinya.
“Tenang Kak, aku hanya ingin menyapa kakak ipar, tidak ada maksud lain.” Dion berkata dengan berusaha mengatur nada suaranya setenang mungkin di hadapan Alvero.
Sampai aku merebut posisi raja Gracetian milikmu, dan menjadikan permaisurimu sebagai permaisuriku.
Dion menyambung kata-katanya kepda Alvero dalam hati, sambil berusaha melemparkan sebuah senyuman yang bagi Alvero terlihat sungguh memuakkan. Jika tidak ingat bahwa ada darah Adalvino yang mengalir dalam tubuh Dion, rasanya Alvero ingin sekali melayangkan tinjunya ke wajah tampan adik tirinya itu.
Benar-benar gila! Bagaimana bisa aku selalu bertindak tanpa bisa berpikir panjang dan waras jika itu tentang Deanda. Wanita cantik itu sudah membuatku seperti orang mabuk yang tidak bisa berpikir jernih jika berada di dekatnya. Bahkan aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak berusaha menyentuhnya, walau hanya sekedar memegang tangannya.
Dion kembali berkata dalam hati sambil dibalasnya tatapan Alvero yang belum surut sedikitpun dari aura marahnya.
Sial! Beraninya kamu mengatakan hal menjijikkan seperti itu!
Alvero berteriak dalam hati dengan kakinya yang langsung bergerak mendekat ke arah lift.
Alvero hampir saja tetap menahan tangannya di pintu lift, rasanya dia belum puas memaki Dion, tapi tangan Deanda dengan lembut menahan tangan Alvero yang akan bergerak kembali.
Melihat bagaimana Deanda menghalangi tangan Alvero dengan cara memeluknya, membuat Dion yang melihat itu dari sela-sela pintu lift yang akhirnya menutup sempurna, langsung membuang mukanya.
__ADS_1
“Ist! Kenapa kak Alvero selalu muncul di saat yang tidak tepat! Dan kenapa Deanda Federer tidak bisa secepatnya aku miliki!” Begitu lift bergerak turun, Dion langsung memaki sambil tangannya yang terkepal memukul bodi lift, sehingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras antara tangan dan logam yang menjadi bodi dari lift pribadi Alvero.
“Dasar Dion si….” Alvero berteriak di depan pintu lift yang sudah tertutup
“My Al, tenanglah.” Deanda berkata pelan memotong teriakan Alvero, sambil menepuk-nepuk lengan Alvero yang berada dalam pelukannya, agar Alvero tidak meneruskan makiannya terhadap Dion yang sosoknya sudah menghilang di balik pintu lift.
“Benar-benar cari mati! Berani-beraninya dia berusaha menyentuhmu! Sungguh kurangajar sekali!” Alvero berkata sambil mengepalkan tangannya dengan wajah memerah karena marah.
“Dia sudah pergi. Biarkan saja. Bukankah dari dulu dia memang selalu bersikap menyebalkan dan seenaknya sendiri.” Deanda berkata sambil dengan sedikit memaksa, menarik lengan Alvero yang masih dipeluknya, memaksa agar Alvero berjalan bersamanya menjauh dari depan lift, dan mengajaknya berjalan ke arah kantor Alvero.
“Haist! Dion benar-benar merusak moodku! Aku benar-benar ingin menghajarnya sampai babak belur!” Alvero mengomel sambil meraih gelas berisi air mineral di meja kerjanya yang masih penuh dan langsung meminumnya hingga tandas, dan meletakkan kembali gelas yang telah kosong itu dengan sedikit kasar.
“My Al, apa kamu tahu kalau dia sekarang mulai mempelajari beladiri? Aku lihat dia mengalami banyak kemajuan dalam hal itu. Mestinya kamu melihat gestur tubuhnya tadi, yang menunjukkan dia memang sudah banyak berlatih untuk itu.” Mendengar pertanyaan Deanda, membuat Alvero mendengus kesal, karena itu mengingatkannya tentang alasan terbesar Dion yang sejak dulu tidak pernah tertarik dengan beladiri. Tapi kenapa dia mau bersusah payah berlatih beladiri beberapa bulan ini.
Bahkan menurut info yang didapat oleh Alvero, setiap hari sepulang kerja, sekarang Dion lebih memilih untuk berlatih beladiri tanpa perduli dnegan waktu yang biasanya dia habiskan untuk bersenang-senang dengan para wanita yang akan berakhir di tempat tidur.
__ADS_1