BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)

BUKAN CINDERELLA BIASA (Season 2)
LAGI-LAGI BUKTI BAHWA ERICH TERTARIK PADA CLEOSA


__ADS_3

“O, begitukah? Semoga saja analisamu benar my Al. Cleosa akan merasa bahagia jika mengetahui bahwa sukanya kepada Erich akan mendapatkan balasan. Walaupun mungkin untuk orang dengan tipe seperti Erich, akan membutuhkan banyak waktu dan bantuan agar dia segera mengakui perasaannya kepada Cleosa.” Deanda berkata sambil tersenyum senang, membaut Alvero ikut tersenyum.


“Ah, sebentar sweety. Aku ingat sesuatu yang harus aku lakukan tentang itu. Aku harus memastikan sesuatu untuk menambah bukti tentang perasaan Erich terhadap Cleosa.” Alvero berkata sambil mengambil handphone dari saku celananya, dan mulai melakukan panggilan dengan seseorang.


“Selamat sore Yang Mulia.” Suara di seberang sana langsung menjawab panggilan telepon dari Alvero dengan suara terdengar tegas sekaligus hormat.


“Berikan aku info tentang file data-data yang berisi informasi pribadi nona Cleosa yang diserahkan di mejaku tadi siang. Apakah Erich sudah mengembalikannya ke sana?” Alvero bertanya sambil melirik ke arah Deanda yang sedang memandang ke arahnya dengan pandangan penuh dengan tanda tanya, karena tidak mengerti tentang apa yang sedang dibicarakan oleh Alvero dengan seseorang di seberang sana.


“Maaf Yang Mulia, tapi sampai sekarang kami belum menerima data-data tersebut. Bahkan kepala keamanan yang bertugas sebelum saya, yang menyetorkannya kepada Yang Mulia mengatakan bahwa tadi siang, tuan Erich memberikan info bahwa dia masih memerlukan data-data itu sampai dua hari ke depan. Menurut pemberitahuan resmi dari shift sebelumnya, tuan erich mengatakan masih memerlukan data-data itu untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.” Alvero langsung tersenyum mendengar penjelasan dari kepala keamanan yang bertugas sore itu.


“O, begitukah?” Tanggapan singkat dari Alvero, membuat kepala keamanan itu merasa sedikit bingung, bahkan mulai khawatir dia dan rekannya sudah melakukan kesalahan dengan file data itu.


“Yang Mulia, apa ada yang salah dengan data-data itu? Haruskah kami melakukan penyelidikan ulang untuk memperkuat kebenaran tentang data itu? Atau kami harus secepatnya menghubungi tuan Erich untuk segera mengembalikan data itu?” Kepala keamanan itu segera memberikan solusi yang terbersit di pikirannya, karena dia takut mengambil keputusan yang salah sudah membiarkan Erich memegang data yang diminta oleh Alvero untuk waktu yang  sekian lama, sedangkan dari perkataan Alvero, sepertinya Alvero sudah memerintahkan agar Erich mengembalikan data itu di ruang penyimpanan arsip milik bagian keamanan.


“Tidak perlu. Biarkan saja data itu berada di tangan tuan Erich, selama apapun dia membutuhkannya. Biarkan dia sendiri yang menyelesaikan penyelidikan jika dianggap perlu. Jika dalam dua hari dia belum mengembalikannya ke departemen keamanan, berarti memang dia belum selesai melakukan penyelidikan dengan data itu. Tidak perlu memintanya dari tuan Erich. Dia pasti akan mengembalikannya saat dia selesai dengan itu.” Kepala keamanan itu langsung menarik nafas lega mendengar perkataan Alvero yang menunjukkan bahwa dia tidak melakukan kesalahan dengan membiarkan Erich memegang data itu.


“Baik Yang Mulia. Saya akan memberikan tembusan kepada kepala keamanan yang lain agar menjalankannya sesuai dengan perintah Yang Mulia.” Sebuah jawaban segera terdengar dari kepala keamanan itu.

__ADS_1


“Ok, terimakasih untuk penjelasannya. Selamat sore.”


“Selamat sore Yang Mulia.” Begitu kepala keamanan itu menanggapi salamnya, Alvero segera mematikan panggilan teleponnya, dan memandang ke arah Deanda yang sedang menatap ke arahnya dengan wajah terlihat begitu penasaran.


“Apa yang terjadi my Al? Kenapa ada pembicaraan tentang data-data pribadi Cleosa di tangan Erich?” Tanpa menjawab pertanyaan Deanda, Alvero merengkuh bahu Deanda dan mengajaknya berjalan kea rah pintu kantornya.


“Kita lanjutkan pembicaraan kita sambil berjalan sweety. Kita sudah harus kembali ke istana sekarang untuk menghadiri acara afternoon tea, agar kita tidak terlambat.” Mendengar perkataan Alvero, akhirnya Deanda terdiam sambil mengikuti langkah-langkah Alvero keluar dari kantornya.


Sepanjang mereka berjalan ke arah lift pribadi untuk menemui Erich yang sudah bersiap di dengan mobil Alvero di depan gedung perkantoran Adalvino, Alvero berusaha menjelaskan kepada Deanda dengan singkat tentang apa yang terjadi dan juga pembicaraan yang sudah dilakukan oleh Alvero bersama Erich tadi siang tentang rencananya memancing pengakuan dari Erich dengan cara menyampaikan rencananya untuk memindahkan Cleosa sebagai humas di istana.


Menyadari itu, membuat Deanda menarik nafas lega. Ke depannya, mungkin butuh perjuangan dan waktu yang tidak sebentar untuk Cleosa bisa membuat Erich mengakui perasaannya, tapi yang pasti Deanda ikut merasa bahagia karena rasa suka Cleosa terhadap Erich ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Hanya menunggu waktu sampai mereka berdua memiliki waktu dan momen yang tepat untuk saling menyatakan perasaan mereka.


Memikirkan tentang hal itu membuat tiba-tiba Deanda melingkarkan lengan kirinya ke arah pinggang Alvero, karena merasa bahagia Alvero sudah membantu temannya kali ini. Deanda merasa begitu bahagia, memiliki seorang suami yang begitu perduli terhadapnya dan teman-temannya.


Ada perasaan bangga yang memenuhi hati Deanda saat ini, yang sengaja mencuri pandang ke arah wajah suaminya yang baginya terlihat begitu tampan, bahkan semakin hari baginya tampak semakin tampan dan mempesona, membuatnya semakin mengagumi sosok laki-laki gagah yang merupakan miliknya.


“Ist… pandangan matamu sudah seperti singa yang siap menerkamku sweety. Rasanya seluruh tubuhku jadi merinding.” Alvero langsung menggoda Deanda yang dilihatnya memandanginya tanpa berkedip untuk waktu yang tidak sebentar, membuat wajah Deanda sedikit memerah dan justru menggerakkan lengan tangan kanannya untuk ikut melingkar di pinggang Alvero, sedikit bergelayut manja di sana.

__ADS_1


Sikap Deanda yang terlihat sedikit manja dengan pelukan di pinggangnya yang tiba-tiba, disertai dengan senyum manis di bibir dan wajah bahagianya, membuat Alvero langsung tersenyum membalas senyuman Deanda, sambil memperat rengkuhan lengannya di tubuh Deanda.


Dengan sikapmu yang selalu berhasil menggodaku, jangan salahkan aku jika aku akan semakin sering meminta jatahku. Apalagi sekarang sepertinya mulai keluar sikap nakalmu. Haist… benar-benar membuatku sulit untuk mengendalikan diri.


Alvero berkata dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya dan mata hazelnya melirik kea rah Deanda yang berada dalam rengkuhan tangannya.


# # # # # # #


Alvero dan Deanda baru saja memasuki kamar mereka di istana sepulang dari kantor ketika mereka melihat nyonya Rose sedang menunggu di depan pintu kamar mereka.


"Selamat sore Yang Mulia, Permaisuri...." Nyonya Rose memberikan sapaan dan juga salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda yang langsung dibalas oleh Alvero dengan tanda bahwa mereka berdua menerima salam penghormatan dari nyonya Rose.


Begitu melihat kedatangan Alvero dan Deanda, kedua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar itu, dengan sigap segera membukakan pintu itu, setelah Alvero memberikan akses sidik jarinya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2