
“Tunggu aku menyelesaikan masalah Desya sekaligus mengumpulkan kembali energiku untuk memanjakanmu.” Alvero kembali melanjutkan bicaranya yang justru membuat wajah Deanda semakin memerah dan gugup.
“Ah… sebaiknya memang kita segera kembali ke istana sekarang sebelum hari semakin sore.” Deanda mencoba berkelit, tidak menanggapi perkataan Alvero, sambil melangkah menuju kamar mandi, membuat Alvero tertawa geli.
“Sweety…. Jangan ragu meminta bantuanku jika kamu kembali mengalami kesulitan untuk mengenakan pakaian berkudamu seperti tadi pagi!” Alvero sedikit berteriak begitu melihat sosok Deanda menghilang di balik pintu dan menutup pintu kamar mandi.
Deanda yang masih dapat mendengar perkataan Alvero dengan jelas tepat sebelum masuk ke kamar mandi… begitu dia menutup pintu kamar mandi untuk beberapa saat Deanda berdiri sambil bersandar di balik pintu kamar mandi dengan senyum bahagia tersunging di wajahnya.
My Al…. I love you my Al… Thank you for your amazing love to me.
(My Al… aku mencintaimu my Al. Terimasih untuk cintamu yang luar biasa kepadaku).
Deanda berbisik pelan dalam hati sambil memegang dadanya yang berdebar keras saat dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada mereka berdua beberapa waktu ini setelah mereka menikah… apa yang sudah mereka lakukan bersama pagi tadi. Bahkan Deanda tidak percaya mereka melakukan hal seperti itu lebih dari sekali, dan itupun Deanda harus jujur mengakui bahwa dia tidak akan keberatan untuk melakukannya lagi ke depannya bersama suami yang dicintainya itu. Dan semakin hari rasanya dia semakin jatuh cinta kepada Alvero.
__ADS_1
# # # # # # #
Begitu sampai di istana, tanpa mengganti pakaian berkuda mereka, Alvero langsung melangkah ke arah ruang pertemuan keluarga istana, dimana sebelum mereka sampai di istana, Alvero sudah mengundang para anggota keluarga kerajaan penghuni istana untuk hadir di ruang pertemuan itu.
Suasana ribut tampak di dalam ruang pertemuan keluarga istana. Hampir semua yang hadir tampak berisik karena semua orang sedang saling berbicara berusaha menebak-nebak apa yang sudah terjadi sampai Alvero sebagai raja mengumpulkan mereka di tempat ini, walaupun sebenarnya mereka sudah bisa menebak karena berita tentang kejadian tadi pagi sudah tersebar samapi ke seluruh penjuru istana.
Di tempat itu hanya dua sosok orang yang tampak terlihat diam terpaku pada tempatnya dengan wajah gelisah… Desya dan Eliana.
Walaupun Desya dan Eliana tidak duduk berdampingan karena posisi duduk di ruang pertemuan keluarga istana harus sesuai urutan status dan posisi mereka sesuai tatanan hierarki kerajaan, namun mereka berdua tampak sama-sama berdiam diri. Desya yang memiliki status putri Gracetian karena Eliana menikah dengan Vincent, duduk agak jauh dari Eliana, karena di atas posisi Desya masih ada para putri dan pangeran Adalvino yang secara garis keturunan memiliki darah Adalvino, sehingga memiliki status di atas Desya.
Begitu sosok Deanda sebagai permaisuri masuk ke ruang pertemuan kelaurga bersama dengan Alvero sebagai raja Gracetian yang memiliki kekuasaan tertinggi di negara itu, semua orang langsung terdiam dan duduk tenang dalam posisinya masing-masing.
Dengan sigap Ernest menarik kursi khusus yang memang hanya diperuntukkan dan diperbolehkan untuk diduduki seorang raja Gracetian. Sedangkan untuk Deanda sendiri, salah seorang pengawal juga dengan sigap menarik sebuah kursi yang berada tepat di sebelah Alvero yang juga khusus diperuntukkan bagi seorang permaisuri kerajaan Gracetian.
__ADS_1
Setelah selesai melakukan tugasnya, baik Ernest maupun pengawal itu segera berjalan menjauh, keluar dari ruang pertemuan keluarga istana dan berdiri dengan sikap siaga di depan pintu yang sudah tertutup rapat, sehingga yang ada di ruang pertemuan keluarga istana itu hanyalah para anggota keluarga kerajaan.
“Selamat sore.”
“Selamat sore Yang Mulia.” Semua yang ada di ruangan itu langsung menjawab sapaan dari Alvero, tidak terkecuali Eliana maupun Desya yang dari wajahnya terlihat begitu gugup dan tidak berani sedikitpun memandang ke arah Alvero dan Deanda.
Walaupun undangan pertemuan sore ini dilakukan oleh Alvero tanpa memberitahukan kepada yang lain apa yang akan dibicarakan di pertemuan ini. Tapi, berita heboh tentang tragedi white angel sudah menjadi sesuatu yang diketahui oleh seluruh anggota keluarga kerajaan. Dan bagi Desya sendiri, yang sudah mendapatkan laporan dari kaki tangannya bisa menebak dengan pasti bahwa Alvero sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pelakunya, apalagi Desya sudah mendengar bahwa tim pengawal eksklusif kerajaan sendiri yang turun tangan dalam mencegah dan menggagalkan usaha orang suruhannya menculik anak dan istri petugas kandang kuda untuk dijadikan sandera.
Dari hal itu Desya tahu jelas bahwa kali ini dia tidak akan bisa berkelit dan menghindar dari hukuman apapun yang akan dijatuhkan oleh Alvero kepadanya.
“Kalian pasti sudah mendengar apa yang sudah terjadi di istal kuda pagi tadi. Ada seseorang yang berusaha mencelakai permaisuri Deanda dengan cara sengaja memberikan paku upholstery pada pelana white angel, kuda yang ditunggangi oleh permaisuri.” Mendengar perkataan Alvero, beberapa orang langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara, beberapa diantaranya terlihat diam karena merasa sungkan dengan Eliana, yang bagaimanapun pernah menjadi permaisuri Gracetian dan beberapa orang dari anggota keluarga kerajaan adalah sekutunya, orang-orang yang berpihak kepadanya secara diam-diam.
“Baiklah, hal seperti ini tidak perlu kita perpanjang lagi. Aku akan menyampaikan keputusan resmi atas apa yang sudah terjadi. Namun aku tidak mau menjadi raja yang bersikap picik, yang memberikan hukuman tanpa mau mendengarkan pembelaan dari yang bersangukutan. Putri Desya, dari saksi dan bukti-bukti yang ada kamu sudah dinyatakan sah sebagai dalang utama dari kejadian tadi pagi. Apa ada pembelaan diri yang hendak kamu sampaikan di depan semua orang yang hadir? Atau bahkan mungkin sangkalan atas tuduhan itu?” Mendengar pertanyaan Alvero yang diucapkan dengan nada tegas kepada Desya, semua orang terdiam dengan mata melirik ke arah Desya yang hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
“Yang Mulia, putri Desya hanyalah seorang gadis dengan sifatnya yang manja, dan mungkin dia juga memiliki kekurangan dalam wawasannya sehingga melakukan sesuatu yang tidak sadar akan dapat berakibat fatal.” Setelah beberapa lama Desya tetap terdiam, akhirnya Eliana berusaha mewakili Desya untuk membela diri.
“Begitukah? Manja… jika sikap manja seorang putri Gracetian dianggap sebagai bukan suatu hal biasa… apa kata rakyat jika mendengar pernyataan seperti itu sedangkan setiap sikap dan tindak tanduk seorang putri harusnya menjadi teladan bagi banyak orang? Lalu bagaimana seorang ibu suri mendidik anak gadisnya sehingga menjadikan dia seorang putri yang manja? Apa itu artinya kesalahannya pada kasus ini bisa aku timpakan kepada ibu suri? Kurang wawasan? Lalu kemana saja putri Desya selama menjalani tugasnya untuk belajar semua tata krama dan aturan penting dalam bersikap dan berbuat sebagai seorang putri Gracetian? Apa selama ini putri Desya selalu membolos saat ada pelajaran tentang itu? Atau memang dia tidak pernah serius dalam belajar?” Mendengar perkataan pedas dari Alvero, kedua tangan Eliana yang ada di pangkuannya terkepal dengan erat untuk menahan kemarahannya, karena yang dikatakan Alvero barusan selain terdengar pedas, juga menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang ibu maupun sebagai seorang ibu suri.