
Aturan baku dalam kerajaan Gracetian sangat jelas. Untuk semua orang yang memiliki status sosial yang lebih rendah, saat mereka melakukan salam penghormatan kepada seseorang yang memiliki status sosial di atasnya, hanya bisa kembali menegakkan tubuhnya dan menghentikan salam penghormatan itu jika orang yang diberi salam penghormatan itu memberi tanda bahwa salam penghormatan itu mereka terima dengan baik.
Melihat tidak ada tanda-tanda bahwa Enzo memberikan kode menerima salam penghormatannya, dengan tubuh yang sudah mulai mengigil karena kedinginan, Emilio melirik ke arah Enzo yang terlihat jelas tidak menganggap adanya keberadaannya yang sedang memberi salam penghormatan untuk waktu yang tidak sebentar.
Dengan tatapan menyelidik, Enzo memandangi Melva, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya, memastikan bahwa Melva memang dalam kondisi baik-baik saja. Bahwa Emilio belum melakukan sesuatu yang bisa membahayakan atau melukai Melva.
Hah, untung saja Melva baik-baik saja. Kalau tidak aku tidak yakin aku bsia menahan diriku untuk tidak membunuh laki-laki kurang ajar itu dan bahkan menutup bar ini untuk selamanya.
Enzo berkata dalam hati sambil menarik nafas lega melihat kondisi Melva yang baik-baik saja walaupun dari wajahnya masih terlihat jelas rasa kecewa dan kesedihannya.
“Ah syukurlah. Ini sudah malam. Aku akan segera mengantarmu pulang agar earl Robin tidak khawatir. Ini juga bukan tempat yang bagus untuk kamu kunjungi sebagai wanita baik-baik selarut ini.” Enzo berkata sambil mengelus rambut Melva dengan lembut.
Mendengar perkataan dari Enzo, tanpa memperdulikan bagaimana Emilio sedang menatap ke arah mereka berdua dengan wajah bertanya-tanya, Melva sedikit mengernyitkan dahinya. Dia ingin menerima penawaran Enzo untuk segera pulang, karena bagaimanapun bar bagi Melva bukan merupakan tempat yang bisa dikunjunginya dengan sembarangan apalagi di tengah malam seperti ini.
Akan tetapi, urusannya dengan Emilio belum berakhir sampai di sini. Rasanya hanya dengan memutuskan hubungan mereka, belum menjadi hukuman yang setimpal dengan kejahatan yang sudah dilakukan Emilio baik kepadanya maupun kepada orang lain yang sudah menjadi korban kelicikannya.
Seolah bisa membaca isi hati Melva, Enzo sedikit menarik nafasnya sebelum mulai bertindak.
__ADS_1
“Pengawal! Bawa pergi tuan Emilio sekarang juga ke kantor polisi. Dan serahkan semua bukti-bukti kejahatannya kepada pihak berwenang!”
Mendengar perintah dari Enzo, beberapa orang pengawal miliknya yang sejak tadi berjaga di depan pintu masuk ruang VIP, sedang menunggu perintah dari Enzo. Para pengawal itu sengaja dibawa oleh Enzo ke bar malam ini. Karena dia tahu, dia memerlukan mereka untuk menyelesaikan masalah Melva dan Emilio.
Dua orang pengawal langsung mendekat ke arah Emilio, berdiri di kiri kanan Emilio dan langsung menarik kedua tangan Emilio untuk menyeretknya keluar dari ruangan itu, sedang dua orang pengawal yang lain mengikuti mereka dari belakang.
“Tung… tunggu! Melva! Pangeran Enzo! Apa salahku?” Emilio berteriak sambil meronta-ronta, membuat Enzo berjalan mendekat ke arahnya, dan memberi tanda kepada kedua pengawal yang menyeretnya agar berhenti menyeretnya, namun tetap memegang dengan erat kedua lengan Emilio.
"Kenapa kalian mempermalukanku dan memperlakukanku seperti seorang penjahat hanya karena masalah wanita?" Emilio kembali berteriak keras dengan tetap meronta-ronta berharap mereka melepaskannya sebelum dia benar-benar keluar dari ruang VIP dengan kondisi hampir telanjang.
“Kamu tidak tahu apa salahmu? Melakukan penipuan untuk mendapatkan uang klaim asuransi, menjual barang seni dan barang antik palsu, menggunakan nama besar seorang earl dan countess untuk melarikan diri dari jerat hukum. Dan kesalahan terbesarmu adalah! Menipu Melva! Merampok uang Melva setiap bulannya dengan alasan untuk biaya berobat dan sekolah. Sedang ibumu… tidak lumpuh dan keponakanmu, tidak pernah mau bersekolah!” Enzo berteriak keras tepat di wajah Emilio yang hanya bisa diam tertegun dengan kepala sedikit tertunduk.
Malam ini awalnya Emilio berpikir bahwa satu-satunya kesalahannya yang diketahui Melva adalah kegilaannya terhadap tubuh wanita. Tetapi ternyata, semua hal buruk yang sudah dilakukannya, Melva sudah mengetahuinya dengan jelas.
Entah info darimana Melva mendapatkan bukti dan info tentang semua kejahatan yang pernah dilakukannya, yang pasti saat ini juga Emilio sadar bahwa kehidupan mewah dan nyamannya sudah berakhir malam ini.
“Seret dia keluar dengan segera! Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya aku bertemu dengan sampah masyarakat seperti dia!” Enzo kembali memberikan perintah kepada pengawalnya untuk kembali melanjutkan tugas mereka, membawa Emilio dengan paksa ke kantor polisi.
__ADS_1
“Eh, tung..tunggu… paling tidak biarkan aku mengenakan pakaianku!” Emilio berteriak sambil memandang ke arah pakaiannya yang tampak berserakan di depan pintu ruang VIP yang baru disewanya tadi.
Tanpa memperdulikan permintaan Dari Emilio, kedua pengawal itu tetap menyeretnya keluar hanya dengan mengenakan celana boxer. Membuat malam itu Emilio menjadi tontonan gratis bagi banyak orang yang sedang mengunjungi bar itu.
Dua pangawal Enzo yang lain, yang tidak ikut masuk ke ruang VIP pun terlihat tidak perduli dengan permintaan Emilio dan tidak berusaha membantu Emilio dengan mengambilkan pakaian Emilio kepadanya. Membiarkan pakaian itu tetap tergeletak dengan posisi berantakan di lantai.
Suara bisik-bisik maupun tawa geli dan tatapan mata aneh langsung terarah kepada Emilio yang dengan tubuh hampir telanjang dibawa paksa oleh pengawal Enzo yang memakai simbol pengawal kerajaan di pakaian mereka, membuat sebagian dari mereka mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi sampai pengawal dari istana turun tangan menangkap Emilio malam ini.
Beberapa wanita yang ada di bar itu terlihat memandang ke arah Emilio dengan tatapan kasihan, ada yang menatapnya dengan tatapan geli dan mengejek. Sedang beberapa pria tampak berdecak dengan tatapan terlihat meremehkan ke arah Emilio yang tidak dapat lagi berbuat apa-apa, hanya bisa menerima nasibnya hari ini.
Beberapa orang sengaja mengambil fotonya dan mengunggahnya di media sosial, untuk menjadi bahan pembicaraan maupun bahan lelucon. Bahkan beberapa diantara mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang serignkali menemani Emilio menghabiskan waktu di bar itu, juga orang-orang yang terbiasa mendapatkan traktiran minuman maupun wanita panggilan dari Emilio.
Melihat orang-orang yang dikenalnya, yang selama ini dianggapnya sebagai teman justru mengalihkan pandangan mereka dan membuang muka, saat mata Emilio memandang ke arah mereka dengan mimik wajah meminta pertolongan, membuat Emilio hanya bisa terdiam dengan hati bergejolak.
Menyadari bahwa orang-orang yang dianggapnya teman malam ini saat dia dalam kesulitan sengaja berpura-pura tidak mengenalnya. Sungguh kejadian yang sangat ironis bagi Emilio. Dipuja saat dia dibutuhkan dan memiliki uang, sedang saat dia terpuruk, tidak ada satupun yang menolongnya, justru mereka berlomba-lomba untuk berpura-pura tidak mengenalnya.
__ADS_1