
“Yang Mulia, sejak usia berapa kamu belajar beladiri?” Pertanyaan Deanda membuat Alvero langsung menoleh dan memandang ke arah Deanda sekilas, lalu menarik nafas dalam-dalam.
“Ketika aku masih kecil dulu, aku tidak begitu suka dengan yang namanya beladiri sampai ada satu peristiwa yang membuatku ingin berlatih beladiri dengan giat dan ingin menjadi yang terbaik di bidang itu.” Alvero berkata sambil menahan tubuhnya yang condong ke belakang, dengan kedua telapak tangannya yang menekan di lapangan rumput yang sedang didudukinya sekarang, dengan posisi kedua lengan berada di samping belakang tubuhnya.
“O, ya? Melihat bagaimana ahlinya Yang Mulia dalam hal beladiri. Aku hampir tidak percaya jika Yang Mulia sempat tidak tertarik dengan beladiri.” Penjelasan Alvero cukup membuat Deanda terkejut, karena selama ini di pikiran Deanda, sejak awal Alvero adalah orang yang begitu menyukai beladiri melihat bagaimana hebatnya Alvero dalam hal itu.
"Dari yang aku lihat dari kemampuan Yang Mulia, terlihat kalau Yang Mulia pasti sudah menghabiskan puluhan ribu jam untuk berlatih beladiri." Alvero tersenyum sambil sedikit mendongakkan kepalanya ke atas, menatap ke arah langit yang terlihat berwarna biru cerah mendengar perkataan Deanda.
"Kamu tahu bahwa selama belasan tahun, sebelum kita menikah dan kamu tidak tidur di sampingku, aku tidak pernah bisa tidur dengan baik setiap malam. Karena itu hampir setiap malam aku menghabiskan banyak waktu untuk berlatih beladiri untuk membuat tubuhku sendiri lelah. Berharap dengan begitu, saat kembali ke tempat tidurku, aku bisa tidur dengan nyenyak. Tapi, sayangnya usahaku itu tidak pernah berhasil, sampai kamu tidur di sampingku." Alvero menegakkan kepalanya kembali, lalu dipandanginya wajah Deanda dengan tatapan hangat dan penuh cinta.
Deanda membalas pandangan itu ke arah Alvero dengan tatapan memelas. Bagaimanapun, Deanda merasa begitu bangga memiliki sosok suami yang begitu ahli dalam hal beladiri. Namun, mendengar kisah di balik perjuangan Alvero untuk mengatasi penyakit insomnianya, cukup membuat hati Deanda merasa tidak nyaman dan sedih.
Ada rasa tidak rela mengetahui bahwa kehidupan Alvero sebagai sosok berkedudukan tinggi di Gracetian mengalami hal seperti itu. Apapun yang diiinginkan orang sepertinya di dunia akan dengan mudah dia dapatkan, tapi sekedar menikmati tidur nyenyak, menjadi sesuatu yang begitu sulit untuk dia dapatkan selama belasan tahun hidupnya.
"Setelah kamu hadir dalam kehidupanku dan menjadi istriku. Duniaku berubah seratus delapan puluh derajat. Ah, kamu memang seorang malaikat yang dikirim Tuhan khusus untukku. Entah bagaimana aku bisa menghabiskan sisa hidupku kalau tidak ada kamu di sisiku." Alvero berkata sambil tersenyum dan menatap mesra wajah istri yang begitu dipujanya itu.
"Mulai sekarang kamu harus memiliki waktu seimbang untuk bekerja, berlatih beladiri ataupun beristirahat." Deanda menanggapi perkataan Alvero sambil menerima kembali handphone yang disodorkan oleh Erich kepadanya.
__ADS_1
"Tenang saja Yang Mulia Permaisuri. Sekarang aku sudah memiliki seorang istri yang siap selalu mengaturkan jadwal untukku, baik jadwal yang berhubungan dengan urusan perusahaan atau kerajaan. Termasuk jadwal dimana kami berdua memiliki waktu berdua secara pribadi, dan melakukan hal-hal pribadi." Mata amber milik Deanda langsung melebar mendengar perkataan Alvero yang lagi-lagi terdengar sedang menggodanya.
Ya ampun yang mulia. selalu saja di setiap ada kesempatan berpikir untuk menggodaku. Ada banyak orang di sini. Lebih baik aku tidak menanggapi perkataan yang mulia atau aku justru akan menjadi bulan-bulanan karena godaan yang mulia.
Deanda berkata dalam hati sambil menggerakkan kedua kakinya untuk duduk bersila.
"Yang Mulia, apa acara kita setelah ini?" Deanda segera berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Alvero agar tidak semakin menjadi membahas urusan pribadi mereka di depan orang banyak.
Walaupun sebenarnya Alvero selalu mengatakannya dengan nada pelan, sehingga tidak terdengar oleh orang lain. Tapi untuk masalah wajah Deanda yang memerah dan sikap salah tingkahnya, tentu saja tidak bisa disembunyikan dari orang lain.
“Setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat, dan menceritakan sesuatu kepadamu.” Alvero berakata sambil mengingat kembali bagaimana asal mulanya dia begitu rajin berlatih beladiri.
Cerita masa lalu Alvero yang seringkali masih membuatnya memimpikan hal itu, membuat Alvero begitu ingin menemukan siapa gadis kecil yang sudah menolongnya dulu.
Alvero berharap jika dia bisa menemukan gadis kecil, yang sekarang pastinya sudah dewasa itu, Alvero ingin memberikannya tanda terimakasih dan penghargaan kepadanya. Mungkin sebuah pekerjaan atau posisi penting di istana atau perusahaan Adalvino sebagai balas budinya waktu itu, tergantung apa yang dibutuhkan gadis itu saat ini.
Aku tidak ingin terlalu lama berhutang nyawa terhadap gadis itu. Jika saja memungkinkan, aku ingin segera menemukan siapa gadi kecil yang sudah menolongku dulu. Semoga saat ini dia hidup dengan baik dan sehat sampai kami bertemu. Agar aku bisa membalas kebaikannya saat itu. Deanda juga pasti akan senang jika bisa bertemu dengan orang yang sudah menyelamatkanku dulu. Aku yakin istriku juga akan sangat berterimakasih kepadanya.
__ADS_1
Alvero berkata dalam hati sambil kembali menatap ke arah Deanda.
“Apa yang ingin Yang Mulia ceritakan padaku?” Deanda bertanya sambil melebarkan senyum di wajahnya, membuat Alvero bisa melihat bagaimana cantiknya wajah wanitanya saat tersenyum lebar seperti itu.
“Kita berangkat ke sana sekarang sebelum gelap. Di sana aku baru akan memulai ceritaku.” Alvero berkata sambil bangkit dari duduk berselonjornya di lapangan rumput itu.
Begitu Alvero bangkit berdiri, tangannya segera terulur ke arah Deanda, yang langsung meraih tangan suaminya. Dan dengan gerakan pelan tapi bertenaga, Alvero segera menarik tangan Deanda, membantu Deanda untuk bangkit berdiri.
Setelah itu, mereka berdua berjalan mendekat ke arah Marcello yang berdiri tidak jauh dari mereka, dan tampak sedang mengobrol dengan Erich sambil sesekali mereka saling tersenyum, atau bahkan saling mengernyitkan dahi mereka.
“Terimakasih untuk hari ini Uncle Marcello. Kami merasa puas dengan hasil kerja Uncle Marcello dan Red. Kami akan pamit sekarang, karena masih ada tempat yang harus kami kunjungi sore ini.” Alvero langsung berpamitan kepada Marcello begitu dia menyelesaikan istirahatnya sebentar bersama Deanda setelah pertandingan yang kembali dimenangkannya hari ini.
“Baik Yang Mulia, Permaisuri, selamat jalan. Terimakasih untuk kunjungannya hari ini. Semoga sisa hari ini menyenangkan untuk Anda berdua.” Marcello langsung menjawab perkataan Alvero sambil memberikan salam penghormatan kepada Alvero dan Deanda.
Yang walaupun statusnya sebagai keponakan, tapi karena sekarang sudah menjadi permaisuri Gracetian, dia juga harus mematuhi protokol yang ada tentang bagaimana saat orang dengan status sosial lebih rendah wajib memberikan salam penghormatan kepada orang dengan status sosial lebih tinggi.
__ADS_1