
"Info penting lain Yang Mulia, beberapa lama ini tuan Alexis mengamati pergerakan kelompok ini, dan sepertinya mereka berhubungan erat dengan beberapa kelompok mafia di Italia. Dan saya sudah sempat melakukan sedikit pembicaraan dengan duke Evan beberapa waktu lalu sebelum perintah dari Yang Mulia turun. Apa Yang Mulia ingat tentang orang dari luar negeri yang ditemui ibu suri dengan diam-diam di hotel waktu itu? Dari penyelidikan duke Evan sebelumnya, duke Evan menemukan bahwa dia adalah seorang residivis. Dan ternyata dia biasa menjadi penghubung antara konsumen yang ingin membeli senjata-senjata di pasar gelap, dengan para ketua mafia di Italia. Dia dicurigai duke Evan sebagai perantara antara kelompok pemberontak dan pemasok persenjataan illegal dari Italia, untuk kelompok pemberontak itu." Kata-kata Ernest membuat Deanda beberapa kali mengubah posisi duduknya karena merasa tidak nyaman.
(Dikutip dari Wikipedia berbahasa Inggris, Mafia merupakan sindikat kejahatan terorganisir yang kegiatan utamanya adalah pemerasan perlindungan, menengahi perselisihan antar sesama kriminal. Aktivitas utama mafia adalah meminta uang keamanan, penyelesaian sengketa antara kriminal, dan pengadaan dan pengawasan persetujuan dan transaksi ilegal. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang didirikan oleh orang-orang dari sisilia pada Abad Pertengahan untuk tujuan memberikan perlindungan illegal, pengorganisasian kejahatan berupa kesepakatan dan transaksi secara ilegal, abritase perselisihan antar kriminal, dan penegakan hukum sendiri (main hakim).. Perdagangan narkoba, senjata, pemerasan, pembunuhan, penyuapan politisi, prostitusi, hingga pencurian benda-benda seni menjadi kasus yang paling sering dilakukan oleh kelompok-kelompok mafia di sana).
Ah, kenapa masalah yang harus dihadapi oleh yang mulia terlihat begitu rumit. Para pemberontak, dan sekarang kelompok mafia? Residivis? Benar-benar membuat kepalaku sakit. Dulunya sebelum aku masuk dalam lingkaran keluarga kerajaan, aku selalu berpikir bahwa istana merupakan kumpulan orang-orang berdarah bangsawan yang selalu beusaha melakukan yang terbaik untuk rakyat Gracetian. Karena itu yang pernah aku pelajari dan lihat dari sosok yang mulia saat menjadi putra mahkota Gracetian. Aku tidak menyangka bahwa kehidupan dalam keluarga kerajaan ternyata begitu rumit sekaligus penuh intrik dan bahaya. Penuh dengan usaha saling menjatuhkan dan perebutan kekuasaan dan juga harta. Sungguh mengerikan dan membuat hati tidak tenang.
Deanda berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alvero yang justru terlihat begitu tenang, seolah-olah dia tidak menunjukkan rasa khawatir sama sekali mendengar info dari Ernest barusan.
"Sweety? Apa kamu perlu beristirahat lebih dahulu?" Mendengar pertanyaan dari Alvero karena Alvero tadi sempat melirik ke arah Danda yang terlihat gelisah, Deanda yang sedikit tidak lagi fokus terhadap pembicaraan mereka dengan Ernest langsung menoleh.
"Eh, kenapa Yang Mulia memintaku beristirahat?" Mendengar pertanyaan balik dari Deanda, Alvero langsung menepuk paha Deanda pelan.
"Pembicaraan ini sepertinya membuatmu terlalu tegang. Itu tidak akan baik untuk bayi kita." Alvero langsung jujur menyampaikan pikirannya karena dilihatnya sikap tidak tenang Deanda.
"Ah, tidak Yang Mulia. Aku baik-baik saja." Deanda merespon perkataan Alvero dengan cepat, karena jujur saja, walaupun dia merasa tidak tenang, dia sendiri merasa begitu penasaran dengan info yang disampaikan oleh Ernest.
__ADS_1
"Ok kalau kamu merasa semuanya baik-baik saja. Ernest! Lanjutkan info yang mau kamu sampaikan." Alvero berkata dengan tatapan matanya kembali fokus kepada layar handphone milik Erich.
"Duke Evan mendengar info bahwa dalam sebulan ke depan, mereka akan melakukan transaksi jual beli senjata. Tapi untuk tepatnya info masalah waktu dan tempat, duke Evan masih belum mendapatkannya secara detail." Mendengar itu, Alvero menyungingkan sebuah senyum yang menunjukkan bahwa dia cukup percaya diri untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut.
"Tenang saja, aku akan mengurus hal itu. Bagi seseorang yang aku kenal, tidak ada kelompok mafia yang tidak bertekuk lutut di hadapannya. Apalagi jika itu para mafia yang berasal dari Italia, yang merupakan daerah kekuasaannya." Mendengar perkataan Alvero, Ernest langsung menyungingkan sebuah senyum lega, sedang Deanda langsung mengernyitkan dahinya dengan wajah bertanya-tanya.
Siapa orang yang dimaksudkan oleh Yang Mulia Alvero? Apa mungkin dia adalah….
Deanda bertanya dalam hati sambil memandang ke arah Alvero yang sudah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Ernest.
"Erich! Minta Ernest untuk menjaga permaisuri selama kita pergi. Untuk kamu sendiri, persiapkan dirimu. Kemungkinan besar mala mini kita akan langsung terbang ke Italia atau Indonesia untuk pergi menemui seseorang." Alvero berkata sambil sebuah senyuman tersungging di bibir Alvero.
"Ornado Xanderson." Alvero langsung menjawab singkat pertanyaan Deanda.
"Oooo..." Hanya satu huruf dengan nada panjang yang diucapkan oleh Deanda begitu mendengar siapa orang yang dimaksud oleh Alvero, sesuai dengan tebakannya.
__ADS_1
"Yang Mulia, saya akan pergi untuk mengatur semuanya." Erich yang sudah berdiri di hadapan Alvero berakta sambil sedikit mebungkukkan tubuhnya.
"Baiklah, segera atur bersama Ernest dengan baik. Aku juga akan menghubungi Ornado untuk melakukan janji temu dengannya malam ini." Alvero berkata sambil meraih handphonenya yang tergeletak di atas meja yang ada di depannya.
"Buanosera. Come stai li Alvero? Bello sentire la tua voce." (Selamat malam. Apa kabarmu di sana Alvero? Senang bisa mendengar suaramu) Suara sapaan dari Ornado dalam bahasa Italia langsung membuat Alvero menyungingkan sebuah senyuman.
"Tentu saja kabarku baik sekali. Bagaimana dengan kamu sendiri? Kapan kamu akan mengundang kami untuk menghadiri resepsi pernikahanmu di Italia?" Alvero bertanya sambil merengkuh kepala Deanda yang sedang duduk di sampingnya, menarik kepalanya agar bersandar di bahunya sembari menunggu dia melakukan panggilan telepon dengan sahabatnya.
"Doakan saja, agar itu bisa secepatnya terjadi. Aku juga ingin secepatnya mengumumkan pada dunia tentang sosok istriku yang sebenarnya. Kamu tahu bahwa istriku belum sepenuhnya pulih dari trauma yang pernah dialaminya bertahun-tahun yang lalu. Aku harus selalu berhati-hati dalam bertindak di dekatnya agar kehadiranku tidak memperparah traumanya terhadap laki-laki. Aku tidak akan membiarkannya jauh dariku seperti 15 tahun yang lalu." Alvero menahan nafasnya mendengar apa yang baru dikatakan oleh Ornado, merasa ikut bersimpati terhadap apa yang sudah dialami oleh istri dari sahabatnya itu di masa lalu.
Kejadian buruk yang pada akhirnya membuat wanita cantik asal Asia itu memiliki trauma terhadap laki-laki, termasuk terhadap suaminya sendiri, Ornado Xanderson. Laki-laki yang sebenarnya sudah begitu mencintai wanita itu sejak mereka masih kanak-kanak dan menjadi teman sepermainan dulu.
"Ah, aku pasti akan berdoa yang terbaik untukmu. Untuk saat ini, kamu sedang berada di Italia atau Indonesia?" Alvero segera menanyakan tentang posisi keberadaan Ornado sekarang, agar dia bisa menetapkan rencana selanjutnya untuk menemui Ornado.
"Aku sedang berada di Italia sekarang. Ada sesuatu yang harus aku bereskan di sini bersama dengan Afro." Ornado berkata sambil memandang salah satu foto istrinya yang tergantung di dinding kamarnya yang ada di mansion keluarga Xanderson, dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan.
__ADS_1